Berita Jepang | Japanesestation.com

Di tengah hiruk pikuknya jalanan Jepang modern, di antara lampu neon dan keajaiban teknologi, terdapat sebuah tradisi abadi yang berasal dari abad ke-14 - Teater Noh. Seni kuno ini, dikenal dengan perpaduan memikat antara musik, tari, dan drama, terus memikat penonton baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Noh, juga dikenal sebagai Nohgaku, memiliki akar yang dalam dalam folklore dan sejarah Jepang. Bermula dari bentuk teater kuno, Noh berkembang menjadi seni yang disempurnakan selama abad ke-14, menjadi salah satu tradisi teater tertua Jepang yang masih ada. Pertunjukan Noh bukan sekadar penyajian cerita, melainkan interpretasi visual, di mana para penampil, mengenakan kostum dan topeng yang rumit, menyampaikan esensi naratif melalui gerakan halus dan gestur simbolis.

Sejarah Noh kaya dan beragam, mencerminkan hiasan budaya Jepang itu sendiri. Awalnya dikenal sebagai Sarugaku, yang berarti "musik monyet," Noh mengalami transformasi selama berabad-abad, akhirnya menjadi drama seremonial yang disenangi oleh kelas prajurit selama periode Tokugawa. Meskipun menghadapi tantangan selama periode perubahan sosial, seperti runtuhnya tatanan feodal, Noh tetap bertahan dan mengalami kebangkitan setelah Perang Dunia II, berkat praktisi yang berdedikasi untuk mempertahankan warisan yang dihargai ini.

Pusat dari teater Noh adalah peran-perannya yang khas, masing-masing diberi makna dan simbolisme. Aktor utama, yang dikenal sebagai shite, mengambil peran utama, menggambarkan berbagai karakter mulai dari dewa hingga manusia biasa. Menemani shite adalah waki, aktor pendukung, yang menggambarkan individu yang hidup sebagai lawan dari karakter supernatural yang dimainkan oleh shite. Bersama dengan musisi, anggota paduan suara, dan penjaga panggung, para penampil ini menciptakan ansambel yang harmonis, mengangkut penonton ke dunia mimpi, roh, dan legenda kuno.

Pertunjukan Teater Noh
Pertunjukan Teater Noh

Salah satu ciri khas dari pertunjukan Noh adalah kerajinan topengnya yang indah, yang dikerjakan dengan teliti dari cemara Jepang dan diberi makna mendalam. Topeng-topeng ini berfungsi sebagai alat bagi para penampil, memungkinkan mereka untuk menyampaikan roh, setan, dan karakter dari masa lampau. Proses rumit pembuatan topeng, seringkali memakan waktu berbulan-bulan untuk diselesaikan, mencerminkan dedikasi dan penghormatan yang diberikan pada seni yang dihormati ini.

Meskipun telah berlalu sekian lama, teater Noh tetap kukuh dalam menjaga tradisi, dengan sekitar 1.500 aktor profesional dan lima sekolah Noh bergengsi yang menjaga warisannya. Meskipun tradisionalnya merupakan domain yang didominasi oleh laki-laki, beberapa tahun terakhir telah melihat pergeseran bertahap, dengan tokoh-tokoh ternama seperti Izumi Junko yang berhasil menembus batas gender dan membuat kemajuan dalam dunia pertunjukan Noh.

Di Jepang modern, kesempatan untuk mengalami Noh berlimpah, dengan pertunjukan yang diselenggarakan baik di panggung luar tradisional maupun teater dalam modern. Dari gedung-gedung megah seperti Teater Noh Nasional di Tokyo hingga latar belakang alam yang indah di Kuil Itsukushima di Miyajima, para penggemar dapat terjun dalam daya tarik abadi dari seni kuno ini.

Saat Jepang terus memeluk inovasi teknologi dan tren global, kehadiran abadi teater Noh menjadi pengingat yang menyentuh akan pentingnya memelihara warisan budaya. Melalui cerita-cerita abadinya dan pertunjukan yang memukau, Noh melampaui batas, menjembatani kesenjangan antara masa lalu dan masa kini, dan memastikan bahwa semangat warisan seni Jepang tetap hidup untuk generasi mendatang.