SHARE THIS ARTICLE
Tama dianugerahi gelar kepala stasiun kehormatan abadi dari stasiun Kishi. Foto: Toru Yamanaka/AFP/Getty Images
Tama dianugerahi gelar kepala stasiun kehormatan abadi dari stasiun Kishi. Foto: Toru Yamanaka/AFP/Getty Images

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, Tama, kucing penjaga stasiun kereta di Jepang kini telah tiada dan di akhir pekan yang lalu ribuan orang menghadiri pemakamannya dan menyampaikan perpisahan terakhir untuk kucing yang dianggap telah menyelamatkan sebuah jalur kereta api di Jepang dari kehancuran keuangan. Pada hari Minggu, beberapa hari setelah Tama mati karena gagal jantung, diperkirakan sebanyak 3.000 orang, termasuk para pejabat kereta api, menghadiri pemakaman kucing tersebut yang diadakan dengan cara Shinto.

Seorang gadis meletakkan karangan bunga di altar khusus yang didirikan untuk pemakaman Tama pada hari Minggu. Para pelayat meninggalkan bunga dan kaleng tuna. Foto: Chika Oshima/AP
Seorang gadis meletakkan karangan bunga di altar khusus yang didirikan untuk pemakaman Tama pada hari Minggu. Para pelayat meninggalkan bunga dan kaleng tuna. Foto: Chika Oshima/AP

Seperti dilansir dari theguardian.com, Tama berusia 16 tahun, yang setara dengan sekitar 80 tahun untuk umur manusia. Kucing tersebut telah sakit karena infeksi sinus dan sedang dirawat oleh pemiliknya ketika ia menghembuskan napas terakhirnya, ucap Yoshiko Yamaki, juru bicara perusahaan kereta api. Tama telah menjadi “superstar pariwisata” yang terkenal di luar Jepang, menurut penjelasan pesan belasungkawa dari Gubernur Wakayama, Yoshinobu Nisaka.

Setelah pada tahun 2007 diangkat menjadi kepala stasiun kehormatan di stasiun Kishi yang tak berawak di pedesaan prefektur Wakayama, barat Jepang, Tama dengan cepat menjadi kucing yang paling terkenal di Jepang. Tama telah memberi “efek” pada ekonomi setempat pada tahun pertama penunjukannya dan jumlah penumpang naik 10% yang diperkirakan menghasilkan 1,1 miliar yen. Jalur kereta sepanjang 14.5 km ini sempat kehilangan 500 juta yen per tahun sebelum penunjukan Tama, dan per harinya hanya 5.000 penumpang yang menggunakannya.

Orang-orang berdoa di depan altar pada pemakaman Tama di Kinokawa City, prefektur Wakayama. Foto: Chika Oshima/AP
Orang-orang berdoa di depan altar pada pemakaman Tama di Kinokawa City, prefektur Wakayama. Foto: Chika Oshima/AP

Pada tahun 2006, Tama tetap tinggal di sana ketika karyawan terakhir stasiun tersebut diberhentikan sebagai bagian dari pemotongan biaya perjalanan. Tak lama kemudian, para pengunjung datang berbondong-bondong ke stasiun itu untuk melihat kucing kepala stasiun yang mengenakan topi di kepalanya yang menyambut para penumpang. Menurut Mitsunobu Kojima, presiden Wakayama Electric Railway, jasad Tama akan diabadikan di sebuah kuil untuk kucing-kucing yang ada di dekat stasiun tersebut pada bulan Agustus. Pada hari Minggu, Tama juga diberi gelar baru, yaitu kepala stasiun kehormatan abadi.

Source : theguardian.com
COMMENT