Share on

Kehormatan, tanggung jawab, dan rasa malu adalah tiga sifat yang berakar dalam budaya Jepang yang telah dianut berabad-abad lamanya. Pikirkan seorang prajurit samurai kehilangan kehormatannya. Dia bisa mengembalikan kehormatannya hanya dengan bunuh diri, dengan cara melakukan hara-kiri. Tindakan seperti itu dianggap sebagai cara heroik untuk mati, untuk membiarkan prajurit tersebut menghilangkan jejak rasa malu yang mungkin terkait dengan namanya.

Advertise With Us

Tidak seperti budaya Barat, di mana banyak isu sosial berkisar pada rasa bersalah dan dapat dipecat melalui proses hukum atau melalui psikoterapi atau tindakan pengakuan kepada seorang pastur atau pemuka agama lainnya, konsep rasa malu adalah inti dari budaya Jepang dan tidak dapat dilupakan sampai orang tersebut melakukan apa yang diharapkan masyarakat. Harapan itu sering kali mencakup hal yang sadis seperti mengambil nyawa seseorang.

Selamat Dari Karamnya Kapal Titanic, Pria Jepang Ini Dianggap Pengecut
Masabumi Hosono (image : Wikipedia)

Masabumi Hosono (15 Oktober 1870 - 14 Maret 1939) bukanlah orang biasa; Dia adalah satu-satunya orang Jepang, yang melakukan perjalanan di RMS Titanic, kapal terkenal di dunia. Tidak hanya itu, dia ternyata salah satu penumpang yang selamat dari karamnya kapal tersebut. Ketika kembali ke darat, dia dikelilingi oleh pemerintah dan juga bangsanya yang menolak keputusannya untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Mereka kecewa karena pria tersebut lebih memilih turun dari kapal dibandingkan tenggelam dengan ratusan orang lainnya, yang kehilangan nyawa mereka.

Hosono (42) adalah seorang pegawai negeri yang bekerja untuk dinas transportasi Jepang. Pada tahun 1910, dia dikirim ke Rusia untuk meneliti sistem kereta api pusat Rusia. Dalam perjalanannya kembali ke Jepang ia harus naik kapal Titanic pada tanggal 10 April 1912. Ketika Hosono tidur nyenyak pada malam 14 April, dia dibangunkan oleh seorang pelayan di kompartemen kelas dua kapal tersebut. Meskipun dia dihalangi untuk pergi ke dek kapal, dia berhasil lolos dan melihat sinyal yang diberikan untuk mendapatkan bantuan dari kapal yang lewat. Dia melihat pemandangan yang mengerikan dimana sebagian besar sekoci pergi dan tidak ada harapan yang tersisa, di mata para penumpang, untuk bertahan hidup.

Setelah selamat dari karamnya kapal Titanic, dia kembali ke rumah di mana dia dianggap sebagai pengecut oleh masyarakat Jepang, pers dan pemerintah karena keputusannya yang menyelamatkan dirinya sendiri daripada tenggelam bersama kapal. Dia meninggal dengan keadaan bangkrut pada tahun 1939. Menurut Jepang, alih-alih menyelamatkan wanita dan anak-anak dan mengalami kematian yang terhormat, Hosono menyelamatkan nyawanya dan mempermalukan Jepang di mata dunia. Dia bahkan dituntut untuk melakukan bunuh diri untuk menghapus kesalahannya tersebut.

(featured image : The Vintage News)