Berita Jepang | Japanesestation.com

doraemon stand by

Bagi Anda yang tumbuh di era 90-an, mungkin memiliki keterikatan yang cukup kuat pada tokoh Doraemon. Maka, ketika 'Doraemon Stand By Me' (yang disebut-sebut film perpisahan Doraemon dan Nobita) masuk pasar Indonesia, penayangannya begitu dinanti. Film ini baru akan resmi tayang di jaringan bioskop Blitzmegaplex pada 10 Desember mendatang. Tapi gegap gempita untuk menyambut film ini sudah terasa ketika trailer resminya keluar di internet pada beberapa bulan sebelumnya. Dengan desain poster Doraemon yang berlinang air mata, ditambah adegan dramatis yang ditampilkan di trailer, tentunya 'Doraemon Stand By Me' menawarkan sesuatu yang membuat keterikatan dengan para penggemarnya semakin terasa. Ya, kesan perpisahan memang menimbulkan kesedihan. Tapi, benarkah Doraemon akan meninggalkan Nobita? Film ini dibuka dengan latar kota kawasan pinggiran Tokyo, di mana anak berusia 10 tahun yang canggung dan ceroboh bernama Nobita tinggal. Suatu hari, di hadapan Nobita muncul seseorang bernama Sewashi dan robot kucing berbentuk bulat yang menggemaskan. Sewashi mengatakan bahwa dirinya datang dari abad ke-22, dan keturunan generasi keempat dari Nobita. Kedatangannya ke masa lalu, tak lain untuk mengubah masa depan. Sewashi berujar bahwa Nobita meninggalkan kesengsaraan pada keturunannya. Oleh karena itu ia membawa Doraemon, robot ajaib dengan berbagai alat canggih untuk membantu Nobita dalam segala hal, hingga bisa mengubah kesengsaraan keturunannya menjadi kebahagiaan. Sebelum Nobita merasakan bahagia, Doraemon dilarang kembali ke abad 22. Dan dari situlah kisah persahabatan dan petualangan Nobita dan Doraemon dimulai. 'Doraemon Stand By Me' disutradarai Takashi Yamazaki dan Ryuichi Yagi berdasarkan cerita versi manga karya Fujiko F. Fujio yang dikemas ulang dan disesuaikan. Plot cerita merupakan gabungan dari "All the Way From the Country of the Future", "Romance in Snowy Mountain", "Nobita's the night Before a Wedding" dan "Goodbye, Doraemon...". Film ini sekaligus menandai 80 tahun penciptanya. Dengan sentuhan grafis yang jauh lebih baik dari serial Doraemon yang mungkin pernah Anda tonton, 'Doraemon Stand By Me' membawa penonton bernostalgia sekaligus memberikan sensasi baru dalam mengikuti kisah para karakternya. Ekspresi dari para karakternya cukup lucu menggemaskan. Apalagi, film ini dirilis dengan format 3D. "Jangan lupa bawa tissue saat menonton," demikian potongan kalimat promosi dari distributor jelang film dirilis. 'Doraemon Stand By Me' kemungkinan besar akan membuat Anda yang terikat dengan para karakternya, merinding dengan haru (kalau Anda tipe orang yang sulit menangis). Selain cerita dalam plot yang menyentuh, hal itu juga didukung dengan musik pengiring film. Termasuk lagu 'Himawari no Yakusoku' yang dibawakan oleh Motohiro Hata sebagai penutup. 'Doraemon Stand By Me' merupakan nostalgia sekaligus perayaan untuk anak generasi 90-an di Indonesia. Menontonnya bersama teman sebaya dan tumbuh di era yang sama, tentu akan memberikan pengalaman menonton yang lebih seru.