SHARE THIS ARTICLE

1

Untuk lebih memahami artikel ini, mohon untuk membaca artikel sebelumnya pada Part 1.

Produksi Cannabis umumnya berlangsung selama setahun,” ujar Takayasu. “Bibitnya ditanam pada musim semi dan dipanen pada musim panas. Setelah itu batangnya kemudian dikeringkan lalu dijadikan serat. Selama musim dingin, serat ini dibuat menjadi kain dan pakaian siap pakai untuk musim tanam berikutnya.

Jika Cannabis memiliki peran besar dalam budaya dan keagamaan di Jepang, satu pertanyaan yang umum: Apakah mereka menghisapnya?

Takayasu bersama ahli Cannabis lainnya di Jepang, tidak yakin. Meskipun catatan sejarah tidak menuliskan akan adanya praktik menghisap Cannabis, beberapa ahli sejarah berspekulasi bahwa Cannabis mungkin menjadi candu pilihan bagi orang awam. Pada jaman itu beras -dan sake yang terbuat dari beras- dimonopoli oleh kalangan atas, tetapi Cannabis ditanam secara luas dan sangat mudah ditemukan.

Beberapa studi menunjukkan kadar psikoaktif Tetrahydrocannabinol (THC) dalam Cannabis yang ditanam di Jepang cukup tinggi. Menurut sebuah survey yang dipublikasikan oleh United Nation Office on Drugs and Crime pada tahun 1973, tanaman Cannabis yang berasal dari Tochigi dan Hokkaido memiliki kadar THC sebesar 3,9% dan 3,4%. Sebagai perbandingan, Marijuana Potency Monitoring Project yang terletak di University of Mississippi mencatat bahwa kadar rata-rata THC dalam Cannabis yang disita oleh polisi AS pada tahun 1970 hanya berkisar 1,5%.

Penduduk Jepang juga menggunakan Cannabis dalam ilmu pengobatannya. Cannabis sudah dikenal lama dalam ilmu pengobatan China, dan obat-obat yang dibuat dari Cannabis dijual di toko obat-obatan di Jepang untuk menyembuhkan insomnia dan sebagai penghilang rasa sakit pada awal abad 20.

Meskipun begitu, pada sekitar tahun 1940an, pada Perang Dunia II, menjadi titik balik sejarah produksi Cannabis di Jepang.

3

Pada awal dekade para petani belum terkena dampaknya. “Selama Perang Dunia II, ada ungkapan di kalangan militer bahwa tanpa Cannabis, perang ini tidak akan terjadi,” ujar Takayasu. “Cannabis kemudian diklasifikasikan sebagai material perang, dan digunakan oleh angkatan laut dalam produksi tali dan sebagai bahan dasar tali parasut pada angkatan udara. Di sini di prefektur Tochigi, sebagai contoh, sebagian tanaman Cannabis disisihkan khusus untuk militer.

Menyusul kekalahan Jepang pada 1945, pihak AS yang menduduki Jepang membawa serta sikap mereka terhadap Cannabis. Washington telah melarang Cannabis di AS pada tahun 1937 dan mulai melarangnya di Jepang. Pada Juli 1948, di mana Jepang masih diduduki oleh AS, peraturan Cannabis Control Act dijalankan dan menjadi dasar peraturan anti-Cannabis di Jepang saat ini.

Banyak teori mengenai alasan kenapa AS melarang Cannabis di Jepang. Sebagian percaya akan alasan untuk mencegah penduduk Jepang dari bahaya kecanduan narkotika, sementara yang lain percaya bahwa hal ini diadakan untuk mendongkrak penjualan amphetamine yang dijual bebas oleh AS hingga 1951. Beberapa ahli Cannabis berargumen bahwa pelarangan yang dilakukan oleh AS bertujuan untuk mematikan industri serat Cannabis Jepang dan membuka pasar untuk material buatan manusia seperti polyester dan nylon. Takayasu sendiri berpendapat bahwa pelarangan Cannabis hanya untuk melemahkan kekuatan militer Jepang.

Sama halnya dengan pelarangan Judo dan Kendo oleh militer AS. Cannabis Control Act yang dicanangkan pada tahun 1948 bertujuan untuk melemahkan militer Jepang,” ujar Takayasu. “Pada saat perang, industri Cannabis sangat dikuasai oleh militer Jepang sehingga CCA dirancang untuk melucuti kekuatannya.

Apapun alasannya, peraturan CCA menciptakan kepanikan di kalangan petani Jepang. Kaisar Hirohito sampai mengunjungi Prefektur Tochigi pada bulan yang sama CCA dicanangkan untuk menenangkan petani dan berkata bahwa mereka dapat tetap menanam Cannabis tanpa mengikuti peraturan baru. Sebuah pernyataan yang cukup mencengangkan.

Selama beberapa tahun, perkataan dan jaminan Kaisar dibuktikan dan pertanian Cannabis tetap berlangsung tanpa gangguan. Pada tahun 1950 sebagai contoh, diperkirakan ada sekitar 25.000 petani Cannabis di wilayah Jepang. Pada dekade berikutnya, jumlahnya berkurang. Takayasu mengaitkan ini dengan menurunnya permintaan Cannabis yang disebabkan oleh popularitas serat buatan dan juga peraturan baru yang mengharuskan petani Cannabis untuk memiliki ijin.

Pada saat ini, ujar Takayasu, tersisa kurang dari 60 lahan pertanian Cannabis yang bersertifikat di Jepang, dan semuanya diharuskan menanam jenis Cannabis yang memiliki kandungan THC yang sangat minim. Dengan jumlah petani yang sangat sedikit, Takayasu khawatir akan masa depan Cannabis di Jepang. Sejauh yang kita tahu, hanya ada satu orang yang mengetahui edaran pertanian dan produksi Cannabis. Orang tersebut sudah berusia 84 tahun, dan Takayasu khawatir jika orang tersebut meninggal maka pengetahuannya mengenai Cannabis akan turut hilang.

4

Berhadapan dengan ancaman punahnya budaya Cannabis, Takayasu yakin untuk menjaga kelestarian budaya ini. Ia mengatur tur tahunan ke lahan pertanian Cannabis yang legal di sekitar museumnya untuk menunjukkan kepada para pengunjung akan pembudayaan Cannabis yang membutuhkan banyak lahan tetapi tidak membutuhkan pupuk kimia. Takayasu juga menjalankan workshop bulanan yang mengajarkan orang-orang mengenai cara menenun serat Cannabis. Berbagai varian pakaian yang dibuat dari serat Cannabis dipamerkan.

Di antara penggemar museumnya sendiri terdapat anggota polisi setempat yang memuji usaha Takayasu dalam meremajakan ekonomi setempat dan kadang juga berkunjung untuk mempelajari akan “semak” terlarang ini.

Semua usaha Takayasu ini didapatkan dari tanaman istimewa yang ia temui pertama kali saat berusia 3 tahun. “Penduduk Jepang memandang Cannabis secara negatif, tetapi saya ingin mereka paham dan melindungi sejarahnya,” ujar Takayasu. “Semakin banyak yang kita pelajari dari masa lalu, maka semakin banyak petunjuk yang dapat kita peroleh agar bisa hidup lebih baik pada masa mendatang.

Source : japantimes.co.jp
COMMENT