Share on

Visual Kei "Karockwitan". Genre itu dilahirkan sebuah band bernama Farfalla Kurenai atau yang biasa disebut FaKu. Band asal kota Solo ini mempopulerkan istilah "karockwitan" sebab mengawinkan musik "karawitan" dan "rock". Ya, band yang terbentuk pada 12 Desember 2012 ini memadukan unsur musik tradisi nusantara gaya Jawa Tengah berupa karawitan dengan musik modern aliran rock. Didukung kostum yang memadukan batik dan gaya visual dalam setiap perform-nya.

Advertise With Us

Band yang digawangi Auru (Vokal), Adam (Guitar), Iyank (Guitar), Awee (Bass), dan Ludwig (Drums) ini pernah menjamah beberapa kota. Terutama di dunia Jepangan seputar Solo, Jogja, Semarang, dan bahkan sempat ke Jakarta. Pada awalnya banyak meng-cover lagu-lagu Jepang dengan gaya khas FaKu. Bisa dikatakan bahwa anak-anak muda ini dengan berani mengubah aransemen sebuah lagu dengan racikan yang tak kalah apik.

local-band-farfalla-kurenai-rilis-dua-single-bertema-horor-2 Akhir tahun 2016 ini, FaKu baru saja merilis 2 single bertemakan horor yang bertajuk MANTRAM dan CRIMSON BUTTERFLY. Single Mantram mengangkat mitos kidung LINGSIR WENGI yang konon dipercaya bisa memanggil makhlus halus. FaKu meramu musik rock dan sinden Jawa menjadi sebuah komposisi yang mistis. Kidung Lingsir Wengi sendiri menurut pengakuan Adam, gitaris FaKu, mengalami kesalahan pemahaman di masyarakat. Sebab, Kidung Lingsir Wengi bukan untuk memanggil makhlus halus atau kuntilanak. Justru sebenarnya adalah kidung tolak bala.

MANTRAM sendiri menceritakan tentang keputusasaan manusia dalam hidup. Ketika manusia terjatuh di titik terendahnya, terkadang tidak lagi memakai akal sehat untuk berfikir. Keputusasaan seringkali membawa manusia melakukan hal-hal di luar logika. Akibatnya, manusia justru menjauh dari Tuhan.

Suara vokal dari sinden Jawa memperkuat nuansa mistis dalam lagu MANTRAM. Pattern musik yang berubah-ubah setiap part menganalogikan kebingungan manusia saat putusasa. Di akhir lagu juga disajikan kidung "Kalasinggah" dibalut pola breakdown. Instrumen rebab Jawa dan siter dibaurkan secara halus sehingga menjadi klimaks di single ini.

Sedangkan single kedua Farfalla Kurenai yang justru lahir lebih dulu, CRIMSON BUTTERFLY, merupakan "cerita" lanjutan dari single pertama. Menceritakan tentang "ritual" manusia ketika berhubungan dengan makhluk tak kasat mata. Di tengah-tengah lagu dimunculkan instrumen siter serta gendher untuk memperkuat nuansa karawitan. Racikan alat musik tradisional dengan modern menggambarkan tahap ritual mistis. Menjelang akhir lagu diperkuat dengan nuansa black metal yang menjadi klimaks lagu ini.

Meskipun bertemakan horor, ritual dan makhluk halus, pesan yang dibawa FaKu sebenarnya justru kebalikannya. Dunia manusia dan makhluk tak kasat mata jelas berbeda. Maka jangan pernah berhubungan dengan mereka. Lebih baik manusia mencari cahaya yang dekat dengan Tuhan.

Kedua single ini dapat diunduh secara gratis di akun Facebook mereka, atau di saluran YouTube mereka. Dalam waktu dekat FaKu akan merilis mini album. Dengan konsep kisah yang menyambung antar lagu hingga membentuk sebuah cerita.