Share on

Kota Iga di Prefektur Mie, Jepang bagian tengah telah merilis pernyataan peringatan yang berkaitan dengan berita palsu dan mengatakan bahwa mereka sedang tidak merekrut ninja. Pernyataan itu dikeluarkan pada hari Selasa (24/7) di situs resmi kota Iga. Mereka telah menerima banyak lamaran untuk pekerjaan ninja setelah tersiarnya berita hoax di sebuah program radio AS yang memicu serentetan cerita bahwa kota ini menderita kekurangan ninja.

Padahal, pemerintah kota mengatakan bahwa mereka belum merilis informasi tersebut.

Pada 16 Juli lalu, sebuah radio benama National Public Radio menyiarkan program berjudul Japanese's Ninja Shortage, yang menampilkan promosi pariwisata Iga yang terkenal akan ninjanya.

Dalam laporannya, NPR mengatakan para ninja di negara teresebut bisa memperoleh penghasilan mulai dari ¥ 2,56 juta (sekitar 333 juta rupiah) hingga ¥ 9,46 juta (sekitar 1 milyar 230 juta rupiah) per tahun. Berita berbau hoax  tersebut kemudian disebarkan oleh berbagai situs berita lain dan mengatakan: "Kota di Jepang ini akan membayar kalian dengan gaji sebesar $ 85.000 untuk dilatih sebagai seorang ninja." Sayangnya berita itu pun beredar cepat dan menjadi viral.

Hingga hari Rabu (25/7) kemarin, setidaknya 115 orang yang ingin menjadi ninja telah menghubungi pemerintahan kota dan asosiasi pariwisata setempat, sehingga membuat para pejabat kota Iga kebingungan.

Calon-calon ninja tersebut datang dari 14 negara berbeda.

Untuk menanggapinya, pemerintah kota Iga mengumumkan pernyataan, "Iga tidak mengeluarkan informasi tentang 'kurangnya ninja di Iga' atau mengenai 'pendapatan tahunan dari seorang ninja', yang saat ini dilaporkan oleh beberapa situs berita di Internet."

(Featured image: Japan Times)