Share on

Meski banyak hal menyenangkan yang bikin kamu kangen jadi mahasiswa, terkadang ada beberapa hal yang bikin kamu kesal, misalnya dosen “killer” super galak. Apalagi, jika sudah galak, mengancam dengan benda seram seperti pisau, seperti yang dilakukan oleh salah satu profesor di salah satu universitas favorit Jepang, Universitas Waseda.

Ya, baru-baru ini, ada seorang professor “killer” di Fakultas Pendidikan dan Penelitian Internasional yang bikin para mahasiswa tidak dapat belajar dengan nyaman. Pasalnya, pada tahun ajaran 2018 dan 2019, sang profesor, seorang instruktor paruh waktu berusia 60 tahunan yang mengajar di fakultas tersebut diketahui berbuat kasar dan mengancam para mahasiswa.

Ilustrasi dosen
Ilustrasi dosen "killer" (pakutaso.com)

Salah satu kalimat kasar yang sang profesor lontarkan pada mahasiswanya adalah, “Kau tidak dibesarkan dengan baik,” kontras dengan kelakuan buruknya yang menendang tas mahasiwa dan benda-benda lain ketika ia marah. Tak hanya itu, ia juga membentak mahasiswa yang tidak disukainya dengan kalimat, “Kau seharusnya berhenti kuliah saja!” Apakah menurutmu itu semua masih biasa saja? Tunggu sampai kamu melihat kalimat (dan kelakuan) berikutnya. Terkadang ia hanya mengatakan dua kata pada para mahasiswanya, “Mati kau!”

Dan seakan belum cukup mengintimidasi para mahasiswa, pria tua ini punya kebiasaan unruk mengeluarkan sebuah pisau lipat dan menodongkannya ke  arah mahasiswa saat menyuruh mahasiwanya untuk mengucapkan kalimat dengan pengucapan yang benar di tengah jam pelajaran.

Universitas Waseda sendiri memilih untuk tidak membocorkan berapa jumlah mahasiswa yang menjadi korban sang profesor atau apakah mahasiwa asal Jepang atau mahasiswa asing (Fakultas Penelitian Internasional dan Pendidikan memiliki beberapa mahasiswa asing) yang menjadi korban. Menurut pihak universitas, hal tersebut dilakukan untuk melindungi privasi para mahasiswa.

Meskipun begitu, Universitas Waseda merilis pernyataan resmi pada 29 Mei lalu yang mengatakan bahwa profesor tersebut telah dipecat dengan alasan “kekerasan akademik melalui pernyataan yang tidak pantas dan menyebabkan penderitaan mental bagi para mahasiswa serta berdampak negatif di lingkungan belajar-mengajar universitas.” Selain itu, pihak universitas telah berjanji akan melakukan program pelatihan pencegahan kekerasan bagi seluruh penghuni kampus untuk meningkatkan kesadaran dan mencegah kejadian serupa kembali terjadi.