Berita Jepang | Japanesestation.com

Rambut bagaikan sebuah mahkota, baik itu untuk pria maupun wanita. Oleh karena itu, seseorang sangat menghargai rambut mereka. Mereka akan berlomba dalam merawat rambut agar tetap sehat maupun mengaturnya sedemikian rupa agar dapat mengikuti perkembangan zaman. Berbicara mengenai rambut, di Jepang sendiri tren gaya rambut juga mengalami evolusi.

gaya rambut orang Jepang
Evolusi gaya rambut orang Jepang (tokyoweekender.com)

Pada zaman dahulu, masyarakat Jepang terbiasa untuk membiarkan rambut panjang mereka terurai. Ini berawal pada periode Heian (794-1185), dimana pada saat itu budaya Jepang sangat dipengaruhi oleh budaya Tionghoa; dan gaya rambut ini menjadi salah satu standar kecantikan pada zamannya.

Setelah periode Heian berakhir, gaya rambut menjadi semakin berkembang dan lebih rumit. Perkembangan ini mulai terjadi pada periode Edo hingga awal periode Showa, khususnya pada tahun 1603-1868 yang merupakan tahun keemasan nihongami.

Nihongami merupakan salah satu gaya rambut tradisional orang Jepang. Untuk para wanita, rambut akan dibentuk melebar ke samping telinga, kemudian ditarik ke atas atau kebelakang membentuk sanggul. Gaya serupa dapat dilihat pada geisha dan maiko modern. Sedangkan untuk para laki-laki, nihongami yang diaplikasikan adalah dengan membotaki sebagian rambut pada bagian atas, kemudian sisa rambut yang lain diikat ke atas. Gaya rambut ini biasa disebut dengan chonmoge.

Pada periode ini, mengikat rambut dengan gaya nihongami sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Jepang. Alasannya tidak lain karena gaya rambut ini memudahkan mobilitas mereka. Khususnya pada wanita bangsawan Jepang yang harus memakai 12 lapis kain kimono, gaya rambut terurai atau “Heian Hair” yang sebelumnya diadaptasi dari budaya Tionghoa dianggap menjadi suatu hal yang merepotkan bagi mereka; terutama ketika mereka harus mencuci rambut dengan kain-kain yang membelit tersebut. Selain merepotkan bagi si pemilik, para atendan pastinya juga akan kerepotan ketika harus membantu mencuci rambut para bangsawan tersebut.

Setiap jenis gaya rambut nihongami merupakan indikator dari status dan peran seseorang dalam masyarakat. Sebagai contoh pada wanita, nihongami dapat memperlihatkan apakah seorang wanita tersebut adalah gadis muda yang belum menikah ataukah seorang janda. Sedangkan untuk laki-laki, nihongami dapat merepresentasikan status seseorang, apakah dari kelas terhormat atau tidak.

Gaya rambut orang Jepang kemudian mulai mengalami perkembangan menuju tren gaya barat pada Restorasi Meiji  (1868). Hal ini terlihat pada periode Taisho, kemudian berlanjut ke periode Showa. Pada periode ini, khususnya para pria yang mendorong adanya perubahan, lebih memilih potongan rambut pendek dan penampilan berkumis ketimbang gaya rambut seperti chonmoge (jambul) layaknya seorang samurai.

Setelah perang Showa berakhir, para wanita perlahan juga mulai meninggalkan nihongami. Bahkan, kimono mulai tak digunakan sebagai pakaian sehari-hari. Perkembangan zaman menjadi alasan kuat yang memungkinkan para anak muda untuk dapat selalu berkreasi dengan gaya rambut dan gaya berpakaian mereka. Hal ini dapat terlihat pada tahun 1980-an. Pada tahun ini, gaya rambut bergelombang dan bervolume mulai digemari. Sedangkan pada tahun 1990-an, gaya rambut runcing menjadi tren gaya rambut yang populer di Jepang, dan ini bertahan hingga tahun 2000-an. Lalu kini, tren gaya rambut unisex dan androgini dengan shade rambut yang terang menjadi tren gaya rambut di Jepang.

Terlepas dari adanya evolusi gaya rambut yang ada di Jepang, hingga saat ini nihongami masih kerap digunakan orang Jepang untuk menghadiri acara-acara besar, seperti festival dan lain-lain. Tentunya, dengan sedikit modifikasi agar dapat mengikuti perkembangan zaman.