SHARE THIS ARTICLE

Kalian tentu pernah melihat sederet papan yang biasanya berbentuk segilima seperti bentuk rumah dan bergambar kuda, digantung berderet di lingkungan jinja atau kuil di Jepang. Papan tersebut biasanya ditulisi dengan doa atau harapan penulisnya agar lebih cepat dikabulkan oleh dewa. Papan tersebut dikenal dengan nama ema. Namun, bagaimana sih asal muasal papan tersebut hingga dianggap manjur untuk membantu doa agar dapat terkabul? Mari kita lihat di bawah ini!

(image: minnano-jouba.com)

Dalam kepercayaan di Jepang, dipercaya bahwa para dewa turun ke dunia manusia dengan menunggangi kuda. Kuda tunggangan para dewa tersebut dianggap sebagai kuda yang suci, dan dinamakan shinme, jinme, atau kamiuma, yang ditulis dengan gabungan kanji 神 yang berarti dewa dan kanji 馬 yang berarti kuda. Bangunan jinmesha (yang berarti istal kuda suci) yang terdapat di lingkungan jinja, berasal dari kepercayaan ini.

Sejak zaman Nara, berdoa selalu dibarengi dengan persembahan berupa kuda. Pada kitab sejarah Shoku Nihongi yang berasal dari zaman Nara, tertulis bahwa untuk melakukan doa, harus melakukan persembahan kuda hidup kepada dewa. Pada kitab Engishiki, tertulis bahwa pada zaman Heian, untuk mendoakan turunnya hujan, harus dibarengi dengan persembahan kuda hitam, sedangkan untuk memohon cuaca cerah, harus dibarengi dengan persembahan kuda putih.

Meski demikian, mempersembahkan kuda hidup ternyata adalah hal yang sangat sulit dilakukan, sehingga mulai digunakan subtitusi berupa kayu, kertas, atau tanah liat yang dibentuk menjadi kuda, hingga akhirnya yang paing banyak digunakan adalah ‘ema‘ yang digambari dengan gambar kuda.

(image: wikipedia.org)

Demikianlah asal muasalnya papan yang menjadi persembahan di jinja maupun kuil diberi nama ema (yang ditulis dengan huruf kanji 絵 yang berarti gambar, dan huruf kanji 馬 yang berarti kuda). Meski demikian, ema sendiri tidak selalu bergambar kuda. Kadang-kadang yang tergambar pada ema adalah hewan lain yang berkaitan dengan kuil atau jinja tersebut. Adapun penyebab ema berbentuk persegi lima seperti bentuk rumah adalah karena pada zaman dahulu, pada ema sering ditempel sebentuk atap untuk menggambarkan jinmesha.

(Featured image: allabout.jp)

Source : allabout.co.jp
COMMENT