Share on

Kasus pilu yang menimpa salah satu production house terkenal di Jepang, Kyoto Animation yang terjadi pada bulan Juli lalu masih menyimpan persoalan yang bergulir di kalangan media lokal Jepang. Kejadian yang menewaskan hingga 36 orang tersebut nampaknya masih menuai pro dan kontra khususnya untuk para keluarga korban yang menjadi sumber utama dalam pemberitaan media.

Masalah yang timbul antara media dan narasumber berawal dari usaha media lokal Jepang yang ingin mengunggah data lengkap para korban yang tercatat pasca kejadian nahas tersebut. Para wartawan media lokal Jepang  mengeluhkan tentang apa yang terjadi setelah mereka mengunggah beita yang menerangkan tentang para korban dikritik oleh para pembaca.

Tahap pemberitaan mengenai jumlah pasti dari korban kebakaran tersebut dimuat secara berkala sejak tanggal 18 Juli mengenai kejadian perkara, lalu pada tanggal 2 Agustus 2019 10 orang yang telah teridentifikasi mulai diunggah, 25 orang korban lainnya diunggah pada 27 Agustus 2019 dan kemudian korban ke-36 yang meninggal dunia dipublikasikan pada bulan Oktober.

Ada alasan lain mengapa berita genting tersebut yang seharusnya aktual terpotong dan terkesan berjarak untuk pembaruannya.

Menurut penuturan yang dikutip oleh Japan Today, Polisi Prefektur Kyoto melakukan komunikasi dengan semua anggota keluarga korban dari kasus kebakaran KyoAni tersebut. Pihak berwajib yang menjadi mediator dalam perizinan dan persetujuan anggota keluarga untuk diwawancarai. Selain itu, Badan Kepolisian Nasional juga menginstruksikan polisi Kyoto untuk meminta izin terlebih dahulu kepada keluarga korban untuk mengizinkan mereka mendapatkan data korban secara lengkap untuk diarsipkan. Namun dari 36 keluarga korban hanya 14 keluarga korban yang memberikan izin, 22 anggota keluarga lainnya menolak untuk memberikan izin.

Hal tersebut yang menjadi inti dari perdebatan yang terjadi untuk masalah ini. Sedangkan beberapa orang berpendapat bahwa pelepasan (pengunggahan dalam persetujuan) nama korban sangat penting untuk kasus kriminal besar atau berita kecelakaan secaraakurat untuk memberikan edukasi (empati) kepada masyarakat.

Harian nasional dan surat kabar lokal memuat berita mengenai serangan pembakaran KyoAni dengan menggungkap nama-nama korban yang telah dirilis oleh polisi. Pada saat yang sama mereka pun bekerja sama untuk menghindari liputan yang berlebihan.

Kyoto Shimbun merilis sebuah artikel tentang sulitnya para wartawan yang ditugaskan mencari data dan informasi yang berkaitan dengan kasus KyoAni yang ditepatkan pada tajuk utama dan sempat diunggah pada tanggal 18 Agustus 2019 yang judulnya bersinggungan dengan pro-kontra yang telah dibahas. Pada 28 Agustus, harian setempat juga melaporkan perdepatan yang muncul dikalangan internal mengenai laporan yang bersifat anonim benar-benar dapat menyampaikan apa yang dirasakan oleh keluarga korban kepada para pembaca.

Media pun membandingkan kejadian ini dengan kasus yang terjadi di luar negeri khususnya di wilayah barat.tentang keterbukaan informasi korban dalam peliputan berita atas kasus genting seperti pembunuhan dan kecelakaan tentu saja dengan seizin pihak keluarga korban. Biasanya, mereka tidak mengizinkan untuk merilis nama korban karena kasus yang terjadi menyinggung hal lainnya seperti seksualitas atau kasus yang melibatkan remaja (di bawah umur).

Tentu, hak privasi berlaku untuk para pelaku. Namun, nama mereka biasanya diunggah dengan foto dan huruf inisial. Foto dan nama lengkap jugga dapat diunggah secara lengkap sesuai dengan kebijakan perusahaan media masing-masing untuk kasus yang menarik perhatian publik.

feature image: japanesestation.com