SHARE THIS ARTICLE

Selama ini apabila mendengar kata tanda tangan, maka yang terbayang dalam pikiran saya adalah sebuah coretan tangan yang dibuat dengan bentuk dan gaya tersendiri, dijadikan sebagai bukti identitas seseorang yang umumnya dibubuhkan dalam dokumen penting dan surat berharga.

Ternyata konsep mengenai tanda tangan yang selama ini saya pahami belum sepenuhnya benar, karena di Jepang saya temukan hal yang sama sekali berbeda dengan kebiasaan orang Asia pada umumnya. Bila biasanya kebanyakan orang akan menggunakan tangannya untuk membuat guratan tanda tangan, orang Jepang justru menggunakan sebuah stempel sebagai tanda tangannya.

unduhan

Stempel tanda tangan yang dalam bahasa Jepang disebut hanko ini, bertuliskan nama seseorang dalam huruf Jepang (kanji/hiragana), dan terbuat dari kayu atau plastik. Bentuk hanko ada yang bulat dan kotak, sesuai dengan peruntukan dan keinginan si pemilik tanda tangan. Hanko dengan bentuk bulat memiliki ukuran kurang lebih sebesar uang koin dua puluh lima rupiah, sementara hanko berbentuk kotak memiliki ukuran sekitar 3 x 3 cm.

Idealnya, orang Jepang akan memiliki tiga jenis hanko yang dalam bahasa Jepang disebut mitome ink, ginko ink, dan jitsuin. Perbedaan ketiganya terletak dari segi peruntukan penggunaan hanko tersebut. Mitome ink merupakan hanko yang digunakan dalam keseharian dan bersifat umum. Di antaranya untuk menandatangani tanda terima kiriman surat/barang, absensi daftar hadir, dan dokumen lainnya yang tidak terlalu penting. Ukuran hanko mitome ink adalah yang paling kecil bila dibandingkan dengan kedua jenis hanko lainnya.

Jenis hanko berikutnya adalah ginko ink, digunakan khusus untuk bertransaksi dengan bank, seperti pembukaan rekening, penarikan uang, dan pinjaman dengan jumlah yang kecil. Ginko dalam bahasa Jepang berarti bank. Ukuran hanko ini medium, yaitu lebih besar dari mitome ink, dan lebih kecil dari jitsuin.

Selanjutnya hanko yang ketiga adalah jitsuin, merupakan hanko yang digunakan untuk dokumen penting dan sangat formal. Di antaranya kontrak kerja antarperusahaan, pinjaman bank dalam jumlah besar, dan dokumen penting lainnya yang memiliki risiko hukum yang tinggi bagi si pemilik hanko.

Jitsuin dikenal sebagai hanko yang terdaftar, karena semua jitsuin harus didaftarkan di kuyakusho (ward office), kantor pemerintahan di Jepang yang kurang lebih setingkat kecamatan. Mengingat pentingnya hanko jitsuin, si pemilik biasanya akan menyimpannya dengan sangat baik di tempat yang tidak diketahui orang lain, bahkan kadang termasuk oleh anak dan istrinya. Dari sisi bentuknya, selain dalam hal ukuran, perbedaan dari ketiga jenis hanko juga terletak pada design/lay out tulisan nama si pemilik hanko, meskipun menggunakan huruf yang sama.

Tapi tidak semua orang Jepang memiliki ketiga jenis hanko tersebut, terutama hanko jitsuin, sebab sangat tergantung pada kebutuhan mereka.

Untuk memiliki hanko, semua orang dapat memesannya di toko khusus pembuat hanko, dengan masa pembuatan relatif singkat, hanya beberapa hari. Harga pembuatan hanko bervariasi, tergantung jumlah dan tingkat kesulitan hurufnya. Khusus untuk hanko mitome ink, dapat dibeli dalam bentuk sudah jadi yang dijual di beberapa toko buku dan minimarket. Namun, hanko yang dijual tersebut hanya untuk nama-nama yang umum digunakan oleh orang Jepang, seperti Takeshi, Hasegawa, Michiko, dan lainnya.

Sistem tanda tangan menggunakan hanko ini bila dicermati terlihat memiliki risiko timbulnya penyalahgunaan berupa pemalsuan hanko. Bila tanda tangan yang terbuat dari guratan tangan saja risiko pemalsuannya sudah cukup besar, apalagi bila hanya menggunakan stempel yang pembuatannya dapat dilakukan oleh siapa saja, dan di mana saja.  Tapi ternyata, hal itu tidak terjadi di Jepang. Budaya jujur yang selama ini identik dengan karakter masyarakat Jepang, menjadikan potensi risiko pemalsuan hanko menjadi sangat kecil, bahkan bisa dibilang tidak pernah terjadi.

Source : aceh.tribunnews.com
COMMENT