Share on

Kyoto International Film and Art Festival memperlihatkan pemutaran perdana di Jepang dari Warner’s List karya Kenji Kanetaka, sebuah film dokumenter sejarah menakjubkan yang berfokus pada orang-orang yang melakukan usaha besar untuk melindungi kekayaan budaya Jepang sebelum dan selama Perang Dunia II. Termasuk wawancara dengan tokoh akademik, berbagai kejadian masa lalu yang ditampilkan kembali, dan cuplikan sejarah, film ini menggali jauh ke dalam sejarah Jepang dari pergantian abad ke era pasca Perang Dunia II. Meskipun bersifat pendidikan, karya ini sangat menghibur.

Advertise With Us

hari-kedua-kyoto-international-film-and-art-festival-luncurkan-original-writing-development-project-1hari-ketiga-kyoto-international-film-and-art-festival-menawarkan-beragam-pengalaman-1Pemahaman sejarah yang telah diterima menyebutkan bahwa Langdon Warner (1881-1955), seorang arkeolog dan sejarawan seni asal Amerika, memainkan peran besar dalam menyelamatkan artefak budaya Jepang, terutama Kyoto dan sekitarnya, dengan menasihati pemerintah Amerika agar tidak mengebomnya. Daftar yang menjadi judulnya adalah salah satu tempat budaya penting yang Warner buat untuk pemerintah Amerika Serikat dan tidak diragukan lagi memainkan peran dalam menyelamatkan kekayaan budaya lokal Jepang selama perang. Tapi film ini menyelidiki lebih dalam untuk mengungkap bahwa banyak yang memiliki suara dalam mempengaruhi pemerintah dan peran Warner mungkin telah dibesar-besarkan dalam beberapa waktu. Warner sendiri menyarankan bahwa ia adalah bagian dari sebuah tim yang mempelopori upaya untuk menyelamatkan harta tersebut, meskipun beberapa ahli menganggap pernyataan tersebut sebagai sisi kesopanan dari pria itu. Film ini bersinar terang pada sudut penting dari sejarah Jepang.

Kyoto International Film and Art FestivalTapi festival ini tidak semuanya tentang film, dengan para pengunjung di akhir pekan mengunjungi kota Kyoto pada hari Sabtu, pameran seni publik yang membentuk bagian penting dari Kyoto International Film and Art Festival ini telah menarik perhatian yang signifikan.

hari-ketiga-kyoto-international-film-and-art-festival-menawarkan-beragam-pengalaman-2Tema mobil berjalan sepanjang pameran tahun ini, yang disajikan lebih baik di Kyoto City Hall Square, di mana sebuah pameran besar karya Hideo Nagai berjudul "B-Project 'Heso de Nageru'" menggambarkan mobil berukuran yang sebenarnya sedang dibanting ala suplex oleh patung pegulat raksasa. Penciptaan ini adalah gagasan dari Hideo Nagai, yang "dengan selera humor mewakili kekuatan mental orang-orang ketika mereka mencoba untuk menjadi tangguh di tengah-tengah berbagai tantangan yang mereka hadapi sepanjang hidup."

Selama empat hari festival tahun ini mobil-mobil "Kintoki" (kendaraan mengkilap dengan lampu neon) berkeliling kota Kyoto. Menjual kentang panggang manis, mobil-mobil ini adalah ide dari Art Unit Yotta, pemenang sebelumnya dari Taro Okamoto Award for Contemporary Art.

hari-ketiga-kyoto-international-film-and-art-festival-menawarkan-beragam-pengalaman-3hari-ketiga-kyoto-international-film-and-art-festival-menawarkan-beragam-pengalaman-4Kyoto Museum of Traditional Crafts mengadakan tiga acara pada hari Sabtu. Pelukis Boss Hiko dan Sayoko Hirano bekerja sama dengan para musisi dan penari untuk acara bertajuk "Dawn." Hosei Tsukitei menyajikan seni rakugo dalam kostum tradisional. Dan beberapa lokakarya yang mengajarkan keterampilan dari para pengrajin lokal diadakan sepanjang hari.

hari-ketiga-kyoto-international-film-and-art-festival-menawarkan-beragam-pengalaman-5hari-ketiga-kyoto-international-film-and-art-festival-menawarkan-beragam-pengalaman-6Di kuil Nishi Hongan-ji, fasilitas pelatihan biarawan yang biasanya tertutup untuk umum, telah dibuka untuk menggelar tujuh pameran. "Planet of Rabbits" karya Shinsuke Kawahara adalah serangkaian karya yang ia buat menggunakan kardus, layar lipat, balon dan film animasi. Instalasi "Dark Science" karya seniman Perancis Jean-Luc Vilmouth juga dipamerkan di tempat tersebut. Dibuat berdasarkan "Gloomy Sunday" dari Billie Holiday, instalasi tersebut memiliki 20 bola lampu yang disinkronkan untuk meningkatkan kecerahan saat Holiday bernyanyi.

hari-ketiga-kyoto-international-film-and-art-festival-menawarkan-beragam-pengalaman-7KIFF juga memutar film klasik Nabbie’s Love karya Yuji Nakae. FIlm yang telah lama difavoritkan oleh orang-orang di Jepang tersebut awalnya dirilis pada tahun 1999 dan telah meraih sejumlah penghargaan. Di antaranya termasuk NETPAC Award yang bergengsi di Berlin Internasional Film Festival, kategori Best Director untuk Nakae di Japan Profesional Movie Awards, dan penghargaan khusus bagi produser Shiro Sasaki di Hochi Film Festival, belum lagi sejumlah penghargaan dalam kategori akting.

Soundtrack-nya yang menghantui juga banyak dipuji, yang juga menerima berbagai penghargaan dan perhatian internasional di mana Kenichiro Isoda dan komposer Hollywood ternama Michael Nyman, bekerja secara terpisah, menciptakan lagu tersebut.

hari-ketiga-kyoto-international-film-and-art-festival-menawarkan-beragam-pengalaman-8Film tersebut berlatar di antara pulau-pulau tropis di prefektur paling selatan Jepang, Okinawa. Dimulai dengan Nanako (Naomi Nishida) yang berhenti dari pekerjaannya di Tokyo dan pindah kembali ke pantai selatan untuk berkumpul bersama keluarganya. Tak lama kemudian ia secara tidak sengaja menemukan bahwa yang terkubur dalam kesederhanaan di pulau-pulau damai tersebut adalah neneknya yang bernama Nabbie (Tomi Taira), yang memiliki hubungan cinta terlarang dengan Sanra (Susumu Taira) pada masa 60 tahun sebelumnya. Cinta mereka masih membasahi Nabbie seperti ombak di pantai.

Para penonton Kyoto sekali lagi tersentuh dengan kisah cinta abadi ini, salah satu favorit dari film Jepang modern.