Share on

Pada tahun 2013 silam, muncul sebuah tren unik di Jepang yang dinamakan rui-katsu, sebuah terapi menangis. Ya, menangis. Lebih tepatnya, berkumpul untuk menangis bersama-sama untuk mendorong agar orang-orang menggunakan tangisan sebagai cara untuk melepas stress yang ia pendam dan kembali bahagia.

Advertise With Us

Terapi menangis (sekaligus istilahnya) pertama kali diciptakan di tahun yang sama oleh Hiroki Terai, seorang mantan salesman yang sebelumnya sempat meluncurkan sebuah bisnis sukses “divorce ceremonies/upacara perceraian” bagi pasangan yang berencana untuk bercerai. Setelah melihat kliennya menangis dan bercerai dalam situasi yang baik, ia mendapat ide untuk menggelar even rui-katsu.

“Aku menyadari bahwa orang-orang tak dapat menangis kecuali jika ada usaha dan kesadaran,” katanya pada Asahi Shimbun.

Nama rui-katsu sendiri (“aktivitas menangis”) diambil dari konsep, “cara terbaik untuk menjaga mental agar tetap sehat.” Dan sejak Januari 2013, Terai pun menggelar even rui-katsu.

terapi menangis Jepang rui-katsu japanesestation.com
Seorang pria Jepang menangis saat rui-katsu (theatlantic,com)

Respon terhadap even yang dibuat Terai pun berbuah manis dan mulai bermunculan even-even serupa yang dipimpin oleh orang lain. Misalnya saja, salah satu even yang digelar pada tahun 2015 silam, di mana seorang wanita berkomentar, “Rui-katsu tidak seeperti mengangis sendirian di kamarku. Aku tak merasa depresi setelah menangis di sini,” ujar wanita berusia 23 tahun itu pada Asahi Shimbun.

Sesi yang diikut wanita tersebut digelar di Tokyo, namun even serupa juga bisa dutemukan di belahan Jepang lain seperti Nagoya dan Osaka. Ya, banyak orang-orang sengaja mencari even-even seperti ini atau membagikan daftar lagu dan video klip yang dapat membuat air mata mengalir.

Sementara itu, Terai telah melebarkan sayapnya dengan menulis sebuah seri buku tentang menangis, seperti Ikemeso Danshi, yang menampilkan foto-foto pria tampan (ikemen) menangis.

Kepopuleran rui-katsu sendiri sepertinya bukan karena orang Jepang itu cengeng, justru karena mereka sulit menangis. Menurut data dari International Study on Adult Crying, dari 37 penduduk negara yang disurvei, ditemukan bahwa penduduk Jepang lah yang paling jarang menangis.

terapi menangis Jepang rui-katsu japanesestation.com
Film yang diputar saat rui-katsu (japantrends.com)

“Menyembunyikan kesedihan dan kemarahan dianggap sebagai suatu hal baik dalam kultur Jepang,” ujar seorang psikiater Jepang pada Chunichi Shimbun di tahun 2013.

Nah, selain rui-katsu, ternyata ada ”terapi menangis” serupa bernama nakugo, sebuah story-telling yang bertujuan membuat orang menangis, bertolak belakang dengan seni tradisional rakugo yang membuat orang tertawa. Nah, storyteller Nakugo, Basho Nakashiya, diperkenalkan pertama kali dalam sebuah even dengan kostum khusus yang didesain untuk storytelling yang dilakukannya.

terapi menangis Jepang rui-katsu japanesestation.com
Kostum Nakugo (japantrends.com)

Kostum tersebut terinspirasi dari dress tradisional di Bhutan, sebuah negara yang dikenal sebagai negara terbahagia di dunia. Unik juga ya?

Kembali pada Terai, dikutip dari situs Japan Trends, ia mengatakan bahwa ia memiliki misi untuk menyebarkan istilah “Gross National Tear” (GNT), yang juga terinspirasi dari istilah unik Bhutan — indeks perngukuran kebahagiaan, Gross National Happiness GNH). Ia percaya bahwa jika ia dapat memaksimalkan GNT, Jepang akan menjadi negara yang lebih baik untuk ditinggali, tidak terlalu stress dan jauh lebih enerjik.

Itulah sekilas tentang rui-katsu, terapi menangis ala Jepang. Minat mencobanya?

Sumber:

The Atlantic

Japan Trends

BBC