SHARE THIS ARTICLE
http://www.tribunnews.com/regional/2015/01/27/inilah-52-bangunan-karya-arsitektur-jepang-untuk-pemulihan-pascabencana-yang-dipamerkan-di-its
TAHAN GEMPA – Konsul Jenderal Jepang di Surabaya, Noboru Nomura (batik merah) saat menunjukkan sejumlah desain contoh bangunan tahan gempa di Kota Pahlawan, Selasa (27/1/2015).

Penanganan bencana alam di Jepang dikenal cepat dan efektif. Seperti gempa bumi dan tsunami 11 Maret 2011 yang menimbulkan kerusakan besar tetapi rehabilitasi sangat cepat.

Hal ini tidak terlepas dari peran aristektur Jepang yang tanggap membuat rancangan tempat sesuai dengan pemulihan pasca bencana. Sebanyak 52 karya arsitektur Jepang untuk pemulihan pasca bencana dipamerkan di Ruang SF 101-1002 Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, ITS, Selasa (27/1/2015).

Salah satu karya yang menarik perhatian adalah rumah kardus yang menjadi tempat evakuasi dadakan atau tempat penampungan sementara yang praktis, aman, dan nyaman.

Menurut Konjen Jepang, Noboru Nomura, pembuatan rumah kardus sangat cepat. Hanya dibutuhkan keahlian seperti origami untuk membuatnya. Rumah kardus ini cukup aman karena dengan berat kardus yang ringan tidak akan membahayakan nyawa seseorang terutama jika terjadi gempa susulan.

“Kalau tinggal di rumah kardus privasi orang tetap terjaga. Kalau digelar di tempat terbuka kasihan,” katanya.

Selain rumah kardus, para arsitektur Jepang juga membuat truk besar yang ternyata di dalamnya mirip dengan desain rumah sehingga jika ada gempa dan bencana, truk langsung bisa menutup rapat dengan kecepatan 260 detik. Massa truk juga berat. Kalau terombang-ambing ombak dan angin tetap akan tinggal di tempat.

Diakui Noboru, di Jepang sudah terbiasa mengatasi bencana dalam hitungan detik, bukan hari atau bulan. Dia berharap pameran ini bisa menginspirasi para arsitek muda di Indonesia untuk menciptakan karya dalam menghadapi bencana. Apalagi, Indonesia juga negara yang berada di kawasan rawan bencana.

Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ITS, Hidayat Sugiharto mengakui, selama ini para arsitektur di Indonesia belum mengembangkan tempat tinggal darurat untuk bencana.

Selama ini setiap ada bencana hanya memanfaatkan tenda-tenda besar, stadion dan gedung besar untuk tempat tinggal darurat.

Para arsitek baru sebatas membuat bangunan tahap gempa sebagai upaya prefentifnya. Bangunan tahan gempa ini menggunakan teknik daktail (bangunan tahan goyang) dengan beton, kayu, batu dan bambu. Sehingga, ketika gempa, tembok akan bergerak mengikuti gelombang namun kondisi bangunan tetap kokoh.

Source : TribunNews
COMMENT