Share on
Kyoto, Jepang - Minggu ini, para penyelidik dari Kepolisian Shimogamo Prefektur Kyoto memecahkan sebuah kasus pemalsuan dan menangkap seorang pria. Pada tanggal 23 Oktober, Shunki Iwasaki (29), penduduk Setagaya Ward, Tokyo, ditahan dan akan menghadapi berbagai tuduhan. Penangkapan itu terjadi delapan bulan setelah Iwasaki mewariskan barang-barang palsu. Barang palsu yang dimaksud tersebut bukan berupa barang antik, mata uang kertas, atau barang lainnya yang biasa dipalsukan secara kriminal. Dugaan pemalsuan yang dilakukan oleh Iwasaki dilakukan dalam bentuk penjualan barang Yu-Gi-Oh! card Palsu untuk mendapatkan skor cepat. Dugaan pemalsuan yang dilakukan oleh Iwasaki berawal dari postingan lelang yang dia rilis di Yahoo! Auction, salah satu situs lelang online paling populer di Jepang. Iwasaki menyampaikan bahwa dia menjual Lorelei, kartu Symphonic Arsenal. Seperti diketahui, Lorelei tidak pernah tersedia dalam kemasan Yu-Gi-Oh yang dijual secara komersial. Kartu ini hanya diberikan kepada pemenang turnamen dunia Yu-Gi-Oh! Pada tahun 2008. Para penyidik kasus ini mengatakan bahwa hanya ada enam kartu asli Lorelei, kartu Symphonic Arsenal di seluruh dunia. Iwasaki dilaporkan oleh seorang wanita berusia 20an tahun yang membeli kartu dari Iwasaki dan membayar kepadanya sebesar 400.000 yen atau senilai lebih dari 50 juta rupiah. Namun, setelah menerima kartu yang dibelinya, wanita itu menyadari bahwa background dalam ilustrasi kartu Lorelei yang dibelinya jauh lebih berwarna daripada yang seharusnya, dengan lambang warna menyerupai pelangi. Tidak berpikir panjang, wanita itu kemudian pergi ke kantor polisi untuk dapat melacak Iwasaki. Saat diinterogasi, Iwasaki mengakui bahwa dirinya mengetahui kalau “kartu itu mungkin palsu”. Namun dirinya tidak membuat tiruan Lorelei. Atas penjelasan Iwasaki, Polisi Prefektur Kyoto sedang mencari tahu dari mana Iwasaki mendapatkan kartu tersebut dengan harapan membawa si pemalsu untuk diadili. Saat ini, tindakan Iwasaki sudah cukup untuk membuatnya ditangkap, dengan tuduhan awal yang diajukan menjadi pelanggaran hak cipta, karena kartu itu memuat nama dan logo Yu-Gi-Oh!, milik perusahaan induk Konami. Tidak jelas apakah Iwasaki masih memiliki uang wanita itu, dan apakah si wanita akan mendapatkannya kembali atau tidak.