SHARE THIS ARTICLE
Kota Odaka di Jepang, tiga tahun setelah dihembas tsunami pada Maret 2011 silam. (Kompas/ Waskita Utama)
Kota Odaka di Jepang, tiga tahun setelah dihembas tsunami pada Maret 2011 silam. (Kompas/ Waskita Utama)

Ratusan sepeda yang catnya mulai kusam masih berjejer rapi di tempat parkir Stasiun Odaka, Minamisoma, Prefektur Fukushima, Jepang, akhir November lalu. Sejumlah ban terlihat kempis.

Seutas tali panjang dilewatkan di antara jari-jari roda sepeda, ujungnya diikatkan pada tiang penyangga, memastikan sepeda-sepeda itu tidak dipindahkan.

Sepeda-sepeda itu memang tak pernah dipindahkan sejak 11 Maret 2011. Mereka menjadi saksi bisu bencana gempa bumi dan tsunami yang hari itu melanda pantai timur Fukushima, Miyagi, dan Iwate, tiga prefektur di wilayah Tohoku, utara Pulau Honshu, Jepang.

Bangunan Stasiun Odaka selamat dari bencana ganda itu. Namun, kerusakan sistem pendingin Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Dai-ichi dan kebocoran radiasi yang menyertai jauh lebih mengancam. Warga Odaka, yang terletak 20 kilometer dari PLTN, termasuk ratusan siswa sekolah pemilik sepeda yang terparkir di stasiun, harus dievakuasi.

Sejak saat itu, Odaka seperti kota mati. Seperti petang di akhir musim gugur itu, lebih dari tiga tahun sejak bencana terjadi, suasana sangat lengang. Dalam waktu 45 menit, hanya dua kendaraan melintas, yakni mobil pemerintah kota Minamisoma yang membawa Kompas dan mobil polisi yang berpatroli. Hanya di kantor pemerintah Distrik Odaka, tak jauh dari stasiun, terlihat aktivitas manusia.

Kota ini termasuk wilayah hijau dalam radius 20 kilometer dari PLTN. Larangan masuk sudah diangkat sejak 1 April 2014. Namun, warga hanya boleh datang pada siang hari. Malam harinya mereka harus kembali ke pengungsian,” kata Katsumi Satoh, Asisten Direktur Departemen Perencanaan Rekonstruksi Kota Minamisoma, yang mengantar Kompas berkeliling.

Satoh termasuk warga Odaka yang terpaksa mengungsi karena bencana itu. Istri dan anaknya kini tinggal bersama orangtua istrinya di Miyagi, sedangkan Satoh tinggal bersama ibunya, tak jauh dari kota Minamisoma.

Mulai pulih
Odaka adalah satu dari tiga distrik di Minamisoma, selain Kashima dan Haramachi. Jika Odaka terlihat lengang, kehidupan telah berdenyut kembali di Kashima dan Haramachi.

Satoh mengatakan, lebih dari 600 warga kota tewas akibat tsunami. Setelah bencana, tak kurang dari 60.000 warga kota berpenduduk 71.500 jiwa itu mengungsi. Tiga bulan berlalu, korban mulai menempati rumah sementara yang disediakan pemerintah. Hingga kini, masih terdapat 3.300 kepala keluarga tinggal di rumah sementara di Kashima dan Haramachi.

Yoshikazu Hoshi, Kepala Divisi Manajemen Krisis kota Minamisoma, mengatakan, upaya rekonstruksi dimulai dengan empat cara. Warga yang rumahnya selamat kembali ke rumah masing-masing. Warga yang rumahnya rusak dan berada di luar wilayah terlarang dapat memperbaikinya sendiri.

Adapun warga yang rumahnya hancur dan berada di wilayah terlarang ditempatkan di rumah sementara. Pilihan lain adalah penduduk desa pindah bersama-sama ke lokasi baru.

Setelah itu, pemerintah kota bekerja sama dengan Badan Rekonstruksi, lembaga yang dibentuk Pemerintah Jepang untuk pemulihan pasca bencana, membangun rumah bagi korban. ”Saat ini telah diselesaikan rumah tinggal bagi 58 keluarga di dua lokasi. Pada akhir Maret 2015 ditargetkan 100 rumah lagi terbangun,” kata Hoshi.

Kondisi psikologis korban juga mendapat perhatian. Warga yang kehilangan pekerjaan mendapat tugas mendatangi tetangganya di pengungsian dan saling menguatkan. ”Tingkat stres korban sempat meningkat. Tetapi, lama-kelamaan mereka terbiasa tinggal di rumah sementara dan kembali bekerja,” tambah Hoshi.

Wakil Direktur Bagian Koordinasi Badan Rekonstruksi, Yoshifumi Ayusawa di Tokyo mengatakan, secara keseluruhan lebih dari 15.000 orang tewas dan 2.660 korban hilang. Lebih dari 1,1 juta bangunan rusak akibat bencana tersebut.

Adapun rekonstruksi pasca bencana diharapkan selesai dalam 10 tahun. ”Pemerintah menyiapkan 25 triliun yen (Rp 2,6 quadriliun) hingga 2015 untuk kebutuhan pembangunan fisik dan menghidupkan kembali aktivitas masyarakat,” ujarnya.

Menurut Hoshi, hambatan utama untuk memukimkan kembali korban di kota itu adalah mencari lahan. Apalagi, Distrik Odaka belum dapat dihuni. Selain itu, biaya tenaga kerja dan bahan bangunan meroket akibat naiknya permintaan.

Upaya rekonstruksi juga berebut tenaga kerja dengan program raksasa dekontaminasi nuklir yang dilakukan pemerintah pusat. Di Odaka, sekitar 3.000 orang dikerahkan untuk membersihkan got, atap, dan terutama mengupas permukaan tanah setebal 5 sentimeter untuk menghilangkan kontaminasi radiasi. Usaha serupa dilakukan di beberapa kota yang terkena dampak bencana nuklir.

Meski lebih dari 600 warga kota tewas karena tsunami, dampak bencana nuklir jauh lebih berpengaruh. Pemulihannya akan memakan waktu lama,” ujar Satoh. Hingga saat itu, sepeda-sepeda di Stasiun Odaka akan tetap berada di sana. (J Waskita Utama dari Minamisoma, Jepang)

Source : tribunnews.com
COMMENT