SHARE THIS ARTICLE

urlSaat ini semakin banyaknya wanita yang sudah menikah yang menjadi wanita karir di Jepang, menurut survei pemerintah hasilnya menunjukan 86 persen wanita ingin terus bekerja setelah memiliki anak, meskipun sebagian besar hampir tidak mungkin untuk dilakukan mengingat sulitnya untuk merawat anak sekaligus bekerja. Dan hanya 11,6 persen menyatakan bahwa mereka tidak ingin mencari pekerjaan.

Dari wanita usia 20-49 tahun dengan anak di bawah 19 tahun, survei tersebut membuktikan bahwa 45,3 persen menunjukan bahwa mereka ingin bekerja paruh waktu dan 25,8 persen ingin menjadi karyawan tetap, dan 14,9 persen lainnya ingin bekerja paruh waktu pada awalnya dan kemudian ingin menjadi karyawan biasa.

Biro Statistik Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi pada tahun 2010 mencatat bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja total, yang mencakup semua pekerja dari usia 15 sampai 70 tahun, adalah 71,6 persen untuk pria dan 48,5 persen untuk wanita .

Kebanyakan wanita mengatakan mereka ingin mulai bekerja kembali sesegera mungkin setelah melahirkan, meskipun mereka sangat menyadari pentingnya menjadi ibu bagi anak-anak mereka. Persentase terbesar, 23,8 persen, mengatakan bahwa mereka ingin mulai bekerja lagi secepatnya. 22,1 persen lainnya mengatakan mereka akan lebih memilih untuk menunggu sampai anak-anak mereka masuk ke TK atau taman kanak-kanak, dan 20 persen lainnya mengatakan mereka ingin memulai setelah anak-anak mereka masuk ke sekolah dasar.

1216916_20130904014526

Keinginan untuk bekerja yang tinggi dari wanita di Jepang tidak didukung dari beberapa perusahaan di Jepang, karena mayoritas perusahaan di Jepang tidak menerima apabila pegawai wanitanya memiliki waktu fleksibel dalam bekerja karena harus mengurus anak mereka ataupun antar jemput sekolah anaknya. Tetapi tidak semuanya perusahaan seperti itu, itu tidak terjadi pada perusahaan multinasional. Survei membuktikan sebanyak 68 persen wanita Jepang lebih suka bekerja di perusahaan multinasional karena mereka lebih ramah kepada wanita.

japanstar2Di luar dari masalah jam kerja, sebenarnya wanita memiliki lebih banyak potensi untuk berkontribusi. Jepang membutuhkan lebih banyak fleksibilitas. Wanita tetap menjadi sumber yang paling kurang dimanfaatkan bakat dan potensinya.

Source : japantimes.co.jp
COMMENT