Berita Jepang | Japanesestation.com

Bulan Maret adalah bulan dimana para mahasiswa Jepang tingkat akhir merayakan kelulusan mereka. Kebanyakan dari mereka telah mengetahui apa yang akan mereka lakukan pada bulan April mendatang. Baik bekerja di sebuah perusahaan atau meneruskan akademiknya ke tingkatan yang lebih tinggi. Pertanyaannya, kapan mereka melakukan proses pencarian kerja? Disinilah istilah shuukatsu berperan.  就活  ( shuukatsu) memiliki arti Job hunting di Jepang.

Apa itu Shuukatsu?
Shuukatsu, Kegiatan Mahasiswa Jepang yang Menentukan Masa Depan Mereka
(image : pixls)

Fitur khas shūshoku katsudō Jepang (aktivitas berburu pekerjaan), adalah adanya jadwal perekrutan di perusahaan besar  yang ditetapkan di awal setiap tahun berdasarkan konsensus antara pemerintah, bisnis, dan akademisi. Proses shūkatsu dilakukan oleh sebagian besar siswa di tahun-tahun junior mereka, yaitu saat mereka mulai menghadiri seminar karir di sekolah mereka dan di tempat lain. Di tahun-tahun terakhir, para mahasiswa mengajukan permohonan lowongan pekerjaan yang diumumkan oleh perusahaan dan mengikuti berbagai proses seleksi yang bertujuan untuk memenangkan naitei, janji kerja setelah lulus sarjana. Setelah acara kelulusan pada bulan Maret, mereka akan memulai pekerjaan baru mereka di bulan April, bulan pertama tahun fiskal dan akademis di Jepang.

Yang menarik dari persiapan shuukatsu adalah para mahasiswa Jepang ini mulai bekerja keras untuk mencari pekerjaan 2 tahun sebelum mereka benar-benar lulus. Ini adalah proses yang melelahkan yang melibatkan ratusan setumeikai (seminar perusahaan), ujian, tes online, kunjungan studi ke perusahaan, aplikasi pekerjaan, magang dan wawancara massal. Banyak siswa mengajukan lamaran sebanyak 100 kali, dan sebagian besar menghasilkan penolakan dari perusahaan yang mereka lamar karena seluruh prosesnya sangat kompetitif.

Peraturan tak tertulis  pada saat melakukan Shuukatsu di Jepang
Shuukatsu, Kegiatan Mahasiswa Jepang yang Menentukan Masa Depan Mereka
(image : Shuukatsu-note)
  • Rambut : Pendek dan rapi (pria), diikat atau disisir dan memperlihatkan telinga (wanita), tidak diwarnai;
  • Kumis/Janggut : Dicukur sangat rapi;
  • Baju : Menggunakan setelan gelap, dikancing hingga atas, kemeja putih, dasi harus sederhana, kaus kaki gelap;
  • Sepatu : Disemir dan berwarna hitam atau coklat, (khusus wanita : lebih baik tidak menggunakan heels yang terlalu tinggi);
  • Make Up : Sederhana dan tidak menggunakan parfum;
  • Kuku : Tidak dikutek, pendek dan bersih ;
  • Anting : Lebih baik tidak menggunakannya;
  • Kalung : Simple dan tidak menarik perhatian;
Dampak negatif dari kegiatan Shuukatsu
Shuukatsu, Kegiatan Mahasiswa Jepang yang Menentukan Masa Depan Mereka
(image : Japhub)

Apabila kita telah diterima di sebuah perusahaan sebelum kita lulus, pasti akan sangat menyenangkan. Kita tidak perlu khawatir dengan masa depan yang masih buram di kehidupan mendatang. Yang perlu dilakukan oleh para mahasiswa Jepang di tahun terakhirnya hanyalah untuk lulus. Mereka juga bisa dengan mudah menjawab pertanyaan, "Kerja dimana nanti?"

Namun ternyata proses shuukatsu memiliki beberapa dampak negatif. Kebanyakan mahasiswa yang terus menerus gagal melamar akan merasakan depresi dan berakhir bunuh diri. Ada juga sebagian dari mereka yang mulai melupakan kewajibannya sebagai mahasiswa yaitu menuntut ilmu. Mereka hanya terfokus kepada kegiatan shuukatsu dan tidak memperdulikan perkuliahan yang berlangsung di kampus.

Video singkat ini menampilkan bagaimana kehidupan mahasiswa yang melakukan kegiatan shuukatsu :

Bagaimana menurut kalian mengenai kegiatan shuukatsu? Apakah perlu diterapkan di Indonesia?

(featured image : Pixls)