Share on

Teman-teman JS, tahu gak kalau ternyata, Jepang punya terowongan terpanjang kedua di dunia? Nama terowongan itu adalah Seikan Tunnel. Nah, selain dinobatkan menjadi terowongan terpanjang kedua di dunia setelah Gotthard Base Tunnel di Switzerland, Seikan Tunnel juga ternyata cukup unik lho, pasalnya, sebagian “tubuh” terowongan ini berada di bawah laut! Nah, biar gak penasaran, yuk, kita berkenalan lebih dekat dengan Seikan Tunnel!

Advertise With Us

Nah, Seikan Tunnel atau Japanese Seikan Tonneru, adalah sebuah terowongan bawah laut yang menghubungkan pulau utama Jepang, Honshu dengan Hokkaido. Terowongan ini memiliki panjang 33,4 mil (53,8 km) dengan 14,3 mil (23,3 km)-nya berada di dasar Selat Tsugaru yang memisahkan Honshu dan Hokkaido. Di dalamnya, ada sebuah jalur kereta yang pembangunannya disponsori oleh Japanese National Railways.

terowongan Jepang Seikan Tunnel japanesestation.com
Seikan Tunnel (britannica.com)

Pembangunannya sendiri dimulai pada tahun 1964 dan berlangsung selama 17 tahun hingga akhirnya selesai pada tahun 1998. Biaya yang dikeluarkan untuk membangun terowongan ini juga tidak sedikit, memakan dana hingga 538 miliar yen (sekitar 75 triliun rupiah)! Dan bukan hanya dana, pembangunannya juga memakan korban jiwa, terowongan ini dibangun oleh 3000 pekerja, namun 34 di antaranya meninggal akibat berbagai peristiwa, seperti cave-in, banjir, dan lain-lain.

Awalnya, terowongan ini akan digunakan sebagai jalur shinkansen (kereta cepat) Hokkaido. Setelah selesai dibangun, jalur shinkansen baru ini akan mengurangi waktu tempuh antara Tokyo dan Sapporo dari 10 jam menjadi hanya 5 jam saja. Kendati demikian, proyek ini bukannya tanpa masalah. Pasalnya, kereta shinkansen rupanya membutuhkan track yang lebih lebar dibanding kereta barang, karena itu, teroeongan ini membutuhkan rel ekstra agar dapat dilewati oleh semua jenis kereta.

Selain itu, kereta barang hanya bisa berjalan sekitar 110 kilometer per jam, sedangkan shinkansen 260 kilometer per jam. Hal ini dapat menghalangi laju shinkansen. Dan bukan cuma itu, sebuah shinkansen yang melaju dengan kecepatan tinggi dapat membuat sebuah gelombang kejut yang dapat membuat kereta biasa tergelincir jika datang dari arah yang berlawanan. Karena itu, solusi terbaiknya adalah memuat kereta barang ke kereta pengangkut berkecepatan tinggi agar kereta ini bisa melalui terowongan. Dengan ini, kecepatannya akan bertambah mencapai 200 kilometer per jam dan dapat melaju dengan aman tanpa gangguan.

Nah, berikutnya, mari kita berkenalan dengan fitur terunik dari terowongan ini, dua stasiun bawah laut! Ada Tappi Kaitei Station dan Yoshioka Kaitei Station. Kedua stasiun ini dibangun untuk mengevakuasi penumpang dalam keadaan darurat. Penunpang pun dapat turun dan kereta dan melakukan tur dalam terowongan, lalu mengunjungi sebuah museum berisi galeri foto dan pameran yang menjelaskan bagaimana terowongan ini dibangun, beserta peralatan apa saja yang diperlukan dalam konstruksinya sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Sayangnya, kini tur tersebut sudah tidak digelar lagi.

terowongan Jepang Seikan Tunnel japanesestation.com
Terowongan layanan yang terhubung langsung ke terowongan utama (unmissablejapan.com)

Namun pada akhirnya, meski terowongan ini terlihat luar biasa, penggunaan Seikan Tunnel sangat terbatas. Pasalnya, perjalanan udara antara Honshu dan Hokkaido lebih cepat dan memiliki biaya yang hampir sama dengan perjalanan kereta lewat terowongan ini. Memang, saat pertama kali direncanakan, ferry lah transportasi utama yang menghubungkan kedua pulau ini, dan tenggelamnya sebuah kapal ferry di Selat Tsugaru saat bencana topan pada tahun 1954 yang menewaskan lebih dari 1400 orang lah yang membuat konstruksi terowongan ini dilakukan. Namun, dengan adanya perjalanan udara yang lebih praktis, kini Seikan Tunnel hanya bisa membawa sedikit penumpang. Meskipun begitu, terowongan luar biasa ini tetap saja bisa dikategorikan sebagai penemuan terbaik abad ke-20 kan?

Nah, itulah sekilas tentang Seikan Tunnel, terowongan bawah laut terpanjang di dunia!

Sumber:

Japan Atlas Architecture

Britannica

Unmissable Japan