SHARE THIS ARTICLE
vk.com
vk.com

Lebih dari satu tahun sejak Presiden Komite Olimpiade Internasional Jacques Rogge mengumumkan Tokyo sebagai tuan rumah Olimpiade 2020. Apa manfaat yang kemudian dapat diambil ibu kota Jepang ini?

Sementara di satu sisi, Tokyo masih bermasalah dengan desain stadion yang dijadikan venue utama pembukaan Olimpiade. Di sisi lain, Jepang tengah menjalankan kebijakan perekonomian yang beken disebut “Abenomics”.

Namun, sebagian besar analis mengatakan, perhelatan olahraga akbar sejagat itu akan berdampak panjang terhadap kondisi perekonomian. Sebagaimana terjadi pada kota-kota tuan rumah Olimpiade sebelumnya, macam Sydney, London, dan Brasil. Hal ini ditunjukkan menguatnya kinerja pasar saham di ketiga kawasan tersebut.

Bagaimana dengan Tokyo? Sejauh ini, JLL menilai kinerja Nikkei cukup mengagumkan, meskipun ada beberapa hambatan, termasuk perubahan kebijakan ekonomi. Demikian halnya dengan lonjakan angka-angka bisnis dan industri pariwisata.

Bukan kali ini saja Tokyo menggelar Olimpiade, sebelumnya, pada tahun 1964, kota ini untuk kali pertama menjadi penyelenggara ajang serupa. Terjadi perbaikan dan perubahan besar-besaran di seluruh negara. Di antaranya adalah pembangunan infrastruktur dan sistem transportasi umum dengan Shinkansen-nya yang luar biasa.

Hal yang sama juga akan dilakukan Jepang terkait Olimpiade 2020. Negara ini akan memperbaiki sejumlah proyek infrastruktur skala besar. Lantas apa dampak dari pengembangan

JLL dan STR Global, dua lembaga riset internasional, mengidentifikasi dampak Olimpiade terhadap kinerja perhotelan dan pariwisata pada penyelenggaraan sebelumnya. Identifikasi ini dilakukan untuk menarik kesimpulan keuntungan apa yang bisa diambil oleh Tokyo.

Pada Olimpiade 1988 di Seoul, Korea Selatan, pengunjung internasional melonjak 78 persen menjadi 5,3 juta pengunjung. Angka ini dihitung sejak 1986 hingga 1990.

Olimpiade Barcelona tercatat merupakan perhelatan dengan jumlah kunjungan internasional tertinggi kedua dengan pertumbuhan 27 persen dalam kurun 1990-1994.

Sementara Olimpiade Atlanta 1996 menstimulasi peningkatan kunjungan internasional sebesar empat persen selama medio 1994-1998. Berikutnya Olimpiade Sydney 2000 membukukan pertumbuhan 16 persen kunjungan internasional dalam rentang 1998-2002.

Namun demikian, tidak semua kunjungan internasional berkorelasi positif dengan penyelenggaraan Olimpiade. Di Beijing, kunjungan internasional justru melorot tujuh persen atau sebesar 389.000 orang pada Agustus 2008.

Selama sisa musim panas tahun itu, jumlah pengunjung menurun tajam, hingga sebesar 30 persen secara tahunan. Penurunan ini juga disebabkan puncak krisis keuangan global.

Keadaan berbalik pulih saat Olimpiade London. Pada September 2012, sebanyak 2,6 juta pengunjung mancanegara memasuki Inggris. Jumlah ini satu persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya.

Sejarah menunjukkan aliran dampak positif terhadap sektor pariwisata dan ekonomi umumnya meluas ke seluruh negara tuan rumah, seperti yang terjadi di London. Di Inggris, Eurostar membantu perjalanan ke kota-kota Eropa bagi wisatawan yang menghadiri Olimpiade London.

Jadi, kata JLL dan STR Global, sangat aman mengasumsikan bahwa Olimpiade 2020 akan berdampak luas dan jauh melampaui batas-batas kota Tokyo, Kyoto, dan Osaka. Kemungkinan terjadi lonjakan kunjungan asing sangat terbuka lebar.

Source : properti.kompas
COMMENT