SHARE THIS ARTICLE
Bangunan ini didesain sebagai rumah tradisional Jepang. Padahal ini sebenarnya toilet. (TRIBUNNEWS.COM/ RICHARD SUSILO)
Bangunan ini didesain sebagai rumah tradisional Jepang. Padahal ini sebenarnya toilet. (TRIBUNNEWS.COM/ RICHARD SUSILO)

Destinasi wisata ini lokasi di jantung kota Tokyo. Tapi anehnya, belum banyak wisatawan yang tahu tempat asyik ini, bukan hanya wisatawan asing, juga wisatawan dalam negeri.

Daerah yang mungkin kurang promosi sehingga banyak yang kurang mengenalnya. Tetapi bagi beberapa orang Tokyo yang suka jalan-jalan, pasti tahu daerah wisata ini karena memang dilestarikan dengan baik budaya lama Jepangnya.

Tempat asyik ini lokasinya tak lain adalah di dekat Stasiun kereta api bawah. Namanya stasiun Kiyosumi Shirakawa, langsung cari pintu keluar A3. Di depan mata, menyeberang jalan, langsung kita akan menemukan “Taman Kiyosumi” yang luasnya 8 hektar lebih. Taman tradisional Jepang dengan kolam ikan dan batu-batuan ala Jepang ini sangat indah sekali.

Masih dari pintu ke luar A3 tadi, kalau kita ke kiri, lalu menemukan jalan kiri, kita ke kiri lagi. Nah sebelah kiri jalan ada toilet sangat menarik. Dari penampakan luar, seperti model rumah tradisional Jepang.

Semula Tribunnews.com yang kemarin (14/1/2015) ke sana, mengira itu rumah kuno yang dilestarikan atau ada perayaan sesuatu. Tapi setelah melihat dengan teliti, ternyata kamar-kamar toiletnya satu untuk lelaki satu lagi untuk perempuan.

Toiletnya saja dibuat sangat khusus dengan model rumah tradisional Jepang, dengan lampu kuno gaya jaman Edo Jepang di depan toiletnya, indah sekali. Jelas ditujukan untuk kalangan wisatawan, tetapi juga umum siapa pun boleh masuk ke sana dan gratis tak perlu bayar apa pun. Seperti toilet biasa lainnya di Jepang, sangat teratur baik, bersih dan indah, lengkap dengan tissue atau pengeringnya. Padahal semua gratis. Maklum anggarannya dari pemda setempat khususnya dewan pariwisatanya.

Guna menjaga keindahan lingkungan wisata itu pun, di depan toiletnya terpasang papan pengumuman Larangan Menaruh Sepeda di sana. Sayangnya semua dalam bahasa Jepang sehingga kalau ada orang asing ke sana pakai sepeda, yang tak bisa membacanya, mungkin akan menaruh sepedanya begitu saja di sana.

Di sebelah kiri toilet ada toko kelontong tradisional Jepang. Menarik karena seolah kembali ke jaman kuno Jepang. Dan di depan toilet itu pun, ada toko penjual barang-barang kelontong produk jaman lampau Jepang. Bahkan si penjual dengan baju pedagang kuno Jepang berusaha bergaya seperti street performer di depan tokonya sehingga si owner lebih menarik bagi orang yang lalu-lalang ketimbang tokonya.

Kuil Khusus

Daerah jalan toko-toko kuno tersebut dulunya tahun 1961 merupakan deretan toko-toko (Shotengai) sejumlah 100 toko. Namun kini hanya tinggal beberapa toko kuno saja. Selebihnya jadi sarana lain seperti tempat pendidikan, kantor atau rumah tinggal baru.

Tidak jauh dari toko itu pula, ada kuil khusus bagi orang yang bergerak di bidang bisnis seperti broker tanah. Bagi pengusaha sangat disarankan ke kuil ini karena dewa khusus perdagangan di kuil ini dipercaya cukup ampuh dan percaya bisnisnya akan jadi sukses nantinya setelah melakukan ibadah di kuil kecil tersebut. Itulah kuil Shusse Fudouson atau Chousenin Fudouji, yang berwarna merah.

Masih satu deret dengan toilet tadi, jalan sedikit beberapa langkah sebelah kiri ada kuil Reiganji yang didirikan tahun 1624. Di dalam lokasi kuil ini juga ada sekolah Taman Kanak-kanak dengan bangunan dua lantai modern, serta taman sekelilingnya. Cukup luas memang lokasi kuil dan sekolah milik satu Yayasan Reiganji.

Melanjutkan perjalanan, semakin ke dalam lagi di sebelah kiri ada Museum Dokumen Edo Fukagawa.

Daerah Kiyosumi Shirakawa ini memang sebenarnya daerah wisata kuno yang kurang populer. Banyak kuil kecil-kecil di sana mungkin menarik bagi yang suka jalan-jalan sambil beribadah. Namun bisa sambil melihat-lihat tempat-tempat kuno juga di sekitarnya.

Ada sedikitnya empat lokasi wisata yang berdekatan yang menarik untuk kita kunjungi, cukup jalan-jalan sehari dari pagi hingga sore hari. Kecuali memasuki taman Kiyosumi dan Museum Dokumen Edo Fukagawa yang keduanya harus bayar, lokasi wisata lain gratis, dapat kita tengok pelan-pelan budaya lama Jepang yang masih terlestarikan di daerah ini.

Kemudian apabila mau jalan kaki sekitar 25 menit dari daerah wisata itu, kita bisa menemukan Ryogoku, tempat stadion utama pertandingan Sumo di Jepang.

Source : tribunnews.com
COMMENT