Share on

Pada 14 November minggu lalu, sebuah kereta yang dijadwalkan untuk meninggalkan stasiun di Prefektur Chiba pada pukul 09.44:40 berangkat 20 detik lebih awal. Alasan yang diberikan adalah kurangnya konfirmasi antara masinis dengan pihak stasiun. Bagi Jepang, yang memiliki reputasi ketepatan waktu yang baik, kabar ini dianggap mengejutkan. Meskipun di Indonesia, kita tidak akan terlalu mempermasalahkan waktu yang kurang dari satu menit. Bahkan lebih dari 5 menit pun masih terhitung wajar.

Menurut sumber, tidak ada penumpang yang ketinggalan kereta pada waktu itu, namun waktu 20 detik itulah yang menjadi masalah dan dianggap kurangnya sikap kedisiplinan diri. Di Jepang, waktu bagaikan nyawa yang perlu dijaga dan diprioritaskan. Selain itu, dengan keberangkatan yang terlalu cepat, dikhawatirkan para penumpang akan terburu-buru dan mengalami hal yang tidak diinginkan seperti terjatuh atau cedera lainnya. Ini merupakan hal yang perlu dijaga penuh oleh semua pegawai kereta api sebagai tanggung jawab mereka.

Pelajaran Budaya Dari Kasus Ketepatan Waktu Kereta Jepang
(image : funisfun)

Shinpei Gotoh merupakan tokoh yang mempelopori Jepang untuk memiliki sebuah sistem kereta yang seragam. Dia adalah presiden pertama institut kereta Jepang, lembaga yang mengelola jalur kereta nasional.

Gotoh menyebutkan untuk menjaga keseragaman sistem, seluruh pekerja kereta perlu memastikan untuk menekan kemalasan, melarang pemanjaan diri, menjaga kedisiplinan dan mendorong tanggung jawab.

Sebagai pekerja di perusahaan kereta, seluruh staff perlu melakukan pekerjaan yang multitasking dengan rasa tanggung jawab yang penuh akan segala hal yang terjadi saat kereta berjalan. Konfirmasi dan komunikasi harus tetap terhubung diantara pengendara dan penjaga stasiun agar kenyamanan dan keamanan selalu tetap terjaga.

Kereta bagi mereka bukanlah mesin dingin yang berjalan di atas rel, tetapi nyawa dari semua orang. Segala hal yang diangggap sepele, mungkin akan berpengaruh terhadap orang banyak. Sehingga kepentingan bersama harus lebih dipikirkan daripada kepentingan sepihak. Apabila kita melakukan kesalahan walaupun sedikit, ada baiknya untuk meminta maaf dan selalu rendah hati.

(featured image : Japankuru)