SHARE THIS ARTICLE
Parade, arak-arakan patung ikan Tai (sea bream) dibawa menuju kuil Imamiya Ebisu di Naniwaku Osaka. (Sankei)
Parade, arak-arakan patung ikan Tai (sea bream) dibawa menuju kuil Imamiya Ebisu di Naniwaku Osaka. (Sankei)

Parade arak-arakan (Mitsugutai) ini dilakukan setiap awal tahun dan kini antara 9, 10 dan 11 Januari 2015 lalu di daerah Naniwaku Osaka. Biasanya diikuti sekitar satu juta peserta, seperti kunjungan ziarah, beribadah ke kuil di tahun yang baru ini agar penangkapan ikan terutama ikan Tai (sea bream)–yang dianggap banyak rezeki–diharapkan dapat semakin banyak tahun ini, dan bisnis semakin makmur.

Arak-arakan digelar dari pasar grosir Kizu Osaka menuju Kuil Imamiya Ebisu. Jaraknya sekitar 800 meter. Iring-iringannya membawa dua ikan tai yang besar, seberat 11,5 kilogram dan 7,5 kilogram yang diambil dari Perfektur Shimane.

Tradisi ini sebenarnya sudah ada sejak zaman Edo (1603-1867) tetapi kemudian menghilang dan baru tahun 1983 dihidupkan kembali setiap tahun agar dunia bisnis perikanan semarak kembali dan bisnis dipercaya dapat lebih makmur lagi.

Dua patung diarak, berbentuk ikan tai yang besar yang dianggap anak lelaki dan yang di belakangnya dianggap anak perempuan ikan tai.

Patung ikan tai yang besar di dalamnya selain berisi ikan tai juga berisi beras, kerang dan makanan laut dibawa untuk dipersembahkan di Kuil Imamiya Ebisu.

Ikan Tai diletakkan di atas semacam jerami rumput hijau di depan kuil tersebut berjejer dan dituliskan dari daerah mana penangkapan ikan tersebut. Ada yang dari Perfektur Shimane, Oita, Nagasaki, Kagoshima dan sebagainya.

Saat arak-arakan tersebut berlangsung juga biasanya diiringi oleh para penabuh gendang dan alat musik tradisional Jepang agar parade semakin ramai.

Di kuil juga diperingati dengan membuka gentong sake besar bersama-sama dengan mengayuhkan kayu besar ke atas tutup gentong kayu sehingga tutup kayu pecah dan terbuka, lalu sake diminum bersama-sama.

Source : tribunnews.com
COMMENT