Meski Jepang memiliki kualitas hidup yang tinggi, negara ini justru menghadapi tantangan besar berupa menurunnya angka kelahiran. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, jumlah bayi yang lahir pada 2025 (termasuk dari warga negara asing) adalah 705.809 bayi. Jumlah ini merupakan angka terendah yang pernah tercatat sejak pencatatan modern (dimulai tahun 1899).
Jepang sedang menghadapi fakta bahwa anak mudanya menunda berkeluarga. Padahal, pemerintah Jepang sudah berupaya mendorong peningkatan angka kelahiran melalui berbagai kebijakan, seperti bantuan finansial bagi keluarga. Namun, hasilnya masih jauh dari harapan. Jadi, mengapa banyak orang Jepang tetap menunda pernikahan dan memiliki anak?
Menikah di Usia Lebih Tua—Atau Tidak Sama Sekali
Di Jepang, memiliki anak masih sangat erat kaitannya dengan institusi pernikahan. Ketika jumlah pernikahan menurun, angka kelahiran pun kena dampaknya. Dalam beberapa dekade terakhir, semakin banyak orang Jepang yang memilih menikah di usia yang lebih tua. Tidak sedikit pula yang memutuskan untuk tidak menikah sama sekali. Alasannya beragam, seperti fokus pada karier, sulitnya menemukan pasangan yang sesuai, ataupun keinginan untuk hidup bebas.
Bagi sebagian generasi muda, pernikahan tidak lagi dianggap sebagai “kewajiban hidup”. Banyak orang merasa bahwa banyak cara untuk menjalani hidup baik dalam karier, pendidikan, maupun self-growth. Generasi muda tumbuh di zaman dengan lebih banyak pilihan hidup. Sehingga, keputusan untuk menikah tidak lagi didasarkan pada tekanan sosial, melainkan pada kesiapan pribadi dan kondisi yang dianggap tepat.
Biaya Hidup yang Tinggi
Di luar persoalan pernikahan, faktor ekonomi juga berperan besar. Jepang merupakan negara dengan biaya hidup yang tinggi, terutama di kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka, tempat sebagian besar anak muda menjajaki karier.
Memiliki rumah, membesarkan anak, dan membiayai pendidikan membutuhkan pengeluaran yang banyak. Pasangan muda pun merasa harus mencapai kondisi finansial yang stabil sebelum memutuskan untuk memiliki anak. Namun, stabilitas tersebut semakin sulit dicapai di tengah meningkatnya biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi.
Dunia Kerja yang Penuh Tuntutan dan Tak Pasti
Meski berbagai usaha perubahan telah dilakukan, jam kerja yang panjang masih dihadapi banyak pekerja. Akibatnya, waktu untuk membangun keluarga dan mengasuh anak pun terbatas. Karena itu, menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dengan tanggung jawab sebagai orang tua terasa sangat berat bagi mereka.
Banyak pekerja muda juga menghadapi realita pasar kerja yang berbeda dibandingkan dengan generasi orang tua mereka. Pekerjaan tetap dengan jaminan karier jangka panjang semakin berkurang, sementara pekerjaan kontrak atau freelance semakin umum. Kondisi ini membuat sebagian orang memilih menunda keputusan penting seperti menikah atau memiliki anak hingga mereka mencapai kesiapan finansial yang kuat.
Berubahnya Aspirasi dan Arti Kesuksesan
Perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat Jepang juga turut membentuk keputusan generasi muda mengenai keluarga dan anak. Perempuan Jepang kini memiliki akses yang lebih luas terhadap pendidikan dan karier daripada generasi ibu mereka. Peluang untuk mengembangkan diri secara profesional memberikan lebih banyak pilihan yang tidak selalu berpusat pada peran tradisional sebagai istri dan ibu. Sementara itu, laki-laki muda juga mulai mempertanyakan ekspektasi lama yang menuntut mereka menjadi pencari nafkah utama keluarga.
Di saat yang sama, generasi muda semakin menghargai kebebasan individu dan fleksibilitas . Banyak yang memilih mengalokasikan waktu dan sumber daya untuk melakukan hobi, traveling, meniti karier, atau menikmati gaya hidup yang lebih mandiri. Kesuksesan pun tidak lagi diukur dari status pernikahan atau jumlah anggota keluarga, tapi dari kemampuan menjalani hidup yang sesuai dengan nilai dan tujuan pribadi.
Menurunnya angka kelahiran di Jepang bukan hanya persoalan demografi. Di balik statistik kelahiran yang terus menurun, terdapat generasi yang sedang mendefinisikan ulang prioritas hidup mereka di tengah berbagai badai tantangan sosial ekonomi. Mungkin, pertanyaan yang besar bukanlah mengapa orang-orang menunda pernikahan, melainkan bagaimana masyarakat beradaptasi dengan generasi muda yang memandang masa depan lewat cara berbeda.