SHARE THIS ARTICLE

Merek Panasonic secara global lebih lekat dengan barang-barang elektronik berkualitas, terutama televisi atau pendingin ruangan. Mungkin tak ada orang yang mengira bahwa perusahaan ini pada awalnya adalah produsen sakelar dan lampu sepeda.

Produk elektronik jadul di Museum Konosuke Matsushita, Osaka, Jepang. (KOMPAS.COM/LUSIA KUS ANNA)
Produk elektronik jadul di Museum Konosuke Matsushita, Osaka, Jepang. (KOMPAS.COM/LUSIA KUS ANNA)

Perusahaan yang berpusat di Osaka, Jepang ini mulai beroperasi pada 7 Maret 1918. Saat itu seorang pemuda bernama Konosuke Matshusita yang baru berusia 23 tahun mendirikan perusahaan Matsushita Electric Devices Manufacturing Company.

Semuanya berawal tahun 1904 ketika Matsushita dalam usia 9 tahun magang di toko sepeda, merasa terkesan dengan daya listrik pada lampu sepeda. Rasa ingin tahu tentang kelistrikan makin berkembang ketika menjadi teknisi listrik pada usia 15 tahun (1910).

Pada masa awal, perusahaan ini hanya diisi oleh tiga staf. Mereka antara lain Konosuke Matsushita, Mumeno Matsushita (22) saudara iparnya, dan Toshio Lue (15), sang istri. Kemudian mereka mengubah tiga ruangan di lantai dasar rumah Matsushita menjadi bengkel. Bengkel tersebut saat ini masih tetap dipertahankan dan bisa kita lihat di bagian depan museum.

Gedung museum Konosuke Matsushita sebenarnya merupakan replika dari kantor pusat ketiga perusahaan Panasonic di Osaka. Berada di dalam museum ini kita seperti masuk ke lorong waktu. Bagaimana tidak, barang-barang yang dipamerkan di sini adalah barang-barang elektronik kuno yang mungkin merupakan barang paling canggih pada masanya.

Salah satunya adalah radio kuno yang terbuat dari kayu. Radio yang bernama “Tosen-go” ini diproduksi tahun 1931. “Saya ingin menciptakan radio yang ideal dan bebas masalah,” begitu perintah Matsushita saat meminta insinyur di kantornya untuk menciptakan radio yang ideal.

Setelah tiga bulan melakukan uji coba, akhirnya para insinyur menemukan ide radio tiga tabung. Radio ini lalu diikutkan dalam kontes yang diadakan oleh Tokyo Broadcasting Station dan mendapatkan juara pertama.

Kita juga bisa melihat alat-alat elektronik jadul, mulai dari televisi buatan tahun 1952, kulkas dari tahun 1953, mesin cuci buatan tahun 1951, sampai penanak nasi produksi tahun 1959. Yang menarik, ternyata mesin cuci pada masa itu lebih mirip dengan tong besar yang dilengkapi dengan semacam tuas pemutar di sampingnya.

Setrika di Museum Konosuke Matsushita, Osaka, Jepang. (KOMPAS.COM/LUSIA KUS ANNA)
Setrika di Museum Konosuke Matsushita, Osaka, Jepang. (KOMPAS.COM/LUSIA KUS ANNA)

Cerita menarik lainnya adalah dari produk setrika listrik. Setrika listrik super buatan tahun 1927 ini sangat populer pada masanya karena harganya yang murah. Pada zaman itu, setrika listrik hanya dimiliki oleh orang-orang kaya. Matsushita lalu memutuskan untuk memproduksi setrika listrik yang berkualitas tinggi, mudah dioperasikan, dan harganya murah.

Ia lalu menyuruh Nakao Tetsujiro yang saat itu jabatannya adalah kepala riset dan development untuk mewujudkan setrika impiannya. Tanpa ada orang yang bisa ditanya dan rujukan teknis, Tetsujiro lalu membeli beberapa setrika yang ada di pasaran dan membongkarnya untuk dipelajari. Setelah beberapa perubahan desain, akhirnya ia berhasil membuat satu setrika.

Tetsujiro juga berhasil memangkas ongkos produksi sampai 30 persen dengan cara membuat barang secara massal. Ketika itu ia berhasil memproduksi 1.000 setrika per bulan, jumlah itu jauh lebih banyak dari total setrika yang dijual di Jepang setiap bulannya. Setrika yang murah dan bagus itu pun laku keras.

Matsushita pada saat itu memasarkan produknya dengan merek Matsushita dan National. Walau diawali dengan membuat lampu sepeda, tapi perusahaan ini dengan cepat dikenal sebagai produsen barang-barang elektronik berkualitas. Di tahun 1929 ia sudah memiliki 3.000 karyawan.

Pada awalnya Matsushita memang hanya memakai merek Panasonic untuk produk-produk yang dipasarkan di luar Jepang. Baru di tahun 2003 seluruh produk perusahaan memakai nama Panasonic. “Panasonic itu berasal dari kata ‘pan’ dan ‘sonic’, yang berarti menggemakan suara. Dulunya Panasonic ini dipakai untuk merek radio,” kata Ezaki.

Pemikir

Masahiro Ezaki, Associate Director Museum Konosuke Matsushita, menggambarkan Matsusitha sebagai orang yang punya rasa ingin tahu besar tentang kelistrikan. Pendiri Panasonic Coorporation ini juga orang yang sangat kompetitif dan pemikir.

Selain melihat evolusi barang-barang elektronik, di museum ini kita juga bisa mengenal lebih dekat visi misi Matsushita yang mengagumkan. Matsushita yang dikenal sebagai seorang industrialis besar abad 20 ini memang punya ketertarikan yang besar pada filosofi.

Tujuan hidup Masushita bukan hanya pada kekayaan, tapi ia ingin mendedikasikan hidupnya untuk meningkatkan kualitas hidup orang banyak,” katanya ketika ditemui di Osaka akhir November lalu.

Salah satu pemikiran Matsushita yang paling terkenal adalah upaya penghapusan kemiskinan. Matsushita antara lain menyatakan, bisnis mempunyai tugas dan tujuan suci menghapuskan kemiskinan dan mendorong kesejahteraan masyarakat. Matsushita menegaskan, upaya penghapusan kemiskinan merupakan tugas mulia dan tujuan hidup. Caranya? Tentu saja dengan bekerja keras. Pemikiran-pemikiran Matsushita tersebut telah dituangkan dalam beberapa buku.

Atas segala dedikasi Matsushita, Kaisar Jepang bahkan memberikan penghargaan Grand Cordon of the Order of The Rising Sun, penghargaan tertinggi yang diberikan untuk pemimpin bisnis, politikus, atau diplomat.

Source : travel.kompas.com
COMMENT