Berita Jepang | Japanesestation.com

Dengan perkembangan alat komunikasi seperti email, media sosial, messenger, dan chat, ada lebih banyak peluang bagi orang untuk bertukar pesan teks dengan orang lain di berbagai negara. Namun terkadang, orang luar merasa bingung dengan pesan yang mereka terima dari orang Jepang. Kali ini, Live Japan meminta lima orang asing yang tinggal di Jepang untuk membagikan hal "mengejutkan" yang mereka terima dari orang Jepang di media sosial. Apakah citra orang Jepang yang "baik" masih bertahan? Yuk, kita simak!

1. “Terima kasih atas perhatiannya” di media sosial!? Semuanya terlalu sopan!

Pesan yang dikirim orang Jepang
Pesan yang dikirim orang Jepang (livejapan.com)

Yang pertama adalah pria Amerika yang telah tinggal di Jepang selama 15 tahun. "Mengirim SMS di AS sangat mudah. ​​Ini adalah negara tempat orang-orang dari seluruh dunia berkumpul. Pesannya sederhana, ramah tetapi langsung (terus terang). Tentu saja, ada etiket yang perlu diingat," Katanya.

"Tapi itu terlalu sopan di Jepang! Saya masih belum terbiasa dengan teks yang mengatakan, 'Aku berhutang budi padamu' dan 'Terima kasih banyak'. Saya mendapat teks yang dimulai dengan 'Maaf mengganggu, tapi...'.”

2. "Baca tapi tidak ada tanggapan" adalah hal biasa bagi saya!

Bermain media sosial
Ilustrasi bermain media sosial (livejapan.com)

Berikutnya, seorang pria Jerman yang mulai tinggal di Jepang tahun lalu. Tampaknya ia mengalami culture shock saat bertukar pesan dengan orang Jepang di media sosial.

"Saya terkejut bahwa orang Jepang peduli tentang 'read tetapi tidak ada balasan' ketika pesan sudah dibaca, tetapi tanggapannya tidak langsung diberikan. Hampir semua orang di Eropa seperti ini, membalas pesan tidak perlu cepat."

Sangat mudah bagi orang Jepang untuk bertanya pada diri sendiri, "Apakah ada sesuatu yang tidak kamu sukai dari perkataanku?!" Tapi apakah ini menimbulkan kesalahpahaman?

"Iya. Jadi, ketika saya memberikan pesan kepada seorang gadis Jepang, saya lelah ditanya, 'Mengapa kamu membaca pesan saya tetapi tidak menjawab?' Sebaliknya, saya memberi tahu mereka, 'Balas saja saat kamu suka!'"

3. Mengapa orang Jepang menjadi tidak ramah di media sosial?

bermain media sosial
Ilustrasi bermain media sosial (livejapan.com)

Seorang wanita Italia yang telah tinggal di Jepang selama lima tahun dikejutkan dengan pesan seorang pria Jepang di media sosial.

"Pria Jepang cenderung sopan saat bertemu langsung, tapi saya menyadarinya di media sosial dan pesan! Mereka tidak menggunakan sebutan kehormatan, mengabaikan nama, dan memiliki banyak emoji. Aneh sekali, seperti dua orang yang berbeda."

Tampaknya ada celah besar yang mengejutkan antara diri virtual kita! Apa yang akan dipikirkan orang asing tentang ini? Apakah lebih baik bagi orang untuk terhubung satu sama lain secara terus terang dan langsung tanpa kata-kata yang lembut?

4. "Langit indah hari ini." Terus?

bermain media sosial
Ilustrasi bermain media sosial (livejapan.com)

Konteks lain di mana orang asing dibuat bingung dengan bertukar pesan terkait asmara dengan orang Jepang. Contohnya adalah dari seorang mahasiswa India yang berhubungan dengan seorang wanita Jepang.

"Orang India di sekitarku tidak membicarakan hal-hal yang tidak perlu di media sosial dan dalam pesan. Mereka berbicara satu sama lain tentang apa yang diharapkan pada kencan dan perasaan mereka. Saya tidak yakin apa yang harus saya lakukan ketika saya mendapat pesan yang mengatakan, 'Saya makan malam di sini hari ini,' dengan foto." Katanya.

Pesan yang rinci memang tidak selalu cocok. Mengirim pesan santai membantu menjangkau orang yang kita sayangi, tetapi mungkin berbeda bagi orang yang tidak terbiasa dengannya.

5. Seberapa percaya kamu saat orang Jepang berkata, "Ayo segera bertemu?”

bermain media sosial
Ilustrasi bermain media sosial (livejapan.com)

Di akhir pertukaran pesan, orang sering berkata, "Ayo ketemu lagi nanti". Frasa ini tampaknya sering membingungkan orang non-Jepang. Seorang wanita Thailand yang pernah tinggal di Jepang selama tiga tahun menjelaskannya.

"Saya bingung. Misalnya, seorang teman Jepang mengatakan kepada saya, 'Ayo bertemu lagi saat cuaca semakin hangat,' di LINE, tetapi itu berakhir tanpa membuat rencana. Ketika saya mencoba menghubunginya untuk buat rencana, ternyata dia tidak serius. Aku benar-benar mengira kita punya rencana, tapi itu tidak benar-benar terjadi! (tertawa)"

Frasa seperti, "Ayo bertemu saat musim semi" atau "Ayo kita minum teh kapan-kapan" adalah indikasi bahwa frasa tersebut tidak memiliki arti. Berhati-hatilah saat menafsirkan tanggapan sosial orang Jepang!