SHARE THIS ARTICLE

Jika kita membayangkan orang-orang tuna wisma, gambaran yang terlintas dalam pikiran kita pastilah tidak akan menyenangkan. Orang-orang berpandangan bahwa para tuna wisma ini adalah orang-orang yang brutal, dan menjadi seorang tuna wisma bukanlah sesuatu yang diinginkan sebagian besar orang. Namun, ketika kebanyakan tuna wisma tidak “memilih” nasib mereka, beberapa tuna wisma di Jepang bisa menghasilkan “gaji” tahunan yang benar-benar bisa diandalkan.

homeless1

Jika kamu berkeliling di sekitar kota-kota besar di Jepang seperti di Osaka atau Tokyo, kamu mungkin akan menemukan terpal biru di sekitar taman atau di bawah jembatan, dipasang menyerupai benteng selimut seperti yang biasa kita buat semasa kecil. Jika tidak ada orang yang pernah menjelaskan padamu apa sebenarnya mereka, kamu mungkin akan berpikir tempat-tempat itu hanyalah tempat sederhana yang digunakan pekerja untuk menjual peralatan mereka, namun sebenarnya tempat-tempat itu adalah “bangunan rumah” yang ditinggali oleh para tuna wisma negeri itu.

Kebanyakan tuna wisma yang ada di Jepang, atau minimal di Tokyo, adalah para orang paruh baya atau orang-orang yang usianya lebih tua. Sebuah artikel bahkan menduga bahwa orang-orang ini dahulunya adalah pekerja kantoran atau bahkan pemilik perusahaan yang terbilang berhasil. Namun, kebanyakan dari orang-orang ini pada akhirnya memilih hidup di luar kebiasaan mereka. Seperti yang seorang pria tua katakan kepada seorang wartawan Record China. “Setelah menghabiskan selama setahun sebagai orang tuna wisma, orang-orang tidak ingin kembali bekerja. karena hidup tanpa jam alarm adalah sebuah anugrah.

homeless2 untitled

Tapi hanya karena mereka tidak bekerja kantoran Bukan berarti mereka tidak memiliki penghasilan. Kenyataannya, seorang tuna wisma berusia 60 tahun bernama Ishii, yang telah hidup di jalan selama 13 tahun, berkata kepada wartawan Spa!, sebuah majalah di Jepang, bahwa dia menghasilkan sekitar 3 juta yen pertahun. Tuna wisma lain, yang sudah menjadi tuna wisma selama 12 tahun, mengatakan bahwa dia menghasilkan lebih dari 100.000 yen per bulan.

Bagaimana mereka bisa menghasilkan uang sebanyak itu tanpa memiliki pekerjaan yang “benar”? Jawabannya adalah dengan mengumpulkan sampah dan menjualnya kembali.

Sebagai contoh, mengumpulkan kaleng-kaleng alumunium dan berbagai logam dari colokan peralatan listrik selama 6 hari seminggu akan mengumpulkan cukup logam untuk menghasilkan sekitar 100.000 yen sebulan. Di atas itu semua, sebuah smartphone yang ditemukan di tempat sampah bisa dijual dengan harga sekitar 7.000 yen. Berbagai notebook buangan, yang awalnya bisa laku dijual seharga 3.000 yen, bisa dijual lagi dengan harga 700 yen karena komputer yang mendukung Windows XP sudah tidak laku lagi. Para tuna wisma yang lain juga mengumpulkan majalah-majalah, buku-buku dan komik-komik yang tertinggal di kereta pagi untuk dijual di luar stasiun kereta saat malam hari, untungnya para polisi tidak menggubris mereka sama sekali.

Beberapa dari orang-orang tuna wisma dapat hidup dengan nyaman. contohnya, satu dari pria yang diwawancarai oleh Spa! mengatakan bahwa dia menghabiskan sebagian besar uangnya untuk makanan dan rokok. dia menghindari sapi, alkohol, makanan dari toko dan makanan cepat saji – karena itu semua tidak sehat – dan lebih senang makan babi, ayam dan sayuran.

Disamping makanan dan tenda terpal biru, para tuna wisma di Tokyo dapat membuat hidup mereka menjadi lebih nyaman dengan menggunakan barang-barang temuan. Contohnya, baterai mobil lama bisa digunakan untuk menyalakan peralatan listrik, air hujan bisa disimpan di tanki, dan mereka bisa memiliki peliharaan jauh lebih mudah daripada saat di apartemen. Lagipula, tidak akan ada tuan tanah yang mengeluh tentang lantai yang tergores. Beberapa bahkan bersama-sama merekayasa pembangkit listrik. Salah satu tuna wisma bernama Choumei yang hidup di palungan sungai di perbatasan antara Kanagawa dan Tokyo, memiliki kebun tanaman sederhananya sendiri.

homeless3

Namun pengalaman menyenangkan tadi tidaklah dialami oleh semua tuna wisma di Jepang. Seorang pria tuna wisma berumur 65 tahun di Fukuoka memberikan cerita yang sama sekali berbeda kepara wartawan qBiz. Dia juga mencari uang dengan cara mengumpulkan kaleng-kaleng di mana satu kilogramnya hanya berharga 110 yen, sedangkan dia hanya bisa mengumpulkan sebanyak 10 kilogram perhari. Terkadang dia tidak bisa mengumpulkan sebanyak itu dikarenakan kemunculan truk-truk, yang dioperasikan oleh yakuza, berkeliling mengambil kaleng-kaleng tersebut pada malam hari. Kota tersebut juga baru-baru ini memberlakukan hukum yang melawan pengumpulan kaleng-kaleng dan mulai bulan depan, setiap pelanggar akan didenda.

Dan keadaan akan bertambah buruk juga bagi para tuna wisma di Tokyo. dengan maksud untuk “memperindah” Tokyo untuk menyambut International Olympic Committe pada tahun 2013, beberapa taman tertentu memasang tanda agar para tuna wisma memindahkan tenda terpal mereka atau bangunan tersebut akan dihancurkan.

Jadi minna, jika lain kali kamu mengutuki jam alarmmu, ingatlah hal ini: kamu bisa saja bangun jam 6 pagi untuk mengumpulkan kaleng-kaleng bir.

Sources :
COMMENT