Share on

Pada zaman sekarang ini, hampir semua orang mengenal konsep chikan (orang mesum di kereta) sebagai orang yang mengincar targetnya saat kereta mulai penuh. Saat target terkunci, orang mesum ini mulai meraba-raba atau menyentuh korbannya, dan kabur sebelum korban atau orang di sekitarnya memperhatikan perbuatannya.  Namun, baru-baru ini ada cuitan viral dari seorang pengguna Twitter, @nibocci yang menjelaskan bahwa ada pola chikan yang berbeda dan tidak seumum chikan biasa, yaitu kakek mesum.

@nibocci mengatakan saat ia sedang berjalan melewati sebuah stasiun kereta, seorang pria tua memanggilnya. Kakek ini mengatakan, “Kakiku sakit, jadi apakah kau bisa menolongku berjalan ke kereta,” ujarnya. Kata-kata ini seakan menggambarkan bahwa ia ingin @nibocci membantunya berjalan sambil merangkulnya.

Namun, @nibocci tiba-tiba ingat ia pernah mendengar kabar di Twitter tentang laki-laki semacam imi yang berakting agar bisa menyentuh dan menempelkan badan mereka ke badan gadis-gadis muda. Karena itu, dibanding menuruti permintaan orang yang tak dikenalnya ini, ia mengatakan kalau ia akan segera mencari staf stasiun untuk membantu si kakek mesum ini. Setelah @nibocci mengatakannya, sejara ajaib kaki kakek ini sembuh dengan sendirinya.

“Setengah detik setelah aku mengatakan akan mencari staf stasiun, ia mengatakan,  ‘Oh, aku baik-baik saja kok,” ujar @nibocci mengutip si kakek.

Ilustrasi kaki tiba-tiba sembuh (pakutaso.com)
Ilustrasi kaki tiba-tiba sembuh (pakutaso.com)

Meski yang dilakukan @nibocci benar karena memang banyak orang-orang yang melakukan hal seperti ini, tapi di saat yang sama, rasanya sedih melihat banyak orang memanfaatkan kebaikan orang lain hanya untuk melakukan hal tidak terpuji. Namun memang, membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan (termasuk yang berpura-pura seperti ini) sebenarnya merupakan tanggung jawab staf stasiun. Karena itu, memang lebih baik meminta bantuan pada para staf jika kamu mencurigai penumpang lain. Gak dosa kok!

Cuitan ini tentunya mengundang reaksi para netizen Twitter untuk berkomentar, misalnya:

“Chikan tidak bisa dimaafkan!”

“Dulu, ketika aku sedang berjalan pulang dari bimbel, seorang kakek di stasiun berkata, ‘Punggungku sakit, jadi biarkan aku bersandar di pundakmu sambil berjalan,’ …Namun ketika aku mengatakan aku akan minta tolong pada petugas stasiun, ia berkata, ‘Dipikir-pikir lagi, aku tidak apa-apa’ dan ia kabur sambil BERLARI.”

Jika melihat kejadian di atas, membuktikan bahwa mayoritas orang Jepang memang tidak terlalu nyaman untuk melakukan kontak fisik dengan orang asing. Jadi, jika kamu berlibur ke Jepang dan mendadak ada orang asing merangkul atau memegangmu, kamu patut curiga. Dan jika kamu bertemu kakek mesum seperti di atas dan ingin mencoba “mengusir” mereka dengan cara mengatakan akan menghubungi staf stasiun, bisa “Ekiin wo yonde kimasu.”  Jika yang ditolong adalah orang baik, mereka pasti akan bahagia mendengar kamu mengatakan hal itu. Apabila sebaliknya, berarti, ia memang penipu dan orang mesum.