SHARE THIS ARTICLE

Sebagai sebuah film perang, The Last Samurai (2003) yang dibintangi Tom Cruise bisa dibilang adalah film yang sukses. Tanggapan pemirsa dan kritikus rata-rata sangat baik. Tapi, sebagai sebuah film yang berlatar sejarah, film ini termasuk dalam film yang mengisi daftar nilai merah dalam rapor perfilman Hollywood mengenai ketepatan sejarah.

Sambil tetap menikmati film ini apa adanya, tidak ada salahnya untuk memeriksa beberapa kesalahan sejarah yang ada di film ini. Apa sajakah itu?

1a 10863613_10152576003953543_256950715_n

1. Daripada Tom Cruise, lebih cocok Michael Fassbender

Nathan Algren, tokoh utama The Last Samurai yang diperankan Tom Cruise, diceritakan sebagai serdadu veteran Perang Saudara Amerika Serikat yang dikirim ke Jepang untuk melatih prajurit.

Padahal, selepas Restorasi Meiji (1868), Jepang tidak pernah bekerja sama dengan Amerika Serikat dalam membangun negaranya–apalagi militernya. Amerika Serikat pada masa itu hanya banyak melakukan hubungan dagang dengan Jepang. Justru, “sobat karib” Jepang dalam bidang militer pada masa itu adalah Inggris dan Jerman.

Inggris sejak abad pertengahan dikenal sebagai kekuatan laut yang adidaya–bisa dilihat kekuasannya sampai menjangkau Singapura dan sempat juga Indonesia–sementara Jerman dan sekitarnya dikenal memiliki angkatan darat yang tangguh.

Sebab itu, dalam pelatihan serdadu dan pengembangan angkatan darat Jepang, pemerintah Jepang banyak mengimpor penasehat-penasehat militer Prussia (sekarang Austria, negara di sebelah Jerman). Dari formasi dan taktik, strategi militer, dan bahkan seragam, angkatan darat Jepang meniru model yang dimiliki oleh Jerman.

Seragam serdadu Kekaisaran Jerman (kiri) dan seragam serdadu Kekaisaran Jepang (kanan). Model seragam ini juga diadaptasi untuk seragam murid lelaki di sekolah-sekolah. Sumber: http://en.wikipedia.org
Seragam serdadu Kekaisaran Jerman (kiri) dan seragam serdadu Kekaisaran Jepang (kanan). Model seragam ini juga diadaptasi untuk seragam murid lelaki di sekolah-sekolah. Sumber: http://en.wikipedia.org

Dalam film juga sempat digambarkan bagaimana orang Jepang nampak kebingungan dengan senapan sebagai persenjataan-persenjataan yang dikenalkan oleh Amerika Serikat. Padahal kenyataannya, senapan sudah jadi bagian dari pertempuran Jepang selama 250 tahun sebelum Restorasi Meiji–saat masih terjadi pertempuran antara tuan tanah di masa Sengoku.

Senapan api pertama kali masuk ke Jepang di tahun 1543 melalui para pedagang-pedagang Portugis yang terdampar di Kepulauan Tanegashima, di sebelah barat daya Jepang. Semenjak itu, senapan api menjadi senjata kegemaran para serdadu (ashigaru) dan pada tahap tertentu juga digunakan oleh samurai dalam pertarungan skala besar.

Oda Nobunaga merupakan salah satu daimyo di masa Sengoku yang paling dahulu menerapkan taktik tempur dengan menggunakan senapan. Selama berkuasa sebagai daimyo, Nobunaga membangun beberapa pabrik-pabrik senapan; salah satunya di kawasan Kunitomo yang setelah kematian Nobunaga menjadi basis pabrik senapan Toyotomi Hideyoshi.

Ilustrasi kurofune (kapal hitam) Komodor Perry, digambarkan sebagai kapal yang mengerikan. Sumber: http://ocw.mit.edu
Ilustrasi kurofune (kapal hitam) Komodor Perry, digambarkan sebagai kapal yang mengerikan. Sumber: http://ocw.mit.edu

2. Jepang bukan sedang dibantu Barat, tapi “dijajah” Barat

Dalam film digambarkan Jepang bernegosiasi dengan Amerika Serikat untuk mencapai kesepakatan dagang yang adil mengenai pembelian senapan mesin Gatling. Kenyataannya,  Jepang tidak mungkin punya kekuasaan politik yang cukup besar untuk menolak kesepakatan dari pihak Amerika Serikat.

Sepanjang abad ke-19, Jepang sedang dalam posisi yang sangat lemah di mata internasional. Sebelum terjadi Reformasi Meiji, Jepang dilanda krisis ekonomi dan pangan. Kaum samurai yang jadi kelas penguasa dilanda sengketa politik. Malahan, bisa dibilang Reformasi Meiji merupakan akibat dari dorongan yang dipaksakan oleh pihak asing agar Jepang, yang selama 200 tahun mengisolasi diri, mau menjalin hubungan dengan negara lain.

Salah satu peristiwa signifikan yang menandai hal ini adalah kedatangan Komodor Perry dari angkatan laut Amerika Serikat. Mendesak Jepang agar mau menjalin kerja sama ekonomi dengan Amerika, Perry datang membawa armada kapal dan mengepung Pelabuhan Edo (sekarang Tokyo). Ancaman Perry jelas: bila Jepang tidak mau menyetujui kontrak kerja sama dengan Amerika Serikat, maka Edo akan dibombardir.

Setelahnya, Jepang menandatangi beberapa traktat “kerja sama” dengan negara-negara Barat yang tidak adil. Di antaranya adalah Nichibei Shukou Tsushou Jouyaku (Traktat Persahabatan dan Perdagangan) yang memberikan hak khusus bagi setiap warga negara Amerika Serikat untuk tinggal, membangun rumah, dan melakukan jual-beli di empat pelabuhan besar Jepang.

Traktat lainnya adalah Traktat Ansei, yang memperbolehkan semua warga asing untuk tidak hanya tinggal dan berjual-beli di kota-kota utama Jepang, tapi juga kebal hukum Jepang dan membebaskan biaya impor produk-produk asing.

Sebagaimana diketahui selanjutnya, Jepang pun membuka diri dan terjadilah yang disebut Reformasi Meiji. Sebagian masyarakat Jepang saat itu sangat muak dengan besarnya pengaruh asing di negara mereka dan sempat menggalang slogan sonno joi, “hormati kaisar, usir para barbar.”

Ilustrasi Saigo Takamori, pemimpin Pemberontakan Satsuma, nampak mengenakan seragam serdadu pemerintah. Sumber: http://artelino.com
Ilustrasi Saigo Takamori, pemimpin Pemberontakan Satsuma, nampak mengenakan seragam serdadu pemerintah. Sumber: http://artelino.com

3. Bukan soal tradisi Jepang vs kekuatan Barat, tapi soal bangsawan yang terancam kehilangan kekuasaannya vs orang kaya baru yang bekerja sama dengan asing

Meski dalam takaran tertentu saat itu Jepang memang sedang “dijajah” Barat, tapi bukan berarti apa yang terjadi saat itu mirip dengan bagaimana orang Indonesia bersama-sama memperjuangkan tradisi dan kemerdekaannya sebagai bangsa.

Samurai di abad ke-19, latar yang diangkat dalam The Last Samurai, bukanlah lagi samurai yang ada dalam bayangan populer sebagai sosok petarung yang mengusung kode etik. Setelah melalui masa damai selama 200 tahun, samurai di masa ini adalah sosok pejabat, birokrat, pemungut pajak, dan tuan tanah.

Sebab itu, sebagaimana banyak pejabat dan birokrat di masa kini, banyak samurai yang menjelma jadi sosok yang korup, egois, dan meraup keuntungan demi dirinya sendiri. Di abad ke-19, tidak sedikit samurai yang tidak lagi peduli dengan kode etik atau bushido sebagaimana digambarkan di film.

Dan sebagaimana politisi yang sering bersitegang perkara politik, begitu pula dengan samurai di abad ke-19. Pemberontakan Satsuma yang diangkat dalam film ini adalah akibat dari perseteruan politik tersebut.

Dalam film digambarkan perang ini digambarkan sebagai perang antara samurai yang mempertahankan tradisinya melawan kekuatan asing, tapi kenyataannya lebih tepat bila disebut bahwa pemberontakan ini adalah perang antara bangsawan lama yang mulai kehilangan kekuasaannya, dengan pemain-pemain baru–berada di pemerintahan–yang bekerja sama dengan asing.

Ketika akhirnya Jepang menyetujui traktat-traktat tidak seimbang yang dipaksakan oleh negara-negara Barat, saat itu yang paling diuntungkan di antara orang-orang Jepang adalah orang-orang kaya baru yang keluarganya berasal dari keluarga samurai-samurai kecil, tapi berhasil naik pangkat di pemerintahan karena keberhasilannya dalam sektor industri. Orang-orang kaya baru ini menggantikan para samurai dari keluarga-keluarga besar yang tidak punya kegiatan ekonomi aktif selain dari nama besar kebangsawanannya.

Di antara orang-orang kaya baru tersebut ada yang kemudian dikenal sebagai zaibatsu, keluarga-keluarga yang berhasil membuat perusahaan besar dan mengendalikan perekonomian Jepang. Keluarga Sumitomo, Mitsui, Mitsubishi, dan Yasuda adalah empat taipan bisnis terbesar.

Ketika akhirnya Pemberontakan Satsuma pecah seperti yang digambarkan dalam film, yang terjadi adalah usaha para orang-orang kaya baru tersebut–yang bekerja sama dengan asing–untuk menghapus para bangsawan-bangsawan samurai kuno dari lingkar kekuasaan.

Diolah dari:

Cook, Haruko. Japan at War: An Oral History (Florida: The New Press, 1993)

Jansen, Marius. The Making of Modern Japan (Cambridge: Belknapp Press, 2002)

Moore, Barrington. The Social Origins of Dictatorship and Democracy (Boston: Beacon Press, 1993)

COMMENT