Berita Jepang | Japanesestation.com

Seperti banyak kuil Shinto di Jepang, Kuil Kanda Tokyo memiliki jalan menuju pintu masuknya dengan deretan toko dan restoran yang menunggu untuk melayani pengunjung. Dan yang paling menarik perhatian adalah cafe kuno di sudut, tepat di sebelah gerbang torii kuil yang disebut Amanoya.

Amanoya menjual amazake, sake versi manis dan non-alkohol yang populer di kalangan anak-anak dan orang dewasa. Minuman ini juga diklaim memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan. Namun ironisnya, Amanoya yang telah berbisnis selama 175 tahun ini tidak didirikan dari rasa haus akan amazake, melainkan haus darah.

Amanoya berarti "toko Amano", dan benar saja, kisahnya dimulai dengan seorang pria bernama Shinsuke Amano. Shinsuke adalah seorang samurai yang tinggal di Provinsi Miyazu, yang sekarang Prefektur Kyoto utara, pada pertengahan 1800-an, bagian akhir dari periode Edo.

Shinsuke memiliki adik laki-laki yang juga seorang pendekar pedang, ia pindah ke Edo (sebutan Tokyo pada masa itu) untuk mendaftar di sebuah dojo dan meningkatkan keterampilan pedangnya. Sayangnya, impian itu terputus ketika dia ditebas oleh seorang pembunuh.

Ketika berita pembunuhan itu sampai ke telinga Shinsuke, ia sangat marah dan bersumpah akan membalas dendam. Jadi dia pergi ke Edo, untuk menemukan pembunuh saudaranya dan memberinya rasa sakit dari baja.

Samurai Jepang
Samurai Jepang (pakutaso.com)

Tapi kemudian ia menemui hambatan. Ini terjadi pada tahun 1846, jadi sepertinya Shinsuke tidak memiliki foto pembunuhnya untuk dicari, dan bahkan tidak jelas apakah dia memiliki petunjuk yang kuat tentang siapa pembunuhnya. Apa yang dia tahu, adalah bahwa karena Kuil Kanda adalah kuil terbesar dan terpenting di Edo, jalan menuju Kuil Kanda pasti salah satu yang tersibuk di kota.

Shinsuke memutuskan untuk mengintai di jalan dan menunggu, berfikir jika dia menunggu cukup lama, pembunuh saudaranya akan lewat. Namun, hal ini kembali menimbulkan masalah. Sementara Shinsuke datang ke Edo untuk menagih hutang yang harus dibayar dengan darah, dia membutuhkan biaya menutupi kebutuhan ekonominya sendiri, seperti makanan dan tempat tinggal, selama usahanya untuk membalas dendam. Jadi, Shinsuke mendirikan toko dan mulai menjual amazake.

Shinsuke menghabiskan hari-harinya dengan multitasking, memindai orang banyak untuk targetnya sambil menyajikan minuman kepada pelanggan. Tetapi kemudian hari-hari berubah menjadi minggu, lalu minggu ke bulan, dan bulan ke tahun.

Belakangan, Shinsuke menjadi pemilik salah satu cafe paling populer di kota, meskipun awalnya itu hanya untuk menutupi biaya balas dendamnya. Ia tidak pernah menemukan pembunuh saudara laki-lakinya, tetapi dia akhirnya menemukan seorang istri dan memulai sebuah keluarga, dan akhirnya tinggal di Edo, menjalankan cafe selama sisa hidupnya.

Amanoya, salah satu cafe terbaik di Tokyo yang ada berkat balas dendam
Amanoya, salah satu cafe terbaik di Tokyo yang ada berkat balas dendam (soranews24.com)

Amanoya masih disebut Amanoya hingga hari ini, dan menjadi salah satu cafe terbaik di Tokyo. Keluarga Amano masih memilikinya, dengan pemilik saat ini Hiromitsu Amano, menjalankan tempat itu bersama ibunya Sumiko dan bibinya Fumiko, sambil merawat putranya Tasuke yang suatu hari nanti akan mengambil alih sebagai pemilik generasi ketujuh.

Pada akhirnya, kematian saudara laki-laki Shinsuke tidak terbalas. Namun, nasib tragisnya menggerakkan rangkaian peristiwa yang telah memberikan senyuman dan kenangan indah bagi para pengunjung dan keluarganya selama hampir dua abad, dan semoga itu cukup untuk membantunya beristirahat dengan damai.

Informasi Kafe

Amanoya / 天野屋

Alamat: Tokyo-to, Chiyoda-ku, Sotokanda 2-18-15

東京都千代田区外神田2-18-15