Share on

Diberlakukannya travel alerts dan pembatasan penerbangan sangat berdapampak pada sektor pariwisata terhadap seluruh dunia, termasuk Jepang. Jepang merupakan salah satu destinasi wisata terfavorit di seluruh dunia banyak hal-hal yang menarik turis mulai dari makanan, budaya dan gaya hidup yang sangat menarik untuk dieksplorasi. Jepang kini mengalami penurunan yang sangat signifikan dalam segi pariwisata dengan berkurangnya 99.9% wisatawan asing pada musim ini (April - Mei) dibandingkan tahun lalu.

Menurut Organisasi Pariwisata Nasional Jepang, ini adalah pertama kalinya Jepang mengalami angka penurunan dalam sektor wisata yaitu di bawah 10.000 sejak 1964. Dan merupakan persentase penurunan terbesar yang pernah ada atau dialami.

Pada tanggal 3 April kemarin, Jepang memperpanjang pembatasan perjalan ke 73 negara dan mengumumkan keadaan darurat empat hari kemudian. Begitu juga jalur masuk ke Jepang, walaupun sekarang PM Jepang Shinzo Abe telah mencabut status darurat tersebut.

Meskipun Jepang telah mengalami penurunan jumlah kasus COVID-19, sektor wisata masih mengalami kemerosotan hingga saat ini. Padahal, tahun lalu Jepang mampu menarik 31,9 juta wisatawan asing untuk berkunjung ke negeri sakura ini.

Pada tahun ini sebenarnya Jepang telah menargetkan mampu mendatangkan 40 juta wisatawan terutama ketika event terbesar di dunia Olimpiade Tokyo 2020 diadakan.

Sempat pula muncul pembicaraan yang mengatakan bahwa Badan Pariwisata Jepang akan memberikan subsidi 50% pembayaran dari total perjalanan para wisatawan asing untuk berkunjung ke Jepang. Mereka ingin kembali menarik para wisatawan dan membangkitkan sektor pariwisata agar berjalan normal.

Namun subsidi 50% ini masih sebatas gagasan dan belum ada detail lanjut mengenai syarat dan ketentuan tersebut. Kira-kira wisatawan dari Indonesia akan mendapatkan subsidi itu jugakah?