SHARE THIS ARTICLE
Review Attack on Titan 0 media.comicbook.com
Image Source: media.comicbook.com

Yang namanya sebuah adaptasi pasti tak akan luput dari perbandingan-perbandingan dengan sumber aslinya, dan kala si sumber itu sepopuler dan sedahsyat manga dan anime Shingeki no Kyojin dengan popularitas setinggi awan yang bahkan bisa menembus crossover dengan Marvel, tak heran kalau ekspektasi para penontonnya ikut meroket juga. Hmm, mungkin banyak yang awalnya pesimis karena tak bisa membayangkan, bagaimana SnK yang sangat ‘anime’ dan ‘manga’ dibikin live-action-nya, tapi mungkin ada segelintir dari kalian yang ‘termakan’ oleh suguhan trailer-nya yang ternyata bisa tampil cukup keren dan tampak menjanjikan banyak adegan aksi yang ciamik.

Review AoT 1 spinoff.comicbookresources.com
Image Source: spinoff.comicbookresources.com

Eh, ternyata banyak ekspektasi yang runtuh dengan begitu mudahnya. Kenapa? Satu hal yang penting menurut saya, adalah karena kita tidak menyangka akan adanya perubahan sudut pandang yang bisa dibilang drastis dari sumber asilnya. Kalian yang mengharapkan parade aksi keren sudah pasti akan kecewa (apalagi karena di-PHP trailer-nya, hehe), karena Attack on Titan yang satu ini memilih untuk mengambil pendekatan yang sangat manusiawi ketimbang menjual aksi. Ia berusaha membuat penonton masuk ke dalam dunianya dengan tetap memposisikan kita sebagai manusia. Pernah berpikir bagaimana rasanya kalau kota kita tiba-tiba diserbu, diacak-acak dan mengalami pembantaian massal oleh para Titan? Ya, beginilah ngerinya, dengan darah dan potongan-potongan tubuh berserakan di mana-mana. Dua jempol deh untuk para staf yang sukses membuat para Titan tampil sangat disturbing.

Review AoT 3 pointofgeeks.com
Image Source: pointofgeeks.com
Review AoT 2 titan youtube.com
Make-up Titan. (Image Source: youtube.com)
Review AoT 3b comicbookmovie.com
Image Source: comicbookmovie.com

Perubahan karakter di sana-sini juga mengundang protes dari banyak penggemar (termasuk saya), dari mulai kenapa Armin nggak bule dan Levi kaichou si kapten idola absen dari adaptasi yang satu ini. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, Attack on Titan live-action ini memang tidak bertujuan untuk menjadi adaptasi yang setia dengan sumber aslinya, dan karenanya, harus ada sejumlah elemen krusial yang diubah untuk dapat masuk ke dalam formula baru film ini, tak terkecuali perubahan para karakter yang sebenarnya sekaligus juga berfungsi untuk membantu para fans ‘move on’ dari imej para karakter anime dan manga-nya yang sudah begitu kental nempel di otak kita. Armin manga dan anime, ya Armin manga dan anime. Armin di film, ya Armin di film (biarin masih tetep uke, #menggampardirisendiri).

Review AoT 4a heavymetal.com
Image Source: heavymetal.com

Tapi, kekecewaan saya muncul dalam diri Shikishima yang memang di film sedikit banyak mengisi kekosongan yang ditinggalkan Levi. Dia memang bukan Levi, tapi saat Levi yang tidak berusaha kelihatan keren malah terlihat keren, yang terjadi pada Shikishima justru sebaliknya. Dia asik main Twlight-Twilight-an sama Mikasa dan nonton dengan santai di atap gedung kala pasukan Eren, dkk jadi korban pembantaian para Titan di bawah sana. ‘Hoooy Pak, anda kapten loh!‘ kontan saya teriak (dalam hati). Sejumlah adegan yang rasanya konyol juga unfortunately harus saya jumpai di sini, mulai dari sekuat-kuatnya orang kok bisa nge-smack down titan, sampai Sasha yang saya nggak habis pikir ngapain bawa-bawa panah padahal udah jelas nggak akan guna.

Review AoT 5 spinoffcomicbookresources.com
Image Source: spinoffcomicbookresources.com

Anyway, kualitas setting dan CGI Attack on Titan bagi saya patut diacungi jempol, apalagi karena tingkat kesulitannya yang memang menuntut penerapan CGI dalam jumlah besar, meski sejauh ini saya masih paling kesengsem sama begitu mulusnya Migi dihidupkan di Parasyte. Walaupun masih terdapat kekurangan di sana-sini, pendekatan  manusiawi yang diambil juga bisa saya pahami dan hargai untuk membuat para audiens lebih bisa relate dengan para karakternya — dari bagaimana rasanya kehilangan orang-orang terkasih, ketakutan menghadapi kematian yang hampir pasti, dan keinginan untuk ber-icha-icha (alias ber-iya-iyalah) bersama kekasih tercinta (atau sama Haruma Miura) untuk pertama atau terakhir kalinya — semuanya sangat manusiawi dan hampir menghadirkan atmosfer layaknya zaman perang, di mana setiap hari kita tidak tahu akankah masih cukup beruntung untuk dapat melihat matahari terbit esok hari. Terkait masih minimnya adegan aksi dan masalah Shikishima, saya prediksi akan lebih dibereskan di Part 2-nya. Mungkin supaya sang kapten tidak membuat karakter Eren (yang masih banyak galau di Part 1 ini) berada dalam bayang-bayangnya, supaya dengan kekuatan Titan-nya, Eren bisa ‘menghukum’ Shikishima si kapten sok ganteng dengan merebut Mikasa dari pelukannya. Apakah kalian juga punya harapan yang sama?

Review AoT eren
Image Source: comicbookmovie.com

NOTE: Bagi kalian yang berminat menulis review anime, game, film, etc yang berhubungan dengan Jepang, silakan mengirimkan tulisan kalian ke JS Contributor. Artikel tidak boleh mengandung SARA, dan merupakan tanggung jawab masing-masing penulis. Redaksi akan memilih artikel yang layak dimuat dan isi artikel di luar tanggung jawab redaksi.

COMMENT