Anggota majelis Prefektur Mie, Ayaka Yoshida, menerima lebih dari 8.000 pesan elektronik yang berisi ancaman usai mengunggah cuitan di sosial media X (dulunya Twitter) tentang penyediaan pembalut di toilet umum. Perempuan berusia 27 tahun itu telah melaporkan kejadian ini ke kepolisian setempat pada Senin (31/03) lalu karena intimidasi dan menekan aktivitasnya sebagai anggota majelis prefektur.

Menurut keterangan dari pihak sekretariat, pesan elektronik yang berisi ancaman pembunuhan telah dikirimkan oleh pengirim yang sama pada hari Jumat (28/03) pukul 20.00 dan Senin pada pukul 15.50 waktu setempat. Selain berisi ancaman, banyak pesan elektronik yang dikirim dengan nada mengejek, seperti “Dari usianya, dia harus tahu untuk bawa pembalut sendiri.”
Yoshida mengunggah sebuah cuitan di X tentang harapannya agar pembalut dapat disediakan di toilet umum. “Saya lengah dengan jadwal menstruasi saya dan tidak ada pembalut di toilet Balai Kota. Saya berharap pembalut bisa disediakan di toilet umum seperti tisu,” ucap anggota Japanese Communist Party di sosial media pribadinya pada minggu lalu.