SHARE THIS ARTICLE

Bukan rahasia lagi jika orang-orang Jepang itu sangat serius terhadap hal-hal imut. Akibatnya, hampir di semua situasi, sesuatu yang kawaii atau imut itu dianggap sebagai pujian yang tinggi.

Hal tersebut secara khusus memang benar terutama ketika menyangkut perempuan. Sedangkan di negara-negara berbahasa Inggris beberapa orang mungkin bermasalah dengan apa yang mereka anggap sebagai sebuah konotasi yang merendahkan dengan kata “imut”, di Jepang, memanggil seorang gadis dengan sebutan kawaii merupakan sebuah pujian yang sangat umum. Bahkan para artis dan model yang biasanya digambarkan dengan kata “cantik” oleh orang-orang yang menggunakan bahasa Inggris akan mendapatkan sebutan kawaii jika mereka memiliki senyum yang ramah, atau hal-hal lain seperti aura lembut dan hangat yang mereka keluarkan.

Namun ketika semua wanita Jepang senang dipanggil dengan sebutan kawaii, kenyataan tidaklah sesedarhana itu untuk para laki-laki.

dk-5

Portal internet My Navi Woman baru-baru ini menanyakan kepada 114 laki-laki berusia antara 22 sampai 39 tahun tentang bagaimana perasaan mereka ketika seorang wanita menyebut mereka dengan sebutan kawaii. 52,6% dari mereka yang mengatakan mereka merasa senang-senang saja.

Mereka yang tersentuh dengan ke-kawaii-an mereka, atau kawaisa jika digunakan dalam kalimat yang benar, menganggap hal tersebut sebagai sebuah pujian dan tidak melihat perlunya menebak apa alasan di balik pernyataan itu. “Aku senang ketika seorang wanita menunjukkan ketertarikannya padaku.” Seorang responden menyatakan pendapatnya secara blak-blakan.

Laki-laki lain yang menyetujui hal tersebut menambahkan bahwa ia tidak masalah disebut kawaii jika sebutan itu diberikan oleh wanita yang lebih tua darinya. “Aku merasa mereka memperlakukan aku dengan baik.” Jelas laki-laki berusia 35 tahun tersebut. Yang lain bahkan menunjukkan sikap yang lebih sederhana. “Lebih baik dibilang seperti itu daripada gadis itu mengatakan aku tidak imut.

Pernyataan paling pragmatis datang dari laki-laki berusia 26 tahun yang jelas-jelas berdamai dengan keterbatasannya. “Aku tahu tidak mungkin bisa menjadi keren, jadi menjadi imut adalah satu-satunya kesempatanku untuk mendapatkan seorang gadis dengan penampilanku.

Sedangkan alasan utama dari hampir 50% laki-laki yang tidak senang disebut kawaii adalah karena mereka merasa bahwa sebutan itu terlalu feminin untuk mereka dan bukanlah penampilan atau pencitraan yang mereka inginkan. “Aku lebih senang jika para wanita menyebutku keren (cool), tapi sebutan kawaii tidaklah terlalu jujur,” jelas seorang pekerja profesional di bidang kesehatan berumur 27 tahun. Kebanyakan dari laki-laki yang tidak suka dipanggil kawaii juga setuju dengan hal tersebut, mereka menunjukkannya dengan memberikan pernyataan seperti. “Sebagai laki-laki, aku lebih senang disebut keren dibandingkan imut.”

Bahkan pada kenyataannya, beberapa laki-laki beranggapan sebutan kawaii sebagai penghinaan terhadap maskulinitas mereka. “Dia seperti melihatku bukan sebagai laki-laki.” gerutu seorang laki-laki berumur 27 tahun. “Aku merasa dia mengejekku.” keluh yang lain.

Sayangnya, dengan perpecahan yang hampir sama antara laki-laki yang beranggapan sebutan kawaii sebagai pujian dan laki-laki yang menganggap bahwa sebutan itu adalah hinaan, tidak ada jalan keluar yang jelas untuk masalah ini.

COMMENT