Berita Jepang | Japanesestation.com

Tokyo Olympics rencananya akan digelar 6 bulan lagi, tepatnya pada 23 Juli 2021 mendatang. Pemerintah pun belum berencana untuk mengundur atau membatalkannya lagi, meski banyak penduduk yang ingin agar even olahraga besar ini kembali ditunda. Pasalnya, Tokyo dan area lain di Jepang tengah berada dalam status darurat akibat meningkatnya kasus virus corona. Tentu banyak penduduk yang khawatir kan?

Nah, apakah kekhawatiran masyarakat Jepang akan berujung dengan dibatalkannya Tokyo Olympics? Apakah pemerintah berencana untuk mengumumkan kepastian digelar atau tidaknya Tokyo Olympics? Untuk menjawabnya, mari kita lihat jawaban Mainichi bagi masyarakat Jepang berikut!

International Olympic Committee (IOC) dan panitia lokal akan mengumumkan kepastian digelarnya Tokyo Olympic pada 25 Maret mendatang, saat torch relay atau estafet obor yang disponsori oleh Coca-Cola dan Toyota dimulai dari area Tohoku dan mengelilingi seluruh penjuru Jepang selama 4 bulan dengan 10.000 pelari menuju Tokyo. Tak mungkin kan estafet dilakukan namun olimpiade dibatalkan?  

Huawei MatePad Pro

orang tertua di dunia japanesestation.com
Kane Tanaka yang rencananya akan mengikuti torch relay pada Tokyo Olympics mendatang (mainichi.jp)

Nah, jika bertanya mengapa pemerintah bersikeras tetap menggelar Tokyo Olympic meski dalam survei lalu 80% masyarakat ingin agar olimpiade ditunda atau dibatalkan, jawabannya adalah karena komite olimpiade dan pemerintah telah mengeluarkan banyak uang untuk mewujudkan olimpiade dan pendapatan yang akan dihasilkan Tokyo untuk IOC.

IOC akan mendapatkan hampir tiga perempat pendapatannya dari penjualan hak siar TV, sementara 18% lainnya berasal dari sponsor. Tidak seperti bisnis olahraga lain seperti NBA atau sepak bola Inggris, IOC hanya memiliki dua acara besar setiap empat tahun.

Memang, sebelumnya ada 5 olimpiade yang dibatalkan pada saat perang dulu, yaitu pada 1916, Summer Olympics 1940 dan 1944, serta Winter Games pada 1940 dan 1944. Namun saat itu, pengeluaran tak terlalu besar.

Jepang juga harus mempertahankan pride-nya. Mereka telah mengeluarkan dana setidaknya 25 miliar dolar Amerika untuk mempersiapkan Tokyo Olympic. Sementara itu, Cina akan menjadi tuan rumah Winter Olympics 2022 di Beijing. Tentu Jepang tak mau kalah kan?  

tokyo olympic 2021 hacker japanesestation.com
Ring Tokyo Olympic (Reuters)

Selain itu, Perdana Menteri Yoshihide Suga juga menyebut Tokyo Olympics sebagai “bukti kemenangan manusia atas virus corona.”

Tokyo Olympics nanti juga akan berbeda dari biasanya. Pertama, para atlet diminta untuk datang lebih lambat dan meninggalkan area pertandingan lebih cepat. Atlet yang akan berpartisipasi dalam upacara pembukaan pun akan lebih sedikit dari biasanya. Menurut media Jepang, hanya akan ada 6.000 atlet dari 11.000 total atlet yang berpartisipasi.

Kendati demikian, dari mata para penonton televisi, semua akan terlihat sama. Venue yang digunakan tetap berupa TV stages. Namun, kini para fans harus terbiasa menonton even olahraga di stadion kosong.

Namun, ada yang harus diperhatikan. Penjualan tiket menghasilkan pendapatan sekitar 800 juta dolar Amerika bagi penyelenggara lokal. Dan tidak ada fans yang menonton berarti pendapatan akan hilang dan biaya yang dikeluarkan pun lebih banyak. Biaya tersebut harus diserap oleh entitas pemerintah Jepang. Beberapa audit pemerintah Jepang pun memperkirakan pengeluaran untuk olimpiade mencapai 25 dolar Amerika dan semuanya merupakan uang publik kecuali 6,7 miliar di antaranya. Sponsor lokal juga telah menggelontorkan 3,5 miliar dolar Amerika. Akankah Jepang mendapat keuntungan dari ini? Entahlah.

olimpiade tokyo japanesestation.com
Stadion yang rencananya akan digunakan untuk Tokyo Olympics 2020 (nippon.com)

Dan terkait isu komentar-komentar skeptis yang melibatkan beberapa nama seperti anggota senior IOC Dick Pound dan menteri Jepang Taro Kono, dimulai saat Pound ditanyai tentang Tokyo Olympics.

"Saya tidak bisa memastikan karena masih ada gelombang virus,” ujarnya.

Ia juga menyarankan atlet harus menjadi prioritas utama vaksinasi karena mereka adalah “panutan.” Hal ini kontradiktif dengan Presiden IOC Thomas Bach yang mengatakan bahwa atlet tak perlu menjadi prioritas.

Sementara itu, Kono, anggota Kabinet Suga mengakui bahwa berjalannya olimpiade masih diragukan.

"Apapun bisa terjadi,” ujar Kono.

Kono adalah mantan menteri pertahanan Jepang yang kini menjadi menteri reformasi peraturan administratif. Ia juga bertanggung jawab dalam program pemberian vaksin sejak Senin (18/1) lalu.

Keith Mills yang menjabat sebagai wakil ketua panitia London Olympics 2012 mengtakan bahwa rencana pembatalan sebenarnya telah disusun.

"Namun, menurut saya mereka akan menggunakan rencana tersebut hanya di saat-saat terakhir,” ujar Mills pada BBC Selasa lalu.

Tokyo Olympics 2020 sponsor japanesestation.com
Sebuah kapal membawa ring Olimpiade di Teluk Tokyo (AP News via Japan Today)

Terkait vaksinasi, Bach meminta agar semua partisipan menerima vaksinasi. Namun, ia mengatakan para atlet tak perlu divaksinasi. Namun, itu menurut IOC. Pemerintah Jepang bisa saja menerapkan aturan lain.

Itulah sekilas tentang Tokyo Olympics 2021 mendatang. Apakah menurut teman-teman olimpiade ini akan tetap berjalan?