Berita Jepang | Japanesestation.com

Matcha atau teh hijau Jepang kini populer sebagai penambah rasa dan aroma pada minuman dan makanan. Aroma wanginya yang khas disukai banyak orang. Teh hijau ini menjadi minuman favorit para bikshu dan samurai.

matcha_ctt Umumnya matcha diolah menjadi bubuk teh yang kemudian diseduh untuk diminum. Juga menjadi bahan pewarna alami untuk mochi dan soba pada zaman dahulu. Matcha juga digunakan oleh para biksu dan samurai. Tetapi, seiring berjalannya waktu, matcha semakin banyak dikenal dan disukai oleh banyak orang. Tak hanya untuk menghilangkan dahaga, matcha juga disebut-sebut sebagai cara ampuh untuk menghilangkan kelaparan. Selain itu, kadar antioksidan dalam matcha juga tinggi, yaitu sekitar 130 kali dari teh hijau biasa. Matcha juga memiliki kafein dan asam amino L-theanine, yaitu zat yang baik untuk memperbaiki mood. Bahkan di Jepang, L-theanine dijual sebagai pereda stres. Hal ini mungkin bisa menjadi kabar baik bagi mereka yang tidak bisa lepas dari kopi. Di negara asalnya matcha dijual dengan tampilan yang sederhana, yaitu matcha panas dan matcha dingin dengan menggunakan es. Harganya pun terbilang murah. Tetapi di Inggris, matcha dijual dengan harga yang fantastis, yaitu hampir sekitar 500 ribu rupiah per 30 gram. Menurut www.independent.co.uk, hal ini terjadi karena matcha sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Para pecinta makanan sehat tentu akan membelinya di toko bahan makanan impor atau restoran mahal. Jika di rumah, matcha bisa ditaburkan pada potongan buah, yogurt, dan susu agar lebih sehat dan enak. Saking besarnya pengaruh matcha kepada warga Inggris, seorang pemuda Inggris James Shillock membuat matcha siap minum yang dicampur dengan buah-buahan dalam kemasan. Hal ini membuat James sebagai pengusaha muda berlatar belakang pengetahuan teh meraih Innovation Challenge Gold Award. Matcha juga tidak dianggap minuman biasa oleh beberapa kalangan. Para penganut ajaran Buddha malah menganggapnya sebagai minuman yang berasal dari awan.