Berita Jepang | Japanesestation.com

Sekelompok penduduk lokal mengunjungi sebuah pulau kecil di daerah barat Jepang yang dulunya digunakan sebagai fasilitas penyimpanan bahan bakar  oleh Angkatan Laut Kekaisaran Jepang. Setelah Perang Dunia II berakhir, pulau ini dibiarkan menjadi “pulau terlarang” di Jepang selama 104 tahun, membuat kunjungan penduduk lokal ini menjadi kunjungan pertama setelah beratus-ratus tahun lamanya.

Tur di Pulau Jajima, Teluk Maizuru yang dilakukan oleh 35 penduduk pada Minggu (26/7) lalu ini dilakukan atas  perintah Pemerintah Kota Maizuru yang ingin mengembangkan area tersebut sebagai sebuah situs bersejarah yang akan disebut sebagai "The Four Dynamic Coastal Cities of Yokosuka, Kure, Sasebo, and Maizuru -- Centers of Japanese Modernization" setelah pulau tersebut masuk ke dalam daftar situs Warisan Dunia Jepang pada Juni lalu.

pulau terlarang Jepang japanesestation.com
Pulau Jajima dilihat dari Teluk Maizuru, Prefektur Kyoto (mainichi.jp)

Karena pulau ini memiliki sebuah dermaga di mana sekitar 660.000 orang returnee yang kembali dari kamp interniran Siberia disambut kembali saat menginjak tanah Jepang, kota ini bertujuan untuk menurunkan cerita sejarah perang pada generasi berikutnya melalui pengembangan area kota.

Pulay Jajima sendiri berlokasi sekitar 700 meter dari selatan kota Maizuru dengan ukuran perimeter hanya 650 meter saja. Menurut legenda, pulau terlarang di Jepang ini dulunya memiliki kastil di atas gunung dan penduduk lokal merupakan petani di pulau ini. Namun, Angkatan Laut Kekaisaran Jepang menduduki pulau ini pada tahun 1916 dan mulai membuat fasilitas penyimpanan ini pada tahun 1922. Setelah Perang Dunia II, tentara Amerika merebut dan menduduki pulau itu. Namun, pulau ini akhirnya kembali ke tangan pemerintah Jepang meski penduduk lokal tidak diberi akses menuju pulau tersebut..

Di pulau ini, masih tersisa 4 fasilitas penyimpanan gas yang membentang dari timur ke barat dengan luas masing-masing 65 hingga 70 meter untuk panjang dan tinggi mencapai 3,5 meter. Semua struktur bangunannya tetap terjaga hingga sekarang. Selain itu, fondasi bangunan di mana mesin-mesin berat terpasang, tembok batu, dan sebuah dermaga juga masih tersisa.

pulau terlarang Jepang japanesestation.com
Orang-orang menginspeksi bagian dalam fasilitas di Pulau Jajima, Maizuru, Prefektur Kyoto (mainichi.jp)

Menurut pemerintah kota, tujuan dibangunnya fasilitas penyimpanan bahan bakar tersebut masih tidak diketahui hingga kini, namun tempat itu terdaftar sebegai penyimpanan bahan bakar pesawat terbang saat fasilitas tersebut diserahkan pada tentara Amerika. Ketika Maizuru Naval arsenal milik Angkatan Laut Kekaisaran epang memproduksi kapal bunuh diri kayu "Shinyo," kota ini pun memutuskan untuk menginvestigasi berbagai detailnya, termasuk apakah bahan bakar tersebut digunakan di beberapa kendaraan.

Terkait kunjungan pada 26 Juli lalu, pemerintah kota dan National Institute of Technology, Maizuru College bekerja sama dalam mewawancarai 8 penduduk lokal berusia 80 tahun ke atas di balai di distrik Kamisabaka dan Shimosabaka. Mereka yang diwawancarai mengatakan bahwa dulu, pulau tersebu dijaga ketat oleh Angkatan Laut Kekaisaran Jepang sehingga tak ada satu pun yang bisa mendekati pulau itu. Meskipun begitu, mereka mengungkapkan kalau pulau kecil itu digunakan sebagai area renang bagi para angkatan laut Jepang dan keluarga personel angkatan laut juga sempat terlihat berenang di area ini sebelum Perang Pasifik pecah.

Setelah Perang Dunia II berakhir, penduduk lokal mulai bercocok tanam secara “tidak resmi” di pulau itu. Salah satu penduduk lokal, Soji Aso (81), mengatakan bahwa ia dan banyak penduduk lain menanam lobak Jepang di pulau tersebut pada pertengahan tahun 1940-an hingga pertengahan 1960-an. Saat hujan turun, mereka berteduh di dalam terowongan gudang bahan bakar.

"Aku sangat terkejut betapa tingginya pohon-pohon di pulau itu tumbuh. Dulu pulau ini memilki rel untuk trolley di depan terowongan, tapi sekarangsudah tidak ada lagi,” ujar Soji.

Pemerintah kota akan segera berunding dengan sang pemilik "pulau terlarang" Jepang ini (pemerintah nasional), dan mengembangkan pulau ini sembari menginvestigasi terowongan penyimpanan bahan bakarnya, serta membuat fasilitas ini menjadi bagian dari Situs Warisan Dunia Jepang yang sempat menampung Angkatan Laut Kekaisaran Jepang.