Share on

Mengapa orang Jepang sopan? Orang Jepang memang dikenal sangat sopan dan disiplin, itu karena mereka berhati-hati untuk menghindari konflik. Mereka memanfaatkan tatemae yang berarti "berperilaku nyaman untuk orang lain". Dengan kata lain, orang Jepang berusaha untuk berbicara dan bertindak untuk menghindari masalah dengan cara apa pun, bahkan jika itu berarti harus mengatakan kebohongan sekali pun. Artikel ini akan membahas budaya tatemae sambil berusaha menjelaskan apa yang mendasari orang Jepang tidak mengizinkan kegagalan dalam bersikap.

Cara Berpikir yang Sama

Di Jepang, mereka dibesarkan dengan pola pikir apa yang disetujui mayoritas adalah benar dan lainnya adalah salah. Contoh nyatanya adalah di Jepang menelepon di dalam kereta umum adalah sesuatu yang kurang sopan, banyak prang menggunakan ponsel mereka hanya untuk mengirim pesan teks,mendengarkan musik atau menonton video. Itu karena mayoritas setuju jika  menelpon di dalam transportasi umum mengganggu ketenangan orang lain. Lantas cara pandang ini menjadi norma baru di masyarakat Jepang, mereka akan merasa malu jika melanggar norma umum dalam masyarakat.

etika naik eskalator di jepang
Etika naik eskalator di Jepang (press.ikidane-nippon.com)

 Di sisi lain, muncul budaya migi e narae yang secara kasar berarti "mengikuti orang di sebelah kanan", memunculkan kebiasaaan mematuhi aturan di depan umum. Misalnya ketika naik eskalator, mereka akan menunggu di sisi kiri sedangkan sisi kanan dikosongkan untuk orang yang terburu-buru. Bagi orang Jepang itu adalah hal yang yang wajar untuk menciptakan kenyaman bersama.

Tatemae, Mengabaikan Perasaan Diri Sendiri demi Kebaikan Orang Lain

Orang Jepang sangat bersikap berhati-hati, mereka berusaha untuk tidak menyinggung perasaan orang lain dan menghindari konflik. Inilah sifat tatemae, terlepas dari apa yang dirasakannya, prioritas diberikan kepada orang lain agar terlihat lebih baik di depan umum. Sebagai contoh, bayangkan kamu berada di sebuah pesta, lalu dihampiri oleh orang yang baru pertama kali kamu temui. Orang itu  mungkin mengundangmu untuk datang ke pestanya lagi kapan-kapan. Kamu mungkin menjawab, "Tentu, kabari saya” respons ini adalah cara orang Jepang menolak seseorang dengan sopan.

Apa yang Menyebabkan Orang Jepang Selalu Bersikap Berhati-hati?

Di Jepang, adalah hal biasa bagi mereka untuk mempersiapkan diri dan berhati-hati untuk menghindari kesalahan. Perlahan, ini menjadi norma baru dalam orang Jepang untuk selalu bersikap sopan. Penyebabnya adalah sistem pendidikan Jepang telah menanamkan dalam diri siswa rasa takut untuk melakukan sesuatu yang berbeda dari orang lain. Mereka terperangkap oleh pola bikir yang sama. Jadi, bagaimana jika seseorang yang membuat kesalahan di Jepang? Sebagai contoh kamu naik kereta yang penuh dan tiba-tiba menyenggol orang di sebelahmu. Meskipun kamu bilang maaf, mereka mungkin tidak akan menanggapi permintaan maafmu. Memang terdengar dingin, itu karena mereka pun menghindari perhatian mencolok.

orang jepang memperhatikan sekitar
Di Jepang, berbuat kesalahan sama dengan menganggu kenyamanan orang lain (tsunagujapan.com)

Nilai Konservatif Lahir Dari Pendidikan Jepang dan Struktur Sosial

Orang-orang Jepang mencoba untuk mengikuti mayoritas, menghindari membuat kesalahan, dan menyembunyikan niat mereka yang sebenarnya agar semuanya berjalan dengan lancar. Orang Jepang, kemudian, cenderung eksklusif dan konservatif mengenai budaya dari negara lain. Tapi bagaimana mereka menyikapi orang asing?  Sebagai contoh kamu sebagai  ingin pindah ke Jepang dan tinggal di apartemen, kamu harus melalui berbagai proses pendataan dan bahkan kamu bisa saja gagal untuk tinggal di sana karena masih ada tempat yang tidak mengizinkan penduduk asing sama sekali. Mereka yang memiliki gaya hidup berbeda dari orang Jepang akan dianggap menciptakan ketidakteraturan dalam tatanan sosial mereka.

Tempat wisata bersejarah dan teknologi canggih dapat ditemukan di seluruh Jepang, tapi dalam masyarakat modern yang menyerukan lebih banyak globalisme, Jepang masih tertinggal dalam metode komunikasi dan bagaimana mereka menangani pengunjung asing. Cukup ironis, bukan?