Share on

Puluhan ribu warga Jepang menandatangani petisi online perihal menolak rencana pembongkaran monument puing gedung Hiroshima pasca berakhirnya Perang Dunia II di Hiroshima.

Sebanyak 12 ribu orang menandatangani sebuah petisi mengenai salah satu puing bangunan yang masih tersisa setelah kejadian bom atom di wilayah Hiroshima-Nagasaki pada tahun 1945 silam.

Ribuan Orang Tandatangani Petisi Menolak Pembongkaran Situs Hiroshima
(gedung lama Hiroshima Peace Memorial, sumber: Times)

Pejabat terkait dilaporkan telah mendapatkan hasil petisi yang telah ditandatangani oleh puluhan ribu warga Jepang untuk mempertahankan salah satu puing gedung yang masih tersisa dan masih berdiri tepatnya sekitar 2,7 meter dari tempat ledakan bom atom di tahun 1945.

Petisi ini dipantik setelah pemerintah setempat mengeluarkan rencana pembongkaran situs tersebut karena dinilai rentan runtuh mengingat kejadian gempa yang akhir-akhir ini terjadi. Pihaknya menyatakan bahwa tindakan tersebut bertujuan untuk melindungi warganya jika sewaktu-waktu reruntuhan itu tumbang atau hancur. Dengan membongkarnya, bangunan tersebut tidak akan melukai warga.

Menurut keterangan yang dikutip dari Japan Today, pemerintah setempat memiliki hak milik tiga dari total empat cluster bangunan dari puing bangunan yang masih utuh dan tersisa. Untuk biaya pelestarian mereka memperkirakan menghabiskan biaya sebanyak 8,4 milyar Yen.

Pihak pemerintah pada awalnya berencana menghancurkan dua bangunan dan memperkuat bangunan lainnya dengan pertimbangan pengeluaran biaya yang ditaksir sekitar 1,4 milyar dan 3,1 milyar Yen. Usulan tersebut ditimbang ulang mengingat tanda tangan yang telah dikumpulkan mencapai puluhan ribu.

Gedung yang dikenal dengan nama Hiroshima Peace Memorial merupakan salah satu situs yang cukup terkenal di Jepang dan paling membekas dalam memori sejarah perjuangan Perang Dunia ke II tepatnya pada tangal 15 Agustus 1945.

Pembangunan situs ini awalnya dibuat untuk tempat pembuatan seragam tentara Jepang sejak tahun 1913.

feature image: navi