Share on

Zaman dahulu, ninja di Jepang adalah pasukan legendaris yang sering direkrut untuk bekerja sebagai mata-mata atau pembunuh bayaran. Mereka menggunakan pedang, shuriken atau panah beracun untuk menyingkirkan lawannya. Namun kini para ninja itu lebih sering tampil dalam pertunjukan atau acara promosi produk dan promosi pariwisata.

Seperti dilansir dari vice.com, berkat promosi pariwisata yang membuat jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Jepang meningkat, akhir-akhir ini permintaan dan kebutuhan akan para ninja juga menjadi begitu tinggi sehingga terjadi kekurangan "ninja", yang jumlahnya tidak cukup banyak untuk menghibur orang-orang yang berkunjung ke negara tersebut.

Kebutuhan akan para ninja di Jepang telah mengalami penurunan dalam jumlah pelamar untuk bergabung dengan tim pertunjukan ninja yang digelar di seluruh negeri itu. Pada tahun 2016, ada lebih dari 230 orang yang mendaftar untuk bergabung dengan tim ninja Tokugawa Ieyasu dan Hattori Hanzo Ninja Squad yang terdiri dari tujuh orang dengan gaji $ 1.600 per bulan, namun tahun ini hanya ada 22 orang saja yang mendaftar.

Selain itu ada beberapa kelompok pertunjukan ninja yang menerima banyak pelamar dan tidak melihat keterampilan mereka padahal untuk pertunjukan ninja tersebut dibutuhkan keahlian khusus dalam seni pertempuran ninjutsu kuno, akrobatik, dan pertarungan pedang. Persaingan antar kelompok pertunjukan itu juga telah membuat permintaan akan kebutuhan para ninja menjadi lepas kendali.

(Featured image: Flickr Einar Jørgen Haraldseid)