Berita Jepang | Japanesestation.com

Pada Selasa (13/4) lalu, pemerintah Jepang mengatakan bahwa pihaknya akan melepaskan lebih dari 1 juta ton air yang dikumpulkan di PLTN Fukushima yang telah rusak meski adanya oposisi dari nelayan lokal dan negara tetangganya, menimbulkan perdebatan. Perdebatan ini pun diperparah dengan klaim dari Wakil Perdana Menteri Jepang, Taro Aso, yang mengklaim bahwa air dari PLTN Fukushima itu tak berbahaya dan aman untuk diminum, membuat juru bicara Kementrian Luar Negeri Cina, Zhao Lijian meminta agar Aso meminumnya untuk membuktikannya. Dan pada Jumat (16/4), Aso kembali mengulang klaimnya terkait keamanan air dengan senyawa nuklir tersebut. Pertanyaannya, apakah air ini benar-benar aman dan bisa diminum? Mari kita cari tahu jawabannya!

Jadi, sebenarnya air yang rencananya akan dibuang oleh pemerintah jepang tersebut telah diproses dengan sebuah sistem treatment yang disebut dengan ALPS (Advanced Liquid Processing System) untuk menghilangkan hampir semua unsur radioaktif, termasuk strontium dan cesium.

industri nuklir Jepang japanesestation.com
Tangki yang digunakan untuk menyimpan air yang telah diolah di PLTN Fukushima Daiichi. (AFP)

Kendati demikian, proses ini tak mampu menghilangkkan beberapa jenis unsur, termasuk tritium, sebuah unsur isotope radioaktif. Melansir Al Jazeera, tritium sebenarnya tidak berbahaya karena tak cukup kuat untuk menembus kulit manusia. Namun, menurut sebuah artikel majalah Scientific American pada 2014 lalu, zat ini bisa meningkatkan risiko kanker jika tertelan.

Waduh. Berarti gak bisa diminum dong? Tunggu dulu. Penelitian itu rilis tanggal 2014, 7 tahun lalu. Mungkin berubah, mungkin juga tidak.

air nuklir fukushima japanesestation.com
Aksi demo di Korea Selatan menentang kebijakan pembuangan air PLTN Fukushima ke Laut Pasifik (Reuters)

Pemerintah Jepang sendiri mengklaim bahwa tritium tersebut akan diencerkan menjadi kurang dari 1.500 becquerel per liter, sepertiga dari konsentrasi yang diizinkan menurut standar keamanan Jepang dan sepertujuh dari pedoman WHO untuk air minum.

Beberapa pakar masa kini pun mengakuinya, meski mengatakan bahwa risikonya nol persen. Seperti yang diungkapkan Michiaki Kai, pakar penilaian risiko radiasi di Universitas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan Universitas Oita Jepang. Menurutnya, penting untuk mengontrol pengenceran dan volume air yang dilepaskan.

“Ada konsensus di antara para ilmuwan bahwa dampaknya terhadap kesehatan sangat kecil. Namun, tidak bisa dikatakan risikonya nol, itulah yang menyebabkan kontroversi,”ujarnya pada AFP.

Kesimpulannya, mungkin memang benar bahwa air dari PLTN Fukushima itu cukup aman untuk diminum, meski tak bisa dibilang risikonya benar-benar 0 persen. Hal inilah yang menyebabkan adanya penolakan keras dari nelayan dan negara tetangga Jepang.

Sumber:

Mainichi

Japan Today

Al Jazeera

Washington Post