Share on

Perjodohan merupakan hal yang sering terjadi dalam kemasyarakatan di seluruh dunia secara historis. Pada zaman dulu, orang tua dari pria dan wanita muda di Jepang mengatur pernikahan untuk anak mereka sendiri, atau dengan menggunakan mak comblang yang disebut "nakodo." Pernikahan seperti ini dilakukan karena alasan politik atau kekayaan daripada karena cinta dan ketertarikan. Kedua orang yang dijodohkan tidak memiliki hak, atau hanya sedikit, untuk berbicara dalam pemilihan pasangan mereka.

Advertise With Us

Tetapi setelah Perang Dunia II, budaya barat dan konsep percintaan secara romantis menyebar ke seluruh Jepang. Lebih banyak orang ingin menikah karena cinta daripada karena harta atau politik. Tetapi pada saat itu, orang-orang Jepang memiliki pandangan yang berbeda tentang cinta. Mereka berpikir bahwa cinta adalah hal yang rapuh dan tidak akan bertahan lama. Cinta bukanlah sesuatu yang dibutuhkan untuk membangun hubungan yang serius, apalagi pernikahan. Meskipun cinta dianggap sebagai perasaan yang kuat, tetapi juga tidak stabil dan cepat berlalu.

Pernikahan
Gaya pernikahan di Jepang yang juga dipengaruhi oleh budaya barat (japanvisitor.com)

Karena itu, meskipun saat ini perjodohan sudah dianggap sebagai budaya kuno oleh banyak negara, tetapi Jepang ternyata masih memiliki budaya perjodohan yang disesuaikan dengan zaman modern.

Di zaman modern ini, perjodohan, atau yang dalam istilah Jepang disebut "omiai", mengalami banyak perubahan. "Omiai" adalah pertemuan antara satu keluarga dengan keluarga lainnya yang bertujuan untuk mencari jodoh untuk kemudian menikah.

Dikarenakan minat menikah yang semakin berkurang di kalangan anak muda Jepang, "omiai" menjadi budaya yang sangat populer untuk meningkatkan minat tersebut. Lebih dari 40% masyarakat di Jepang menikah berkat “omiai”.

Sekarang, "omiai" tidak hanya diatur oleh keluarga, pria atau wanita yang merasa bahwa mereka harus segera memiliki pasangan hidup dan menikahpun bisa mendaftarkan diri mereka sendiri di biro jodoh resmi. “omiai” seperti ini populer karena biasanya pria atau wanita Jepang yang sudah cukup umur atau terlalu tua untuk menikah sering merasa sulit mencari pasangan di tengah kesibukan bekerja.

Ilustrasi Omiai
Ilustrasi Omiai, pertemuan untuk pasangan yang dijodohkan (jpninfo.com)

Omiai” yang diatur oleh keluarga biasanya kedua calon akan dipertemukan dan diperkenalkan secara langsung oleh orangtua dari kedua belah pihak, sementara “omiai” dari biro jodoh berarti mereka akan diberikan informasi oleh biro jodoh untuk melakukan pertemuan bersama di suatu tempat. Dalam pertemuan tersebut biasanya hanya dilakukan pertukaran informasi dasar, mengobrol ringan, dan pada akhirnya memutuskan mengenai hubungan mereka kedepannya.

Jika dirasa cocok satu sama lain, maka orang yang dijodohkan akan berkencan untuk waktu yang singkat untuk saling mengenal terlebih dahulu, biasanya beberapa minggu atau satu bulan, tetapi ada juga yang langsung mengadakan pesta pernikahan. Hal seperti ini memunculkan pertanyaan di kalangan orang asing, “apakah mereka bahagia dengan pernikahan seperti itu?”

Kebanyakan orang dengan budaya yang berbeda menganggap bahwa pernikahan yang dilakukan dalam waktu perkenalan yang singkat tidak akan berakhir bahagia, dan meningkatkan angka perceraian. Namun fakta menariknya, justru pasangan yang menikah dengan cara “omiai” memiliki tingkat perceraian yang lebih rendah dibandingkan dengan pernikahan karena cinta. Mengejutkan, bukan?

Artikel dari berbagai sumber.