SHARE THIS ARTICLE

Sejarah Jepang mencatat bukan cuma gaijin samurai (samurai orang asing) saja yang pernah sungguhan ada, tapi juga afro samurai (samurai kulit hitam).

Sang afro samurai dikenal dengan nama Yasuke. Yasuke memang tidak kribo seperti karakter utama manga Afro Samurai (1999), tapi dia sama-sama ahli bermain pedang – bahkan berada di bawah komando langsung Oda Nobunaga, salah satu daimyo yang tersohor.

Yasuke menginjakkan kaki di Jepang pada tahun 1579. Dia dibawa oleh pendeta Yesuit, Alessandro Valignano, untuk membantu sang pendeta mewartakan Kristen di wilayah Asia. Saat itu orang Eropa sangat biasa membawa budak dari Afrika untuk dijadikan pembantu. Tidak terekam jelas dalam sejarah siapa nama Yasuke sesungguhnya, tapi oleh orang-orang Jepang dia dipanggil sebagai Yasuke.

Postur tubuh Yasuke yang tinggi besar dan hitam legam membuatnya tampak sangat tidak biasa di antara orang Jepang. Matsudaira Ietada, sepupu Tokugawa Ieyasu (daimyo yang di kemudian hari mempersatukan Jepang), dengan penuh keheranan pernah melaporkan, “dia setinggi 6 shaku (unit pengukuran Jepang zaman dulu, kira-kira sekitar 188cm), tubuhnya hitam, dan kulitnya seperti arang.”

Penampilannya yang tidak biasa inilah yang membuat Nobunaga tertarik untuk melihat Yasuke dengan mata kepala sendiri. Pada tahun 1581, setelah memancing kehebohan di antara warga setempat karena postur tubuh yang tidak biasa, Yasuke diminta untuk datang ke kediaman Nobunaga. Sesampainya di sana, Nobunaga terheran-heran. Dia meminta Yasuke untuk menelanjangi diri dan menyuruh pelayan-pelayannya menggosok kulit Yasuke sampai bersih – lantaran Nobunaga mengira tubuh Yasuke dicat dengan tinta hitam!

Setelah gagal menggosok kulitnya sampai bersih, Nobunaga mengetahui bahwa ternyata Yasuke bisa berbahasa Jepang. Sejak itu Nobunaga terus mengobrol dengan Yasuke, dan meminta Valignano untuk memberikan Yasuke padanya.

Nobunaga tampak sangat terkesan dengan teman barunya ini. Shinchou Kouki, dokumen yang menceritakan riwayat pribadi Nobunaga, mendeskripsikan Yasuke sebagai, “tampak seperti berumur 24 atau 25 tahun, hitam seperti kerbau, sehat dan bertubuh kuat, dan punya tenaga sebesar 10 pria dewasa.”

Nobunaga sering mengajak ngobrol dan bermain shogi (semacam catur Jepang) dengan Yasuke. Nobunaga bahkan juga sesekali makan satu meja dengan Yasuke – suatu hal yang belum tentu bisa dinikmati oleh kebanyakan pengikut Nobunaga. Hingga akhirnya Yasuke pun diangkat sebagai seorang samurai. Dibanding saat masih menjadi pembantu Valignano, Yasuke hidup jauh lebih makmur di bawah perintah Nobunaga.

Lukisan abad ke-17 yang menggambarkan pendeta Yesuit dengan pembantunya. Yasuke diperkirakan juga berpenampilan seperti ini.
Lukisan abad ke-17 yang menggambarkan pendeta Yesuit dengan pembantunya. Yasuke diperkirakan juga berpenampilan seperti ini.

Tapi kemakmuran Yasuke tidak berumur lama.

Pada tahun 1582, salah satu pengikut kepercayaan Nobunaga, Akechi Mitsuhide, memberontak. Nobunaga bersama pengikut-pengikutnya yang paling setia dikepung di kuil Honno-ji. Nobunaga terbunuh, namun Yasuke berhasil melarikan diri bersama anak Nobunaga, Oda Nobutada ke Istana Nijou.

Mitsuhide segera menyusul dan menggempur Istana Nijou. Setelah bertahan bersama Nobutada selama beberapa waktu, akhirnya Yasuke menyerah kalah. Yasuke menyerahkan pedangnya pada Mitsuhide sebagai tanda bahwa dia sudah memasrahkan nyawanya pada sang penakluk.

Di luar dugaan, alih-alih menghabisi nyawanya, Mitsuhide membiarkan Yasuke hidup. Menurutnya, Yasuke bukanlah samurai dan cuma “hewan buas”. Tambah lagi, Yasuke bukan orang Jepang, jadi Mitsuhide tidak punya urusan dengannya. Mitsuhide kemudian mengirim Yasuke kembali ke pangkuan para pendeta Yesuit di Kyoto. Para pendeta yang tadinya khawatir Yasuke akan terbunuh, lega dapat melihatnya datang dengan utuh.

Semenjak itu, tidak diketahui apa yang terjadi pada Yasuke. Tidak pernah tercatat lagi ada orang Afrika yang diangkat menjadi samurai, apalagi setelah Tokugawa Ieyasu berkuasa (1603) dan Jepang memberlakukan sakoku (1633), kebijakan isolasi di Jepang selama 200 tahun.

Sources :
COMMENT