SHARE THIS ARTICLE
Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe (tengah) beserta menteri dari kabinetnya saat kunjungan ke Kuil Ise di Ise, Jepang tengah kemarin. Pemerintah Jepang meminta maaf untuk kejahatan perang yang dilakukan selama Perang Dunia II.
Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe (tengah) beserta menteri dari kabinetnya saat kunjungan ke Kuil Ise di Ise, Jepang tengah kemarin. Pemerintah Jepang meminta maaf untuk kejahatan perang yang dilakukan selama Perang Dunia II.

Puluhan tahun Jepang menolak tuduhan sebagai pelaku kejahatan perang, kini akhirnya negeri Sakura berani meminta maaf atas kejahatan yang mereka lakukan selama Perang Dunia (PD II).

Permintaan maaf mungkin bisa meluluhkan hati setiap orang yang terluka, tapi nampaknya tidak untuk para Jugun ianfu atau budak seks Jepang selama masa PD II. Para perempuan yang menderita selama masa 1930-1940-an menuntut lebih dari sekadar permintaan maaf, tapi juga tindakan nyata sebagai bentuk penyesalan dari pemerintah Jepang masa kini.

Namun, Perdana Menteri Jepang saat ini Shinzo Abe hanya bisa memberikan permintaan maaf dan berharap para Jugun ianfu, terutama yang berasal dari China dan Korea Selatan (Korsel) mengerti keadaan Jepang saat ini. Abe tentu tak ingin dua tetangganya itu selalu mengungkit-ungkit masalah tersebut sebagai pelanggaran hak asasi manusia. Jugun ianfu merupakan masalah klasik yang seharusnya dipertanggungjawabkan oleh pejabat lama Jepang, bukan pemerintahan Jepang saat ini.

Setidaknya itulah pandangan Abe beberapa tahun silam. Kini negeri Sakura sadar bahwa generasi lama mereka telah melakukan kejahatan paling keji di dunia dan meninggalkan luka mendalam bagi sedikitnya 200.000 Jugun ianfu asal China dan Korsel. Atas nama kemanusiaan, Abe dan segenap jajaran pemerintah Jepang akan merekam pemikiran mereka dan mengeluarkan permintaan maaf untuk semua Jugun ianfu di China, Korsel, dan negara Asia lainnya pada 15 Agustus mendatang saat peringatan 70 tahun berakhirnya PD II.

“Selama agresi kolonial Jepang menyebabkan banyak penderitaan, terutama kepada orang-orang di Asia. Hal itu terasa sangat disesali dan kami menawarkan permintaan maaf tulus bagi mereka yang menderita,” kata Abe dalam konferensi di Kuil Shinto di Jepang tengah yang dilansir channelnewsasia. Abe tak lagi bersikukuh menolak tudingan barat dan sekutunya yang menyebut Jepang sebagai penjahat perang yang keji.

Jepang menerima kenyataan tersebut dan berusaha memperbaiki kesalahan di masa lalu. Mereka berharap upaya itu dapat menyelamatkan hubungan Jepang, China, dan Korsel yang kini sangat renggang. Perdana Menteri mungkin ingin menggunakan permintaan maaf untuk menyelamatkan hubungan diplomatik dengan para tetangga, tapi ternyata hal itu bukanlah suara mutlak dari seluruh warga Jepang.

Terbukti, sayap kanan Jepang mendesak Abe mencabut permintaan maaf tersebut karena dianggap tak perlu. Tapi Abe tak punya pilihan di tengah tekanan dunia internasional dan krisis ekonomi. Jepang sedang membutuhkan banyak dukungan. Abe harus berupaya mengambil hati China dan Korsel yang beberapa waktu sempat geram dengan kunjungan Jepang ke Kuil Yasakuni yang sering dianggap sebagai simbol imperialisme Jepang.

Di kuil tersebut Jepang melakukan serangkaian upacara peringatan korban perang Jepang, termasuk penjahat perang yang dihukum setelah PD II. Prosesi ini dianggap tidak menghormati korban kejahatan perang Jepang dari Asia, terutama China dan Korsel. Abe berharap permintaan maafnya kali ini dapat mengobati sedikit luka para Jugun ianfu.

Barangkali di kemudian hari Jepang bisa melakukan hal yang lebih besar untuk membuat semua korban perang Jepang mendapat ganti rugi setimpal. “Selama 80, 90, dan 100 tahun ke depan kami harus membuat kontribusi lebih lanjut dan lebih proaktif untuk Asia Pasifik di bawah bendera pasifisme (perlawanan terhadap perang),” ujar Abe.

Source : koran-sindo.com
COMMENT