SHARE THIS ARTICLE

halloween-in-japan

Walau Jepang memiliki liburan dan festivalnya sendiri (yang beberapa diantaranya cukup aneh daripada yang lain), negeri tersebut juga mengadopsi banyak liburan dari luar negeri. Hari Valentine dirayakan di Jepang, dan Natal dirayakan secara luas, meskipun hanya sebagian kecil dari populasinya yang sebenarnya beragama Kristen.

Tapi bagaimana dengan Halloween?

Photo by Danny Choo.

Perayaan Halloween adalah fenomena yang relatif baru di Jepang. Kini mereka memiliki dekorasi ceria berwarna oranye dan hitam di toko-toko, pesta dan parade kostum (cosplay), serta permen bertema Halloween.

Photo via japanvisitor.com.
Photo via inventorspot.com.

Jepang sebelumnya tidak mengenal Halloween selama bertahun-tahun. Orang-orang Jepang baru benar-benar mulai merayakan Halloween dalam dekade terakhir.

Dua hal yang benar-benar membuat Halloween muncul di Jepang adalah Tokyo Disneyland dan Universal Studios Japan (USJ). Dan mereka telah melakukan ini dalam dekade terakhir. Tokyo Disneyland mengadakan acara Halloween pertama pada tahun 2000, dan setiap tahun acara itu menjadi semakin besar. Begitu juga untuk USJ di Osaka. Sebelumnya, Halloween di Jepang hanya berarti orang-orang asing yang memakai kostum lucu di bar dan minum-minum di transportasi umum. Tapi Tokyo Disneyland dan USJ memberikan cara mudah bagi orang Jepang untuk menikmati Halloween.

Di Barat, Halloween sangat terkait dengan kematian. Tapi di Jepang, tidak terlihat seperti itu, Halloween adalah hari libur yang diimpor dari Amerika. Halloween tidak memiliki hubungan dekat dengan kematian seperti Obon, sehingga membuatnya agak abstrak di Jepang. Itu tidak berarti Halloween tidak bisa menakutkan di Jepang, ada peningkatan jumlah rumah hantu selama musim gugur tahun ini.

Pada bulan Agustus, ada liburan Obon, ketika roh dari orang yang telah mati melakukan kunjungan ke kuil rumah-rumah dan ketika para keluarga membersihkan makam almarhum anggota keluarganya. Belakangan ini, beberapa orang pergi berlibur atau hanya bersantai di rumah untuk merayakan Obon. Namun, gagasan seram tetap ada, dengan orang-orang menceritakan kisah-kisah menakutkan di TV. Selama musim panas, orang-orang menceritakan kisah-kisah seram tradisional untuk membuat mereka merinding. Yurei, atau roh pendendam, sering muncul dalam cerita-cerita tersebut.

Dunia Barat memiliki berbagai macam hantu, dari hantu pendendam yang menakutkan, hingga hantu yang lucu dan ramah. Namun Yurei tidaklah lucu. Mereka tidak ramah. Karena itu, banyak orang tidak pernah melihat “Yurei” dipasarkan dalam bentuk mainan. Sebaliknya, perusahaan mainan menggunakan “obake” (hantu), yang tampak lebih lembut. Terlebih lagi, Obon tidak dipasarkan dengan cara yang sama seperti Halloween dan tidak menginspirasi berbagai barang dagangan.

Halloween di Jepang tidak seperti Halloween di Amerika Serikat. Anda melakukan trick-or-treat di lingkungan di Amerika, dan bahkan jika Anda tidak mendapatkan permen, orang memahami apa yang Anda lakukan. Namun tidak demikian di Jepang.

Jika ada satu hal yang orang-orang Jepang dapatkan tentang Halloween adalah barang dagangannya, yang berkisar dari labu kecil (yang berukuran normal sangat mahal), kue-kue, es krim, dan banyak lagi. Anda kini dapat melihat berbagai dekorasi Halloween di toko-toko dan bahkan di beberapa acara TV, hal yang Anda tidak pernah lihat satu dekade yang lalu.



Perayaan ini tidak semuanya komersil. Di kota-kota utama Jepang seperti Kobe dan Tokyo, orang-orang (dan kadang-kadang hewan peliharaan) memakai kostum dan turut ambil bagian dalam parade Halloween dan berjalan-jalan. Ribuan orang berbaris dalam parade, semua orang dari anak-anak kecil yang menggenggam tangan orang tua mereka hingga orang-orang tua yang hanya ingin berdandan dalam balutan kostum.

Di Jepang, Halloween memungkinkan orang Jepang berkesempatan untuk menikmati lagi suasana seram, namun sedikit lebih riang.

Source & photos: kotaku.com, www.tofugu.com, www.megumiohori.com, & hween.wordpress.com

COMMENT