Berita Jepang | Japanesestation.com

Kepolisian Prefektur Nara menangkap seorang pria berusia 36 tahun yang diduga membunuh putrinya sendiri, seorang penyandang disabilitas  yang masih berusia 10 tahun di sebuah bendungan di desa Kawakami setelah menculiknya pada Sabtu (13/2) lalu.

Menurut laporan Fuji News Network via Tokyo Reporter, pada Sabtu dini hari, kepolisian menemukan pria tersebut, Kazuhiko Tokutani yang berprofesi sebagai seorang koki, basah kuyup dengan air di dalam kendarannya yang terparkir di sebuah tempat parkir. Beberapa saat setelahnya, polisi menemukan putrinya, Nanako, seorang siswi kelas 4 SD, mengambang di permukaan danau di bendungan tersebut. Setelah diangkat, gadis itu dikonfirmasi meninggal dunia.

Saat ditangkap atas tuduhan penculikan, Tokutani pun mengakui perbuatannya.

“Setelah aku bertengkar dengan ayahku, aku mempertimbangkan untuk mati. Selain itu, disabilitas putriku juga menjadi beban bagi istriku. Untuk lari dari kehidupan ini, aku ingin mati bersama dengan putriku,” ujarnya pada Kepolisian Yoshino.

“Untuk bertemu nenek”

pria jepang membunuh japanesestation.com
Ilustrasi penculikan (asia.nikkei.com)

Tokutani yang merupakan penduduk Kota Uda ini bekerja sebagai seorang koki di restoran milik sang ayah. Sang putri, Nanako, tak hanya menjadi penyandang disabilitas mental, namun juga memiliki gangguan pada salah satu kakinya.

Diketahui, pelaku “menculik” Nanako dari sekolah luar biasa pada hari Jumat (12/2) sekitar pukul 14:50 waktu setempat dari sekolah luar biasa.

“Saya akan membawanya bertemu neneknya,” ujar Tokutani pada seorang guru.

Malamnya, istri Tokutani melaporkan tentang hilangnya sang putri ke sebuah koban (pos polisi). Perwakilan dari sekolah pun segera memulai pencarian tersangka.

Tokutani mengatakan bahwa dirinya juga berencana untuk bunuh diri.

“Aku memeluk putriku dan masuk ke dalam air. Namun, saat ia mulai tenggelam, hanya aku yang bertahan,” ujar Tokutani.

Sementara itu, Dewan Pendidikan Prefektur Nara mengatakan bahwa tak ada tanda-tanda masalah sebelum insiden berlangsung.

“Bukan masalah jika seorang ayah menjemput putrinya. Dan bagi tersangka Tokutani dan putrinya, sebelumnya tak terlihat adanya tanda-tanda masalah. Wali kelas pun tidak melihat adanya hal yang tak biasa,” ujar dewan pengawas pendidikan Ikuhiro Yoshida.

Kini, pihak kepolisian terus melakukan penyidikan atas adanya dugaan pembunuhan.