Share on

Rupanya selain 5 kasus kriminal Jepang yang masih belum terpecahkan yang sempat JS unggah kemarin, masih ada kasus misterius lain, misteri pembunuhan di Supermarket Hachioji. Kasus pembunuhan yang terjadi pada tahun 1995 ini masih belum terpecahkan hingga kini.

Jadi, seperti apakah kasusnya? Begini ceritanya.

Pada suatu malam di tanggal 30 Juli 1995, tiga orang pegawai wanita di supermarket Nampei Owada yang berada di kota Hachioji ditemukan tewas mengenaskan dengantangan terikat dan luka tembak di kepala mereka. Dua di antara tiga wanita ini merupakan siswi SMA berumur 16 dan 17 tahun yang tengah bekerja paruh waktu di supermarket itu.

Misteri Pembunuhan di Supermarket Hachioji
Pembunuhan Supermarket Hachioji (japantoday.com)

Dua puluh lima tahun telah berlalu, tapi sayangnya tetap saja belum ada titik terang dari kasus ini. Meskipun begitu, ada beberapa teori.

Laporan awal polisi mengungkapkan bahwa kasus ini merupakan pecobaan perampokan yang gagal karena para pegawai ini tidak mengetahui angka kombinasi brangkas toko. Departemen Kepolisian Metropolitan Tokyo juga mengatakan bahwa sidik jari yang ditemukan di tape yang digunakan untuk mengikat para korban (diduga kuat milik si pelaku) sesuai dengan seorang pria berkebangsaan Jepang yang meninggal karena penyebab alami di tahun 2005.

Tentunya, sidik jari tersebut tidak cukup sebagai sebuah barang bukti untuk menutup suatu kasus. Namun, setelah melakukan penyidikan lebih lanjut, para penyidik yakin bahwa sidik jari tersebut merupakan milik seorang pria yang tinggal di Tama, sebuah distrik di bagian barat Tokyo, di area Kanto.

Normalnya, kriteria resmi untuk menemukan kecocokan sidik jari adalah dengan nilai 12 poin atau lebih yang menyebabkan data base gagal untuk mempersempit kemungkinan tersangka. Hasil pencarian sidik jari yang dilakukan polisi ini hanya mencapai nilai kecocokan sebesar 8 poin saja, yang berarti masih harus mempersempit sekitar 100 juta orang menjadi 1 orang tersangka.

Lalu mengapa orang ini dijadikan tersangka?  Ternyata, alasannya adalah meski sidik jari dalam tape tidak dapat mencapai nilai kecocokan sebanyak 12 poin, sidik jari orang ini ada dalam data base karena memiliki catatan criminal yang cukup banyak. Namun, polisi tak menemukan bukti apapun yang menunjukkan kalau pria ini berada di sekitar TKP ketika kasus pembunuhan ini terjadi.

Di titik inilah polisi menagatakan bahwa sidik jari dengan nilai 8 poin kecocokan tidak cukup dan tidak bisa digunakan untuk memecahkan kasus ini. Mereka juga mengatakan masih berusaha untuk mencari peghubung yang mengaitkan antara tersangka yang telah tewas dan senjata oembunuhnya, sebuah handgun illegal yang dibuat di Filipina.

Pada 2009, polisi mendapatkan sedikit titik terang ketika seorang pria berkebangsaan Jepang yang  dijatuhi hukuman mati di Cina karena penggunaan obat terlarang membuat sebuah pernyataan mengenai seorang pria berkebangsaan Cina di Kanada terkait dengan pembunuhan Hachioji, ia disebut-sebut merupakan salah satu anggota sebuah geng yang berisi orang Jepang dan Cina yang melakukan beberapa perampokan di Jepang pada tahun 1900-an.  Pria tersebut, Liang He, menjadi buron di Jepang karena menggunakan paspor palsu untuk meninggalkan Jepang di tahun 2002. Ia kemudian resmi menajdi warga negara Kanada pada tahun 2006.

Untuk itu, Badan Kepolisian Nasional Jepang meminta permohonan ekstradisi pada pemerintah Kanada di tahun 2010 melalui Pengadilan Tinggi Ontario. Liang kemudian diesktradisi ke Jepang pada tahun 2013 dan ditahan akibat pemalsuan paspor. Sayangnya, ia menolak membicarakan tentang pembunuhan di supermarket tersebut.

Karena tak kunjung ada titik terang dalam kasus ini, Badan Kepolisian Nasional Jepang menawarkan imbalan sebesar 6 juta yen bagi siapapun yang dapat memberi informasi terkait tersangka pembunuhan tiga pegawai wanita di supermarket ini. Jika menemukan sesuatu, kamu bisa menghubungi nomor 042-621-0130.

Nah, setelah membaca tentang kasus ini, bagaimana menurutmu? Apakah kamu punya teori?