Jepang selalu jadi destinasi favorit saya. Dulu, sebelum punya anak, saya sudah beberapa kali ke sana. Tapi setelah jadi ibu, rasanya jauh berbeda. Jepang tetaplah sama, tapi cara saya menikmatinya berubah total. Semuanya berubah—mulai dari cara saya menikmati traveling sampai ritme hariannya, dan bahkan prioritas saya sendiri.
Pertama kali traveling dengan anak ke Jepang, perasaan saya campur aduk antara antusias dan cemas. Dulu, itinerary saya selalu penuh dengan daftar restoran dan toko yang ingin dikunjungi. Sekarang, isi kepala saya justru dipenuhi pertanyaan seperti: “Sudah waktunya tidur siang?”, “Sudah waktunya minum susu?”, dan “Bagaimana caranya supaya anak tetap nyaman?” Proses packing pun memakan waktu dua kali lipat dan koper juga jauh lebih berat. Saya jadi belajar ternyata bepergian dengan anak bukan sekadar “mencari cara agar tetap bisa liburan”, tapi tentang menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak.
Untungnya, semua berjalan lancar sampai hari-hari terakhir. Namun, tiba-tiba ada kepanikan! Susu formula yang saya bawa ternyata habis lebih cepat dari perkiraan. Rupanya, saya salah perhitungan. Berhubung anak saya mengonsumsi ASI dan susu formula, saya tidak bisa menunggu sampai pulang ke Indonesia. Mau tidak mau, saya harus cari pengganti di sana.
Saya akhirnya menghabiskan waktu berjam-jam di lorong produk bayi di supermarket dan drugstore. Saya membaca setiap kemasan dengan teliti, membandingkan pilihan yang ada untuk menemukan yang sesuai bagi anak saya yang saat itu baru berusia satu tahun. Saya ingin mencari sesuatu yang praktis—tidak terlalu berat atau besar untuk dibawa kembali ke Indonesia.
Di tengah kepusingan dan kepanikan itulah saya menemukan Meiji Step RakuRaku Cube.
Awalnya, saya tertarik karena tampilannya berbeda, karena bentuknya bukan kaleng besar seperti susu formula pada umumnya. Bentuk kemasannya kotak yang berisi sachet individual. Yang paling mengejutkan, bentuknya bukan bubuk, melainkan kubus susu padat. Saya sempat kaget, tapi juga sangat penasaran.
Setelah mencari info lebih lanjut, ternyata konsepnya memang dibuat supaya praktis dan gampang diukur. Karena berbentuk kubus, tidak perlu lagi menggunakan sendok takar. Tinggal hitung jumlah kubus yang dibutuhkan, masukkan ke dalam botol, tambahkan air panas, dan selesai. Sangat simple dan anti-ribet! Tanpa berpikir panjang, saya langsung membelinya.
Saat mencoba pertama kali, saya langsung kagum dengan kepraktisannya. Tidak perlu repot membuka kaleng besar di kamar hotel yang sempit. Tidak ada bubuk yang berantakan ke mana-mana. Kemasan individualnya membuatnya praktis dan higienis. Kubusnya juga cepat larut meskipun berbentuk padat. Yang membuat saya makin merasa aman dengan produk ini adalah tidak adanya tambahan gula.
Bahkan, setelah kembali ke Indonesia, saya tetap menggunakan susu ini. Saya bahkan membeli beberapa kotak untuk oleh-oleh buat teman-teman yang memiliki anak seusia. Saya ingin berbagi penemuan kecil ini, terutama karena sangat memudahkan rutinitas harian. Kalau sedang bepergian, saya tinggal memasukkan sachet kubus ini ke dalam tas—tanpa khawatir tumpah.
Lucunya, sekarang setiap ada teman yang bilang mau ke Jepang bersama anak kecil, saya selalu cerita soal “krisis susu formula” ini. Biasanya saya bilang, “Coba deh ini. Buat jaga-jaga.”
Perjalanan ke Jepang kala itu mengajarkan saya bahwa menjadi ibu berarti terus belajar menjadi lebih fleksibel. Kadang, solusi terbaik justru datang dari situasi yang tak terduga. Selama kita tetap tenang, pasti akan ada jalan keluar.
Traveling dengan anak memang kerap kali tidak terasa seperti liburan yang bisa santai begitu saja. Ada saja "krisis" di tengah jalan. Namun, dengan sedikit kreativitas dan penemuan-penemuan kecil seperti ini, traveling bisa dibawa lebih ringan.
Jujur saja, saya sudah tidak sabar menantikan perjalanan kami berikutnya!