Share on

Pemerintah Jepang melalui Kepala Sekretaris Kabinet-nya, Yoshihide Suga, mengumumkan bahwa mereka telah mengeksekusi mati seorang pria bernama Shoko Asahara, pada hari Jumat (6/7). Ia merupakan pendiri dari aliran sekte baru, Aum Shinrikyo sekaligus sosok dalang dibalik serangan teror gas sarin tahun 1995 di sistem kereta bawah tanah Tokyo yang menelan banyak korban, serta sejumlah kejahatan mengerikan lainnya antara tahun 1980-an dan 90-an.

Japanese Station TV

Menurut sumber-sumber yang berasal dari pihak pemerintah, enam anggota sekte Aum Shinrikyo lainnya, Tomomasa Nakagawa (55), Kiyohide Hayakawa (68), Yoshihiro Inoue (48), Masami Tsuchiya (53), Seiichi Endo (58), dan Tomomitsu Niimi (54), juga ikut dieksekusi.

Asahara (63), yang memiliki nama asli Chizuo Matsumoto, diputuskan bersalah karena perannya dalam 13 kejahatan yang menyebabkan korban meninggal sebanyak 27 orang, yang kemudian meningkat menjadi 29 orang. Dalam serangan kereta bawah tanah Tokyo, 13 orang dinyatakan meninggal dunia dan lebih dari 6.000 orang mengalami luka-luka. Hukuman mati untuk guru aliran Aum Shinrikyo tersebut, pertama kali diturunkan oleh pihak Pengadilan Distrik Tokyo pada bulan Februari 2004 silam dan diselesaikan oleh Mahkamah Agung pada bulan September 2006.

Kejahatan yang ia lakukan juga termasuk kasus pembunuhan pengacara Tsutsumi Sakamoto, istrinya serta putra mereka yang baru berusia 1 tahun pada bulan November 1989 dan serangan gas sarin lainnya di Matsumoto, Prefektur Nagano, pada Juni 1994. Serangan tersebut telah menewaskan delapan orang dan sekitar 600 orang lainnya dilaporkan terluka.

Eksekusi Shoko Asahara sempat ditunda sementara karena proses pengadilan yang panjang juga melibatkan pengikut Aum lainnya yang dituduh terlibat dalam kejahatan, yang terjadi selama beberapa tahun. Selain Asahara, 191 anggota Aum Shinrikyo didakwa atas sejumlah tindak kriminal, termasuk pembunuhan, percobaan pembunuhan, penculikan dan produksi gas-gas syaraf yang mematikan serta senapan otomatis ilegal, dan dua belas diantaranya telah dijatuhi hukuman mati.

Namun, dieksekusinya Shoko Asahara juga meninggalkan beberapa pertanyaan penting yang tidak terjawab, karena bahkan selama persidangannya, ia tidak pernah menjelaskan motivasi sebenarnya melakukan kejahatan. Selama 10 tahun terakhir, sang guru dilaporkan menolak semua permintaan pertemuan dari luar penjara, bahkan dari anggota keluarga sekalipun. Selama persidangan berlangsung, Asahara juga sangat jarang sekali berbicara atau mengucapkan kata-kata yang tidak dapat dipahami dengan jelas oleh siapa pun.